Minggu, 25 Agustus 2019

Sehari di Taipei

Libur seharian di taipe?

Asalamualaikum 

          Mungkinkah, libur sehari saja di Taipei sudah dapat berkunjung ke banyak tempat, seperti sebuah istilah umum “Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui”. Kenapa tidak, sekalipun bila di bandingkan dengan negara tercinta, biaya yang harus di keluarkan di negara keturunan orang Cina ini lebih besar. Namun gak menutup kemungkinan untuk kita yang lagi kere, atau berbiaya minim tidak dapat menikmati keindahan Taipei lo. Sebagai ibu kota negeri Formosa, Taiwan, cukup banyak daerah wisata yang cukup menarik dan tentunya murah bagi para pelancong maupun PMI.  Terutama bagi teman-teman yang sudah berada di Taiwan dan bingung ketika ingin liburan, dan bagi yang masih di Indonesia ya perlu lebih banyak pengeluaran tentunya. Terlebih, bekerja di Taiwan memang tak sebebas di banyak negara lain, terutama dalam meminta libur atau cuti.
           Seperti minggu kemarin, tepatnya di tanggal 18 Agustus sehari setelah hari kemerdekaan Indonesia. Bertepatan pula dengan sembahyang bulan hantu, entahlah apa maksudnya itu, tapi mereka memiliki kepercayaan yang cukup banyak tak ku ketahui. Juga keadaan yang tidak memiliki banyak alat pembayaran, yah biasa telat atau mungkin di sengaja. Namun janji yang sudah tersusun beberapa bulan lalu harus tetap terlaksana sekalipun hujan berkunjung. Untungnya tempat yang ku huni dekat dengan MRT, sehingga memudahkan ku untuk menjelajahi beberapa tempat wisata di Formosa ini. 


          Tempat pertama yang menjadi tujuanku saat itu adalah Tsamsui, terletak paling pojok di jalur merah MRT. Menariknya, di tempat ini selain di suguhi pemandangan yang cukup menarik, ada tempat lain yang menjadi daya tarik tersendiri. Ialah Bali, iya Bali tempat itu juga bernama Bali mirip pulau dewata kebanggaan Indonesia. Sama-sama harus menyeberang untuk kesana, juga sama-sama memiliki pantai yang indah. Namun keindahannya aku tak dapat menjelaskan, ya memang aku tak pernah berkunjung ke pulau pemilik tari pendet itu.




          Untuk menyeberang ke Bali, di anjurkan untuk menggunakan kapal yang sudah di sediakan di sana. Hanya dengan membayar 65 Nt, atau setara dengan Rp. 29.000 kita dapat pelayanan untuk pulang pergi dari Tsamsui ke Bali. Sama seperti pantai atau tempat wisata lainnya, selain di suguhkan pemandangan yang indah, banyak penjual makanan maupun suvenir di sana.
       Setelah merasa cukup, segera ku putuskan menuju tempat lain yang masih berada di jalur merah. Chiang Kai Shek Memory Hall atau sering di sebut CKS, yang terdiri dari beberapa bangunan bersejarah di masanya. Jarak antara bangunan satu ke yang lain juga tidak cukup jauh, sehingga pengujung dapat leluasa mengambil gambar di sana. Setelah puas mengelilingi museum itu kami memutuskan untuk ke stasiun Taipei, menurutku di sinilah tempat paling menarik. 


       Selain menjadi pusat stasiun di Taipei, juga menjadi tempat wisata yang banyak di minati oleh pengunjung, termasuk para imigran yang menetap di sana maupun sementara. Mengapa demikian, tentu saja selain tempatnya yang terjangkau oleh banyak kendaraan, terutama bis yang juga menjadi terminal bis dari luar maupun dalam kota. Tempat itu juga cukup luas, tak heran bila sering kali di adakan kegiatan di sana. Terutama dari para PMI itu sendiri, contohnya di minggu kemarin bertepatan kemerdekaan Indonesia . Organisasi Islam di Taiwan mengundang Gus Miftah untuk mengisi pengajian di sana. Selain itu juga banyak di adakan lomba Agustusan dari berbagai komunitas resmi Indonesia di Taiwan. Juga ada pertunjukan reog Ponorogo yang berasal dari wilayah penulis di Indonesia. Terasa di negara sendiri, di kelilingi banyak teman dengan berbagai bahasa, budaya juga wilayah tentunya. Ada rasa bangga ketika tak hanya warga negara Indonesia saja yang menjadi penonton dari serangkaian perataan tersebut. 




       Aku bahkan bertemu dengan beberapa warga Jepang, Korea juga warga taiwan itu sendiri. Namun hal yang lebih penting adalah rasa rindu yang terobati setelah cukup lama berada di tengah-tengah warga asing, dengan bahasa asing pula. Jadi tak heran, bila banyak air mata yang tertumpah saat bertemu kawan-kawan di sana. Sehari mendengar sekeliling dengan bahasa yang sama, itu sungguh luar biasa bagi kami. Setidaknya mampu sedikit menjadi obat rindu pada kampung halaman yang terpaksa di tinggalkan. 
      Mungkin bagi sebagian orang terlihat cukup lebay atau terlalu berlebihan, namun bagi mereka yang merasakan merantau. Jauh dari keluarga, sodara, bahkan dengan bahasa yang berbeda itu akan menjadi pemahaman lain. Setidaknya banyak hal yang dapat kita ambil hikmahnya dari merantau, terutama di saat hari-hari besar nasional yang hanya mampu kita dengar dari telepon maupun berita saja. Namun itulah risiko yang harus di tanggung para rantau an, yang bahkan ketika sakit pun kita tetap di tuntut untuk profesional. Pokoknya ngalahin artis yang lagi akting baik-baik saja sampai bahan tangis gitu, yang jelas sakitnya itu beneran. 
      Oya di stasiun Taipei ini jangan di bayangin bakal nemuin pemandangan layaknya stasiun lain ya, tentunya berbeda dong. Apalagi menjadi tempat favorit PMI nongkrong di sana, dan kalau rindu makanan Indonesia tercinta. Di sekitar sana ada kok penjual atau warung-warung yang nyediain makanan kas Indo banget. Lalu ada satu kereta mati yang dapat di pakai untuk Selfie, atau beberapa patung dan baygroun di sana juga bagus. 
       Lalu selanjutnya mari kita berselancar ke bawah tanah, yang sangat panjang dan berliku-liku layaknya sarang semut. Kalau di sini penulis paling gak bisa kalau gak beli, pasti sekalipun cuma baju murahan, jam atau aksesorisnya lainnya yang bikin ngiler banget bagi yang doyan belanja. Ada dua arah yang wajib di jelajahi arah memanjang yang menuju pintu keluar dari Y1-sampai Y21 apa lebih ya, soalnya aku pribadi gak pernah sampai ke sana. Paling juga Cuma ke Y13 yang menjadi jalan keluar terdekat menuju rumah si bos. Namun jangan sala, keluar dari bawah tanah kita masih akan di suguhi pemandangan yang menggoyang lidah. Apalagi kalo bukan pasar malam Ning Xia, jajanan khas Taiwan di suguhkan dengan menarik di sana. Selesai dari pasar malam kita menuju Carefour, yang terletak di samping kantor polisi.
      Sampai di sini saja ya ulasan ku tentang beberapa tempat menarik di Taiwan, masih banyak sih namun aku sendiri belum cukup puas menikmati wisata di sini. Jadi bagi yang ingin liburan ke Taiwan, terutama yang dari Indonesia. Jangan lupa untuk cari info dulu ya, biar tidak kesasar maupun salah ambil tempat yang seharusnya di kunjungi di sini. Semoga tulisan yang acak-acak kan ini cukup berguna bagi semua, terutama bagi penulis sendiri. Wassalamualaikum wr. Wb.

Senin, 05 Agustus 2019

Menua (cerpen)

Tantangan dari mbak @riana
Tema : perpisahan

Menua ???


Di musim panas yang sering bikin meriang, apalagi sering kali  butiran-butiran bening yang  selalu datang keroyokan itu tak pernah memberi kabar.  Taman kota yang beberapa bulan lalu masih menjadi tempat favorit untuk saling meluapkan bualan, atau mengumbar segala cerita dari para Lambe turah yang memang datang dari pengangguran. Para warior, warga senior atau orang tua yang merasa hidup lebih lama, yang tak mendapat uang pensiunan hanya bantuan pemerintah untuk meringankan beban. Kini hanya terisi sekelompok tunawisma yang memilih rebahan di sana, sedang para orang tua berserta penjaganya itu  tengah asyik bercemkraman di pusat belanjaan, Ngadem. Tak jarang pula kini obralan lebih menarik dari sekumpulan Semanggi berdaun empat yang mulai bermekaran.

“ Apaan sih bikin status aneh begitu “ Tulisnya di inbox beberapa detik kemudian setelah ku buat status  facebook
“ Kan sedang ngetren “ Balasku kemudian
“ Bukan berarti kita juga ikut-ikutan kan “ Tulisnya lagi
“ Tapi apa salah nya berharap seperti itu, menua bersama seseorang yang kita cintai apa itu salah “ Balasku mulai kesal

Iya sih, dia memang bukan tipe orang yang suka ikut-ikutan sesuatu yang sedang rame kala ini. Namun bukan berarti dia ketinggalan jaman ataupun gagap teknologi, hanya saja dia memang tidak menyukai sesuatu yang menurutnya aneh dan tak bermanfaat itu. Seperti kala ini, jangankan orang-orang biasa seperti kita, bahkan kalangan artis juga sudah banyak yang memakai aplikasi itu. Bukankah hidup sudah cukup susah, kenapa harus lurus-lurus saja sekali-kali bertingkah gila atau norak itu hal biasa bukan. Apalagi di sela-sela rutinitas yang melelahkan ini, jauh dari keluarga pula. Tapi ya sudahlah, sebagai seorang penulis yang memilih untuk mengasingkan diri, gadis manis yang ku kenal sejak di sini itu tetap keuh-keuh.

“ Tapi aku sudah lelah “ Jawabnya kemudian
“ Itu bukan alasan masuk akal” balasku cepat
“ Aku tak ingin sampai seperti itu, terlihat lemah dan peot “ Tulisnya “ Cukuplah melihat anak-anakku menemukan belahan jiwanya, berkeluarga dan hidup bahagia, tanpa ada aku yang mungkin akan merepotkannya “ Lanjutnya “ Bukankah mereka sudah sibuk dengan tanggung jawab yang besar pula, haruskah kita ikut mengusik dan merepotkannya juga, tak mungkin dalam keadaan serenta itu kita dapat melakukan apapun sendiri tanpa mengusik anak-anak kita, tak mungkin bila kita dapat hidup hingga setua itu tak ada keluhan penyakit “ Aku tertekun, meresapi kalimat demi kalimat yang di tulis sahabatku itu.

Ku lirik wanita-wanita senior yang kini sedang bercemkraman, membahas banyak hal yang tak pernah ku pedulikan. Sesekali terdengar tawa dari candaan yang mereka lontarkan, sebelum beberapa mulai mengeluhkan penyakit-penyakit yang datang serta biaya yang tak sedikit terpaksa di keluarkan.

Salah seorang dari mereka adalah wanita lansia yang masih terlihat paling sehat di antara yang lain, ia dapat berjalan sendiri sekalipun lambat-lambat, memasak, bahkan menaiki tangga yang cukup tinggi itu sendiri. Namun tak jarang pula ia mengeluh dengan beberapa penyakit yang mulai datang juga beberapa kesulitannya untuk melihat lebih jelas.

Beberapa dari mereka bahkan banyak yang harus sering bolak-balik rumah sakit untuk kontrol, cek ini dan itu serta melukakan beberapa terapi yang entah kapan akan berakhir. Meminum obat yang tak sedikit jumlahnya, bahkan sering kali harus menahan makan makanan yang mereka inginkan.


Lalu, mungkinkah mereka dapat melakukan itu sendiri tanpa bantuan orang lain, tidak. Sekalipun mereka telah memiliki seorang penjaga, bukankah mereka menggunakan uang anak-anaknya. Sekalipun mereka memiliki uang simpanan, mereka tak akan mampu mengolahnya sendiri bukan, di situlah kadang mereka merasa wajar bila anak-anak mereka yang harus memeras otak untuk kebutuhannya.

“ Aku sudah susah payah membesarkannya hingga SE sukses itu, wajar kan kalau kini aku meminta hal yang sama “ Lontar seorang nenek
“ Bukannkah mereka sudah cukup berat dengan keluarga mereka “ Tanyaku lagi
“ Ya itulah hidup “ Jawabnya singkat tanpa peduli tanda tanya yang masih mengambang di kepala ini

Ya mungkin banyak dari para orang tua berpikir seperti itu, bahkan tak jarang mereka juga mulai ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Sehingga banyak terjadi pertempuran barang rumahan yang telah berubah fungsinya, hingga berakhir kata pisah yang memutus langsung hubungan keduanya.

“ Anakku yang bungsu minggu depan menikah say, lusa aku akan pulang ke Indo “ Tulisanya membuyarkan lamunanku
“ Oh Iya ce, salam buat keluarag ya “ Balasku ikut senang, mengingat ia begitu gigih berjuang selama ini
“ Iya say, kamu jaga diri baik-baik ya “ Tulisnya lagi “ Jangan ngeluh terus “ Lanjutnya yang ku balas dengan stiker saja, sebab saat itu aku memang cukup sibuk menjaga nenek yang entah mengapa hari ini begitu rewel.


Hingga beberapa jam kemudian tak juga ku temukan inbox darinya, bahkan keesokan hari dimana hari kepulangannya tak juga ku dapat salam perpisahan darinya.
“ Mungkin kah dia marah “ Pikiran itu terus berkumul di kepalaku, selain merasa bersalah aku memang tipe orang yang gampang rasa sehingga sering merasa tak enak sendiri.
Status di Fb sudah ku hapus, walau masih tersimpan di memori hp sehingga tak mungkin ia mengetahuinya bukan.

Fikiran tak enak itu makin menjadi, kala ku sambangi beranda Fb nya yang sepertinya tak tersentuh beberapa hari ini. Inbox yang ku kirimnya tak di gubrisnya juga pesan via WhatsApp yang hingga kini masih centang satu.
“ Say aku pamit ya, maaf bila ada salah kamu jaga diri baik-baik ya say dan jangan boros “ Sebuah Sms via wa darinya masuk beberapa menit setelah ku merasa putus asa
“ Iya ce, hati-hati kalau sudah sampai jangan lupa kasih kabar ya “ Kirimku cepat seiring berita live yang di siarkan di TV

Aku tercekat, segera saja ku pandangi sebuah foto tiket yang beberapa saat lalu masih sempat di kirimnya. Kalimat demi kalimat yang keluar dari pembawa acara TV itu membius ku, seolah tak percaya segera ku ganti Channel untuk kepastian berita mendadak itu.

Aku terkulai lemas, lutut ku terasa mati rasa begitupun tubuhku bergetar hebat seiring deraian air mata yang meluap tanpa mampu ku bendung. Aku tak percaya, dan tak akan pernah percaya, burung besi yang membawa sahabatku itu pergi untuk selama-lamanya . Aku sesenggukan gelak tawa serta senyum tengahnya masih terbayang di pelupuk mata. Ini tak adil, mengapa ia harus bengi begitu cepat setelah ia harus begitu lelah menanggung beban. Dan kini akhir dari perjalanan panjangnya, ia harus berakhir tanpa mampu menikmati hasil jerih payahnya.

Tiba-tiba rasa benci menyeruak bebas, pada ketiga adiknya, pada suaminya, juga pada anak-anaknya yang terus merengek-rengek atas hasil kerja kerasnya selama ini. Merekalah yang tega terus menerus memeras keringatnya, memeras seluruh tenaga dan pikirannya. Merekalah yang tak pernah mau tahu perjuangan beratnya selama di rantau an, dan karena mereka pulalah kini sahabat terbaik ku pergi untuk selama-lamanya.



Jum’at, 26 Juli 2019                             12:07
Datong, taipe

Sabtu, 03 Agustus 2019

陣頭 (Din Tao: Leader of the Parade)

 陣頭 (Din Tao: Leader of the Parade)

Kategori : review film
Oleh.  : Ifa Cahyani (aiay)





Adalah sebuah film tentang festival kebudayaan Taiwan, yang mana dalam film ini Alien Huang(黃鴻升)  salah satu artis Taiwan kegemaran penulis beradu akting dengan Alan Ko (柯有倫, AKA Allen Ko), yang menjadi pemeran utama dalam film ini. Ya walau si tampan 黃鴻升 menjadi pemeran kedua, namun penampilan lelaki kelahiran 28 November 1983 itu tetap saja memukau.
Di sini 黃鴻升sebagai Ah Xian  Putra Wu Zheng, kepala resimen Zhentian, yang menjadi rival pemeran utama. Ah Xian mahir dalam semua bidang Din Tao, tetapi selalu egois, dan suka menantang dirinya sendiri untuk membuktikan dirinyalah yang paling hebat. .

Awalnya Ah Tai terpaksa sekolah musik di Taipe, keluar dari tanah kelahirannya Taichung setelah ketahuan oleh ayahnya sendiri yang seorang fanatik Din Tao, sedang mencoret-coret 太子 (Taizi ) semacam ondel-ondel Taiwan yang biasanya juga di beri nama lain di samping Taizi yang berarti juga pangeran. Ayahnya murka, tentu saja selain berbentuk boneka seukuran manusia, Taizi termasuk  yang harus di hormati seperti para dewa mereka.
Setelah dewasa ia kembali lagi ke Taichung, ya walau awalnya Ah Tai tidak berkeinginan untuk terjun langsung dalam dunia Din Tao, ia ingin mencari uang dan melanjutkan studinya ke Amerika. Namun karena suatu hal yang tak dapat ia Ingkari, ia harus berusaha keras mengembangkan pertunjukan Din Tao itu.





Berawal dari saat ayahnya menghampiri seorang yang menitipkan anaknya , dia juga mengeluh sudah banyak sekolah yang tidak sanggup menjaga Lízi. Apalagi Lizi memang menyandang kebutuhan khusus atau tidak normal, namun justru Lizi lah yang nanti menjadi penyemangat para anggota lain.
Secara kebetulan mereka bertemu dengan Ah Tai yang sedang ikut sebuah seni musik 西索米 (Xī suǒ mǐ). Ayah Ah Tai marah dengan apa yang di lakukan Ah Tai, sepanjang perjalanan pulang mereka terlihat saling beradu mulut. Bahkan saat mereka terpaksa mendorong kendaraannya yang mogok, mereka masih tampak saling menyalahkan. Hingga mereka bertemu dengan kelompok Ah Xian yang kemudian saling mengejek hingga terjadi perkelahian,  perkelahian itu berakhir dengan Ah Tai yang berjanji memenangkan kontes Din Tao enam bulan ke depan. Mendengar janji Ah Tai tentu saja membuat kelompoknya kesal, apalagi mereka tahu siapa kelompok Ah Xian yang terkenal akan atraksinya. Dan terlebih bila mereka kalah, mereka harus meninggalkan Taichung
Ah Tai tidak menyerah, ia terus memberi semangat teman-temannya untuk tetap semangat. Walau berkali-kali mereka hampir menyerah dan terus mengeluh, apalagi Ah Xian sering kali mengejek latihan mereka. Namun Ah Tai terus berusaha mencari agar semangat teman-temanya kembali bangkit.
Di sinilah peran Lizi sangat keren menurutku, karena lelaki itu terus saja membuat semangat yang lain memabara, bahkan saat Ah Tai tidak ada, mereka melakukan pertunjukan yang cukup memukau.
Semangat mereka kembali bangkit, bahkan mereka melakukan latihan lebih extra, berjalan kaki sambil membawa alat tabuh. Di sela-sela latihan mereka juga ada pertunjukan Ah Xian yang cukup memukau.


Ah Tai dan teman-temanya semakin semangat berlatih, bahkan di sela-sela latihan mereka sempat bertemu seorang wartawan TV yang akhirnya terus meliput kegiatan mereka.
Melihat kelompok Ah Tai yang masuk TV tentu saja membuat Ah Xian kebakaran jenggot. Akhirnya mereka membuat tantangan lain, yaitu siapa yang dapat sampai lebih dulu di atas gunung adalah pemenangnya.
Karena sudah berlatih keras dan sering kali berjalan jauh, tentu saja kelompok Ah Tai terlihat lebih fit di banding kelompok Ah Xian yang sudah terlihat kelelahan. Bahkan saat naik gunung salah satu anggota Ah Xian sempat terjatuh, namun karena ambisinya untuk menang, membuat Ah Xian tidak perduku dan terus saja menaiki gunung. Kelompok Ah Tai yang melihat segera menolongnya, mereka tampak saling menolong ketika sampai di atas gunung, Ah Xian yang kegirangan karena berhasil sampai di atas terlebih dulu mulai sadar.



Dari situlah Ah Xian mengerti arti sebuah kebersamaan adalah untuk saling membantu, sehingga ia memutuskan untuk mulai berkolaborasi dengan kelompok Ah Tai. Mereka berdua terlihat kompak saling mengajari hal yang tidak mereka ketahui.
Di saat keduanya kompak untuk pertunjukan Din Tao, di sisi lain kedua orang tua mereka yang bermusuhan kini mulai bersatu menentang apa yang di lakukan keduanya. Mereka menganggap apa yang anak-anak mereka lakukan bukanlah Din Tao, mereka terlihat sangat kecewa dengan berbagai perubahan yang di lakukan keduanya.
Bahkan saat Ah Tai dan Ah Xian  meminta restu sambil memberi tiket, kedua orang tua itu menolaknya dengan kasar. Bahkan di hari pertunjukan, kedua orang tua yang merasa kecewa itu lebih memilih diam di rumah daripada menonton pertunjukan anak-anaknya, hingga seorang guru sepuh mereka datang dan mulai menyadarkan keduanya.



Finally, mereka benar-benar menunjukkan pertunjukan keren yang telah di aransemen dari perpaduan tradisional dan moderen. Di akhir acara, atas inisiatif pembawa acaranya sehingga di layar di perlihatkan keluarga masing-masing dati para pemain. Rasa haru sekaligus bangga nampak jelas di setiap mata mereka, setidaknya mereka telah berhasil membuat pertunjukan yang memukau tanpa menghilangkan kesenian tradisional itu sendiri.
Itulah review film yang telah saya jabarkan, semoga bermanfaat

Minggu 4 Agustus 2019      12:12
Guisui, Taipe

Senin, 08 Juli 2019

Pantun



PANTUN

Baju harum 
Untuk sembahyang 
Assalamualaikum 
Kawan-kawan sayang 

Beli tomat 
Di Abang Rahman 
Tetap semangat 
Untuk menggapai impian 

Pergi kelautan siang hari
Panasnya bikin es mencair
Ayo kawan saling berbagi
Untuk kemantapan berfikir

Sendal jepit putus sebelah 
Di sambung dengan tali rami
Maafkan bila ada salah 
Hanya ini yang dapat ku beri 



PANTUN TEKA-TEKI 

Main layang di dalam hutan 
Talinya pakai batang selasih 
Bila datang bikin berlarian 
Datangnya main keroyokan sih? 

Ada lintah di punggung kerang 
Berbaris di tengah arang 
Para bocah bernyanyi di ladang 
Lagunya sadis di gemari banyak orang? 

Sepuluh bakpao di makan Dadang 
Sambil Merokok daun bayam pilihannya 
Masih subuh jago keluar kandang 
Kenapa berkokok merem matanya?




Rabu, 03 Juli 2019

Aku



Apalah arti sebuah nama??

Pribadi masing-masing 😊

 Selembar kertas itu melambai-lambai di tampar sang angin pagi, jelas sekali tertulis satu kata dengan dua kata di bawah yang di coret segaris tinta merah. Seharusnya aku senang dengan tulisan yang tertera di kertas itu, namun entah mengapa ada segudang rasa kecewa yang bertengger di sana. Kenapa harus di akhir sekolah, kenapa harus di akhir kelulusan sekolah nama yang cukup membuatku malu itu tertera di sana.
“ If lulus “ Sapa seorang teman yang melihatku terdiam , aku mengangguk tanpa berniat menjawab dengan kata, kertas itu ku tarik ke belakang agar tak terjangkau kawan-kawan. Namun apa mau di kata, rasa penasaran dari diamku membuat mereka terus memaksa mengambil kertas itu.
“ Lulus begitu kok, kamu kenapa sih “ Para bocah yang baru lulus SD itu berkerumbul mengamati kertas hasil belajar ku selama 6 tahun ini
“ La terus kenapa dia diam saja sih “ Komentar lain dari teman-temanku, ku biarkan saja mereka berkomentar sesukanya hingga.

“ IPA “ Pekik seorang teman “ IPS kali , atau PPKN “ Lanjut komentar lain yang semakin membuatku jengkel, ku rebut paksa kertas di tangan mereka dan segera berlari meninggalkan sekelompok bocah yang masih berdengung layak segerombolan lebah.
“ Mak “ Teriakku lantang saat tiba di rumah dengan nafas ngos-ngosan “ Mak, “ Teriakku sekali lagi setelah tak menemukan wanita itu di seluruh ruang.
“ Apa to kok teriak-teriak “ Kali ini Bapak yang menjawab dari beranda
“ Pak, kenapa sih namaku pakai P, bukanya V atau F begitu, kan malu pak “ Berondongku sambil menuju beranda dan mendapati bapak yang berlumuran oli hitam karena menservis mobilnya sendiri
“ Apa yang P sih “ Bapak akhirnya berdiri setelah ku merengek-rengek
“ Ini lo, namaku kok pakai P “ Ucapku berkaca-kaca
“ Sembarangan, wong di akte jelas tertulis F kok jadi P sih “ Mamak yang datang ikut nimbrung, ia merebut kertas yang aku bawa
“ Iki bagaimana to pak “ Tanya ibu sambil menunjukkan kertas hasil kelulusan sekolahku pada Bapak
“ Lah guru kamu iku bagaimana sih , bentar tak ganti baju sekarang kita ke sekolah “ Bapak segera ambil sikap
Dan benar saja, entah bagaimana cara membaca guruku itu hingga huruf F menjadi P, dengan itu terpaksa pula semua berkasku tertunda dan menjadi yang terakhir menerima berkas dari sekolah.
Itu hanyalah sekelumit kesalahan dalam sebuah panggilan namaku, bahkan hingga kini tak banyak yang benar menuliskan namaku. Untuk arti aku tidak terlalu paham dengan itu, kata seorang ustad kata Ifa itu mungkin berasal dari kata Ifa yang berarti hal baik, sedang dalam bahasa Jepang adalah baik. Tapi lebih tepatnya saya juga kurang yakin dengan hal itu. Namun apalah arti sebuah nama, bukanlah itu tergantung dari sikap dan perilaku sang pemilik nama itu sendiri. Selain itu, semakin ke sini nama yang cukup tidak pasaran itu jarang terpakai, apalagi di negara Taiwan yang masih keturunan Cina. Mereka seenak udelnya mengganti nama tanpa membuat “ jenang merah “.






Bahkan saat masih duduk di bangku beranjak dewasa, dimana kala lagi maraknya cinta monyet di antara teman. Seorang Cina yang bermarkas di bagian kecil Indonesia memberiku nama  矮矮(ai ai ) mungkin  maksudnya sangat pendek atau apalah itu. Mengingat kala itu tubuhku lebih mungil di banding kawan seumuranku bahkan hingga detik ini, namun untuk menghibur ku lelaki berkulit putih itu membuat penulisan lain 愛矮 ai ay( Cinta Pendek ) yang berarti cinta sementara di dunia, cinta yang tak kekal dan hanya bersifat sebentar saja. Lebih tepatnya cinta abadi hanya milik sang maha kuasa bukan.




Seorang majikan baik di negeri Formosa ini sangat senang menyebut ku Yani, Ya (雅)yang berarti anggun, Ni( 妮 ) 女 (perempuan )尼( dari kata 印尼 yang berarti Indonesia ) jadi mungkin pengartian nama Yani menurut mereka adalah wanita Indonesia yang anggun 😁
Tentunya keistimewaan arti sebuah nama kembali lagi pada pribadi masing-masing-masing, bahkan sekalipun tidak pernah tahu arti dari sebuah nama. Tidak menutup kemungkinan untuk menjadi sebuah segaris nama yang di kenang sebagai kebaikan, kepahlawanan atau sesuatu yang tidak dapat di lupakan banyak orang tentunya. Cukup banyak bukan nama-nama tokoh besar yang cukup unik namun di kenang sepanjang masa, di puja bahkan tak pernah terlupakan. Jadi bagi kalian yang tidak tahu atau tidak menemukan arti dari nama masing-masing, setidaknya buatlah ia menjadi sebuah arti yang dapat di kenang banyak orang. Dengan begitu, nama unikmu tentu akan memiliki arti yang luar biasa bukan. Selamat menggoreskan pena kawan, jangan pernah merasa kerdil walau banyak yang lebih tinggi di luar sana, yakinlah menjadi pribadi yang menghargai dan mencintai diri sendiri apa adanya, dengan begitu maka orang di sekitarmu juga akan mulai mempertimbangkan dirimu. Selamat berkarya 😘

Sabtu, 25 Mei 2019

Kumpulan puisi

Kata siapa aku diam saja
Setelah begitu saja terpaksa melupakannya
Terpaksa meninggalkan
Apa yang telah membuka jalanku lebar
Sulit
Desakan rasa kian menghimpit
Ciptakan sensasi sesak berkepanjangan
Sekalipun hari ini akan datang
Benar
Diam dan menjadi penonton aktif
Adalah keputusan terbaik
Karena ketika kau bersuara
Mungkin kan di depak paksa bukan
Ah sudahlah
Terlanjur terjadi
Tak pantas lagi di sesali
Kini aku hanyalah sampah
Dengan sayap-sayapku yang patah
Biarkan seperti ini
Hingga kelak ku mampu obati
Setiap goresan luka
Juga memudarnya canda tawa dengan mereka
Sangat sulit menyadari
Bukan lagi bagian dari terinti
Tak akan lagi kutemukan
Rangkaian kehangatan yang lebih indah dari ini
Selamat tinggal
Kebersamaan yang kini hanya mampu ku kenang
Kerinduan yang tak akan mungkin tertuang
Juga sedikit iri yang akan terus bersemi nanti




Selasa, 07 Mei 2019

Ramadhan Syahdu


Beraneka rasa Ramadhan di rantauan

Bismillah..

Tacia hao, awal puasa tahun ini cukup menyenangkan bukan, seharusnya tidak juga sih, mengingat Ramadhan datang di akhir musim semi dan awal musim panas. Saat bunga-bunga sakura mulai mengering hingga daun-daunnya mulai menutupi tiap inci batang, juga menjadi tahun membludaknya para turis-turis berdarmawisata. Namun kita patut bersyukur, mengingat beberapa hari terakhir ini cuaca di beberapa titik kota taiwan sedang di landa hujan. Yang otomatis, udara cukup dingin setiap harinya dan hal itulah keuntungan bagi para pekerja migran seperti saya, ya walau dampaknya harus merasakan kebosanan karena di rumah saja. Padahal tahun-tahun lalu selalu bertepatan di musim panas, yang membuat hari terasa lebih panjang dari biasanya.



Tapi, bila di pikir ulang, saya rasa keadaan saat ini cukup menguntungkan, terutama bagi saya. Yang mengharuskan tiga kali sehari bolak-balik pergi ke rumah makan, walau banyak yang mendapat kebebasan untuk memasak di rumah majikan. Sepertinya itu tidak berlaku buat saya, yang sejak awal kedatangan di negeti formosa ini sudah di wanti-wanti untuk tidak memasak di rumah, alias beli. Walhasil, setiap hari harus keliling mencari makan yang tepat dan halal, emm,,, untuk yang satu ini saya mengaku deh sangat sulit. Secara, di negara non muslim ini sangat sulit mencari makanan yang berlabel halal, ya sekalipun tidak langsung memakan daging babi itu sendiri. Namun banyak laupan-laupan yang mengaku masakan yang mereka jual paling tidak memakai kuah dari kaldu babi, minyak, bahkan bumbunya pun juga kebanyakan berasal dari hewan satu itu.
Beda negara tentu beda juga peraturannya, bila di indonesia tanda-tanda Ramadhan datang bakal di sambut meriah. Hal itu tentu tak berlaku bagi kita yang berada di perantauan yang notabenya penduduk non muslim ini, alhamdulillah banyak para majikan yang mulai mengetahui dan memahklumi agama islam dan membebaskan kita untuk melaksanakan ajaran agama. Tapi sekalipun sudah tahu, belum tentu juga mereka mengerti, bahkan ada beberapa majikan yang takut saat kita mengutarakan untuk berpuasa sebulan penuh. Lalu memakai hijab dan melakukah ibadah shalat, berbagai tanggapan negatif majikan sering terdengar dari beberapa teman saat kita bertemu. Tapi itu memang sudah menjadi resiko bekerja di negara non muslim, apalagi mereka memang sangat awam dengan agama islam.
Godaan juga datang dari para warior


 Ya, sebenarnya godaan paling berat itu tentu saja dari para Warior ( warga senior ) Ama atau Akong yang kita jaga. Tentunya, sebagai orang yang merasa hidup lebih lama, lebih pengalaman kelakuan mereka sering membuat darah tinggi. Belum lagi perintah-perintah aneh bin ajaib yang wajib di lakukan, cukup menguras tenaga dan pikiran. Tak heran bila sejak tiba di negara keturunan orang cina ini, saya jadi lebih pandai misuh atau menyebut nama para penghuni kebun binatang. Walau awalnya terasa berat, namun lama-kelamaan itu menjadi kebiasaan yang menakutkan, saat sadar mungkin sudah terlambat. Belum lagi bila mendadak mendapat kabar dari keluarga di rumah, serasa belum cukup umpatan-umpatan dan tangis yang tertahan. Bahkan terkadang belum cukup dengan kabar-kabar miring dari keluarga, terkadang permintaan mendadak dari mereka cukup membuat kita di sini kalang kabut, hingga terpaksa memelas berhutang. Padahal kebutuhan kita di sini sendiri belum banyak tercukupi, sekalipun gaji besar, biaya hidupnya pun seimbang. Masih saja di tuntut untuk tetap profesional dalam bekerja, saat sakit saja bila tak cukup parah harus sekuat tenaga di tahan. Untuk berkeluh kesah saja merasa tak pantas, hingga sering kali menangis sendiri tanpa di ketahui oleh majikan, kaluarga dan teman.



Bila di indonesia, siang hari banyak warung yang tutup, tentunya berbeda dengan negara ini. Jangan harap kita temukan rasa tenggang rasa seperti di negara tercinta, cukup majikan paham dan menerima keyakinan kita, itu sudah sangat luar biasa. Bahkan saat saya menulis ini, di siang yang berawan dengan sedikit rintik hujan, saya menemani nenek makan di salah satu warung makan. Tatapan heran serta beberapa cemoohan sudah mengebal di telinga, mereka mempermasalahkan hijab, shalat, juga puasa Ramadhan yang saya laksanakan. Bahkan entah sengaja atau tidak, beberapa pengunjung dengan sengaja menyantap makanannya cukup berisik. Belum lagi aroma yang sering kali menggelitik hidung selalu mampir tanpa permisi. Tapi ya sudahlah anggap saja kenikmatan yang tidak di sengaja, toh hanya kita dan tuhan saja yang tahu amal kita.


Nah dengan beberapa penggal kata yang saya tulis, saya berharap semoga bermanfaat dan tetap menjadikan kita lebih bersyukur dengan apa yang kita dapat. Tuhan lebih tahu kebutuhan kita daripada keinginan kita bukan, ambil sisi positif dari semua kejadian di sekitar. Setidaknya kita patut bersyukur dengan segala kenikmatan yang masih terus di berikan secara gratis pada kita. Tidak perlu membandingkan dan menginginkan kehidupan seseorang, karena belum tentu orang tersebut menikmati apa yang di inginkan orang lain.







Kamis, 18 April 2019

HOBI

HOBI

Bismillah...

Adalah salah satu kegemaran, kesukaan atau hal yang sering di lakukan untuk mengisi waktu luang dan untuk mengekpresikan diri. Berbeda dengan cita-cita yang cukup menjadi pusat dalam menjalani hidup, hobi sendiri saya rasa adalah suatu hal yang tak mengharuskan serius dalam menekuninya. Namun banyak juga yang sukses gara-gara hobi, tak sedikit kawan-kawan mengawalinya dari hanya sekedar hobi dan coba-coba.


Ya walau banyak dari kawan mengaku, sering merasa bosan dengan beberapa hobi, yang beberapa waktu lalu mereka tekuni. Bahkan penulis sendiri adalah seorang yang tidak konsisten hehe 😊. Sebagai seorang yang hidup di pedalaman desa, kala itu suatu yang di inginkan sangatlah mustahil. Apalagi kendala utama memang di biaya, walau tak semua memerlukan banyak biaya juga sih. Tapi dalam banyak kasus, itu memanglah kendala utama. Satu hal yang pasti, hampir semua hobi  memerlukan kegiatan tulus menulis. Nah lo, gak percaya, coba deh di pikir-pikir ulang, ya kan ya kan 😁. Nah untuk mempermudah sedikit tentang hobi, yang memerlukan kegiatan tulis menulis. Di sini saya akan sedikit saring, yang mana itu tak lain dan tak bukan ya hobi saya sendiri. 😜




PENULIS

Ini sudah pasti salah satu hobi yang membituhkan kegiatan mencoret-coret. Sejak kecil saya sangat suka menulis, walau goresan yang saya cipta di kertas-kertas itu mengalahkan ceker ayam. Tapi saya sudah menuntaskan banyak buku tulis untuk menyalurkan hobi saya tersebut. Ya walau akhirnya hanya saya yang bisa membacanya  khakhaka 😅, malu sih, masa anak cewek tulisan tangannya kayak benang ruwet. Tapi yah itu sudah takdir yang di atas, sudah saya coba banyak cara tapi tidak pernah berhasil dan makin parah 😅.


Maka dari itulah saya memiliki hobi lain, tentu tanpa meningalkan kegemaran menulis. Sekarangkan ada internet, bentuk tulisannya sudah di tetapkan sedemikian rupa, jadi tidak akan ada yang tau kan tulisan tangan asli saya 😅.




MEMASAK

Saya juga suka masak, entah itu mungkin memang kondrat wanita. Tapi bila ingin membuat sesuatu, saya suka memasaknya sendiri. Herannya, setiap percobaan pertama pasti berhasil, tapi percobaan selanjutnya sering tak karuan 😁. Mungkin karena banyak bahan yang saya ganti lebih murah, mahklum, bahan-bahan masak sering melonjak, tak heran emak-emak sering kelabakan bila uang belanja pas-pasan. Dan biasanya untuk resep-resepnya, juga beberapa ide kreatif dari hobi itu mampu menjadi sebuah tulisan juga kan.😆




MENJAHIT

Lalu saya suka menjahit, saya rasa ini masih batas normal untuk perempuan kan. Nah di hobi satu ini, selain di butuhkan pembubuhan sebuah tulisan, juga hitungan matematika, guna untuk mengukur. Salah hitung saja bisa berabe nanti, kadang sudah di pas-pasin, masih saja salah. Denger-denger sih, suami akan nempel terus kalau sering di buatin baju sendiri 😁. Jangan di bully lo ya, karena saya belum menikah, jadi saya percaya hehehe...




FOTOGRAFI

Lalu fotografi, nah yang satu ini sebenarnya gak sengaja sih. Yah gara-gara pernah menang dalam sebuah lomba, juga pengaruh kawan, gak salah juga memiliki hobi yang satu ini. Selain itu, dari sebuah foto akan tercipta bengitu banyak kata-kata ( puisi ) cie...😊




MENGGAMBAR

Dan ternyata saya suka mengambar, ih kayak anak tk ya hhee..., tapi itu kenyataannya kok, bukan berarti saya suka gambar pemandangan atau tokoh imajinasi anak-anak lo ya. Bisa pula di katagorikan melukis, biar lebih keren 😁. Tapi nyatanya, itu sulit say 😊 ternyata tiap goresan yang tercipta itu gak sembarang lo. Saya sampai salah tingkah saat di kritik seorang kawan, tapi herannya gambar yang saya buat ikut di pajang saat ada sebuah even 😆.

Dan hadist inilah yang membuat saya tidak menekuni hobi saya yang ini, lebih baik menghindari dari pada terjadi bukan. 😊


" Barang siapa yang di dunia pernah menggambar gambar ( bernyawa ), ia akan di tuntut untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut di hari kiamat dan ia tidak akan sanggup melakukannya " ( HR. Bukhari dan Muslim ).

Serem kan.... 😐 ya tapi saya masih sering menggambar sih 😁 ( dasar tambeng )
Ah sepertinnya masih banyak lainnya, seperti traveler, foodstret, dan lain lagi. Intinya bila kawan-kawan menyukai sesuatu, berusaha seriuslah dalam menekuninya, karena kita tidak tau, dari hobi yang mana kesuksesan itu menghampiri kita. Tetap semangat berjuang dan pantang menyerah, jangan kaya saya yang ambruladul jadi nano-nano deh 😁. Udah itu aja ah, sepertinya penulis memang perlu bersemedi, mandi bunga tujuh rupa, dan belajar pada guru wiro sableng. Eh...pada master dunia tulis menulis , biar makin terarah dan berada di jalan lurus hehehe.... mampu menulis yang baik maksudnya . 😁




Alhamdulillah ☺


Nanti kalau gadget nya sudah memungkinkan, insyaalah akan saya tambahi foto-foto hasil hobi tersebut yaaaa....😁

Minggu, 07 April 2019

pijakan

Mungkin ku temukan lagi pijakan itu
Tempat tuk sejenak singgah
Dari lelahnya netra yang enggan terbuka
Menciptakan taman penuh bunga
Terus bersemi seiring mengejar hari
Ciptakan segaris memanjang di bibir
Tuk hiasi malam penuh bintang
Tak perlu takut pintu itu terbuka
Tak perlu jamuan istimewa
Sejenak singgah
Hanya melepas dahaga
Tak perlu ku curi
Sekalipun cukup menarik hiasan di sana
Tak perlu ku meminta
Hanya cukup memandang saja
Lalu nanti
Saat ku harus pergi
Segalanya akan usai begitu saja
Juga untuk pemilik beranda
Tanpa membawa dan meninggalkan luka

Sabtu, 30 Maret 2019

tanpa judul

Berdiri kokoh di tepian pantai
Tak terhitung sudah
Ribuan ombak telah menerjang
Kau tetap ponggah di sana
Seolah menantang bandang lebih besar
Walau puluhan camar mencibir
Menjadikanmu sesosok ketakutan
Hingga hadirmu tak di harapkan
Tetapi di balik itu
Kau adalah pemilik pelangi berjuta warna
Penghangat hati di dinginnya jejak hujan
Tak banyak yang memahami lukamu
Yang kau tutupi di balik sikap tegasmu
Kau berdiri angkuh
Tuk melawan ketidakberdayaanmu
Namun ketulusanmu
Pada yang kau beri kasih sayang
Dengan caramu tunjukan
Arti halangan di kerasnya kehidupan
Tetap bertahan di rantauan
Menggigihkan semangat
Tuk tetap berjuang menggapai impian
Duhai pelitaku
Lentera dalam ruang gelapku
Alasan tuk ku tetap gigih
Dalam kesendirian di keramaian malam
Terimakasih yang tak mampu ku ucap
Juga rasa rindu yang mungkin menyergapku kelak
Untukmu yang tak akan lenyap dari ingatan
Jasamu terkenang sepanjang waktu
Selamat jalan pahlawan tanpa tanda jasa
Semoga di sana
Kau juga menjadi lentera bagi mereka
Yang kau sayang

Kamis, 28 Maret 2019

puisi

Mungkin alam masih berduka
Sekalipun butiran hujan tak lagi datang
Namun mendung masih setia
Menghalang sang surya tuk menyapa
Jejak embun tak lagi menguap
Menggenang nyaman di dedaunan
Juga di janji semanggi
Yang tak jua berempat lengkap
Bukan karna penyuka merah jambu
Asalmu lah yang membuat menggebu
Sebait nama yang terukir itu
Ciptakan debaran laksana genderang perang
Bahkan
Kala senja tak lagi membawa jingga
Lenyap begitu saja dalam peraduan
Tertutup gelap yang merambat cepat
Enggan tinggalkan rona semu
Yang menghangat di kedua pipi
Dengan usapan jari tangan kasar
Dingin merajam menusuk tajam


Oleh: Ifa Cahyani ( aiay )
Pudar

Kata siapa aku diam saja
Setelah begitu saja terpaksa melupakannya
Terpaksa meninggalkan
Apa yang telah membuka jalanku lebar

Sulit
Desakan rasa kian menghimpit
Ciptakan sensasi sesak berkepanjangan
Sekalipun hari ini akan datang

Benar
Diam dan menjadi penonton aktif
Adalah keputusan terbaik
Karena ketika kau bersuara
Mungkin kan di depak paksa bukan

Ah sudahlah
Terlanjur terjadi
Tak pantas lagi di sesali
Kini aku hanyalah sampah
Dengan sayap-sayapku yang patah

Biarkan seperti ini
Hingga kelak ku mampu obati
Setiap goresan luka
Juga memudarnya canda tawa dengan mereka

Sangat sulit menyadari
Bukan lagi bagian dari terinti
Tak akan lagi kutemukan
Rangkaian kehangatan yang lebih indah dari ini

Selamat tinggal
Kebersamaan yang kini hanya mampu ku kenang
Kerinduan yang tak akan mungkin tertuang
Juga sedikit iri yang akan terus bersemi nantiKata siapa aku diam saja
Setelah begitu saja terpaksa melupakannya
Terpaksa meninggalkan
Apa yang telah membuka jalanku lebar


SANDIWARA
Oleh : Ifa Cahyani ( aiay )


Dulu kita pernah berdiri berdampingan
Berharap mampu tumbuh menjulang
Dan biarkan para pengembara berteduh tenang
Merajut mimpi berkepanjangan

Dengan seiring waktu dalam perjalanan
Tunas Kita tak lagi bersanding
Mengembara di penjuru dunia
Bukan hanya tuk melepas dahaga
Juga merajut asa dalam sempurna

Lalu Kala kU masih berkelana lara
Kau telah temukan dermaga
Mendaratkan keindahan angan
Merajut impian masa depan

Kau membual
Seolah kau tahu segala tentang sandingmu
Janji yang pernah terikat dulu
Kini menjadi ludah tak bermutu

Kau putar balikkan fakta
Seolah seonggok jiwa ini tak berharga
Tawamu membahana semakin angkuh
Dengan benihmu yang sempurna


Nakal

Sesuatu melesat cepat
Tak biarkan ku sejenak merambat
Meniti lelah yang kian penat
Dalam untaian malam pekat

Namun terkadang ku merasa rindu
Pada tatapannya yang menghujam kalbu
Serta cara mencuri pandang saat bertemu
Seolah tak cukup setiap waktu

Kekurangan yang nyata
Tertutup semua oleh sebuah rasa
Bahkan terkadang hilang akal
Hingga terlintas  nakal

MIMPI
Ku rasa
Tak perlu di umbar bahagiaku
Sedih juga kecewa
Percuma
Hanya akan jadi cemoohan saja

Biarlah terpendam
Dalam tumpukan ketidakpastian
Tertutup kabut hitam malam
Yang semakin gelap merajam

Hanya keyakinan
Akan indahnya esok hari
Juga rangkaian mimpi yang terngiang
Berputar dalam ikatan harapan

Begitu pula dengan apa yang di gunjingkan
Mereka hanya enggan
Mempertanyakan kebenaran
Hingga segala bualan
Yang pantas untuk di umbar



GENGSI


Bukan hanya sekedar permainan rupanya
Bukan pula sekedar mencoba
Sekarang telah dewasa
Tunas yang kau tancapkan telah menjulang
Menantang gagah angkasa

Lalu apa yang kau tunggu
Haruskah mengalah pada gengsi itu
Atau tetap biarkan segenggam darah mengeras batu
Hingga terlambat sudah memburu waktu

Ataukah kau masih menunggu
Menunggu ketidakpastian jemu
Hingga ia akan benar benar menghilang
Tak lagi tempati banyak ruang
Tak terjatuh dalam kelamnya jurang

Sudahlah
Aku menyerah
Tak akan mungkin mampu kU selami hatimu
Sedangkal jengkal apapun itu


JEJAK
 Hujan senja berjejak
Meninggalkan bau basah kerinduan
Akan rindangnya dedaunan
Yang mengintai rerimbunan belukar

Jalan setapak menggenang
Ciptakan langkah mendalam
Membekas ruas saling terhubung
Menuju gubug muara terdalam

Biarlah adanya
Tak perlu meratap harap pada yang menutup mata
Mengemis belas kasih
Pada hati yang telah buta arah

Perjuangan tak pernah usai
Sekalipun sang pemilik raga
Telah kembali ke tanah
Menyanding sang pemilik tanpa pelik

Membisu
Tanpa mampu menjawab fitnah berkepanjangan
Entah sampai kapan
Telah enggan berangan
Dengan mimpi yang kian menjauh
SAYATAN

Diamlah
Aku sangat berterima kasih dengan itu
Kau tak tau apapun tentangku
Hanya sebatas bayangan
Dan khayalan semu dari imajinasimu

Sudahlah
Tak perlu kau menggali luka
Juga menambah sayatan nyata
Di sini sudah perih
Walau tak akan pernah kau tau

Caci maki mu menjadi cambuk
Tanpa ada dendam menumpuk
Bualanmu hanya sejenis kicauan buruk
Dari ribuan Mahkluk kecil beratuk

KALBU

Yang tak pernah terlupakan
Terbayang terus sekalipun tak mampu di pandang
Tatapan sendu
Serta air mata yang berharga
Tertumpah ruah tanpa jemu
Bukan
Bukan karena sebongkah kesombongan
Hanya untaian kecil tanpa makna
Yang selalu melambung sempurna
Biarlah luka
Menjerat paksa
Menggores tiap inci sendi pori
Merajam makna ketidakperdayaan
Yang tak akan melebur begitu saja
Bahkan kala tangis tertahan
Hanya menjadi legenda
Ratapan nanar melegang
Melewati waktu yang menghapusnya
Tanpa paksaan





Selasa, 26 Maret 2019

penghuni lain

Penghuni lain
#Obrolan_sore
#bheemi #pejuangdiperantauan #kerjahalal
Ini adalah kali kedua aku berada di jeruji besi tertinggi setelah penjara, sebenarnya aku tak pernah mengira akan masuk lagi ke tempat itu. Tempat yang selalu di hindari namun tetap banyak peminat, penampungan, atau BLK, balai latihan kerja bagi para calon tenaga kerja ke luar negri. Aku pernah mengalami ini sebelumnya, itulah mengapa aku selalu berfikir ulang untuk mengadu nasib ke negeri orang. Awalnya aku tak menyangka akan kembali masuk dalam bangunan besar itu, apalagi saat mendaftar, para staf tak melarangku menunggu di rumah. Tapi karena kesalahan yang mungkin di sengaja, aku terpaksa harus tinggal lagi di tempat itu.
Jangan pikir akan berbeda, sekalipun sudah menyandang status Exs, pernah bekerja di negara tujuan. Akan mendapat perlakuan yang berbeda, ya mungkin sedikit iya, bebas pegang hp, dan sering jadi sasaran para louse. Sekalipun sudah Exs, tapi itu tak menjamin bakal liahi di bahasa juga. Mengingat pada kenyataannya saat di negeri taiwan, yang masih dalam lingkup kawasan cina itu. Tak banyak kata yang mampu tersaring sempurna, bahkan banyak yang tidak mampu berbahasa sama sekali. Banyak penyebab tentunya, menjaga seorang nenek atau kakek yang lumpuh total, yang bahkan bicarapun tak mampu. Menjaga orang berkebutuhan khusus sampai tunawicara, lalu saat tak mampu mengartikan beberapa kalimat, di bully.
" Masa sudah Exs gak bisa " atau " masa yang Exs kalah sama yang non sih " dan bla bla bla lah. Entah apa maksud para lause itu selalu menyudutkan, mambuat perasaan malu, bahkan tekanan batin.
" Buat apa tegang, emang bertemu presiden, masa sama teman sendiri tegang "  Wih gampang banget ngomongnya, mungkin memang ada yang sok cuek dan tak banyak peduli, namun harusnya tau juga lah, kalau banyak yang cukup menciut nyali kala terus di bully. Ah sudahlah, itu sudah kodrat manusia setidaknya tak berguna bila terus dibahas.
Masih banyak ke unikan dalam bangunan yang di huni ratusan pejuang wanita tersebut, dari banyaknya barang yang hilang, sok paling pintar sampai yang tega membohongi teman, juga kesurupan massal. Nah yang satu ini cukup unik untuk di bahas, seperti kebanyak Pt lainnya selain PKL ke rumah staf-staf, juga ada piket harian. Karena pemilik Pt adalah seorang cina asli yang telah lama tinggal di indonesia, namun tak membuat lelaki itu cukup fasih berbahasa indonesia dengan baik dan benar. Tak heran, bila yang Exs sering mendapat piket untuk melayani kebutuhan pemilik Pt. Apalagi benar adanya, jangankan yang non yang Exs pun kadang masih bingung mengartikan maksud dari permintaan sang pemimpin itu. Tak juga aku, sejak datang aku memang sudah mendapat piket di bagian itu, walau awalnya sempat kelabakan kala ia minta kopi ku ambilkan korek api. Juga beberapa kejadian lucu saat salah menyebut nama, namun perlahan aku mulai membuat kesimpulan dan berusaha cepat memahaminya.
Tak seperti biasanya, entah mengapa hari ini lelaki yang ternyata senang bergurau itu kedatangan banyak tamu. Aku yang kebetulan mendapat piket, tentu saja kelabakan, sekalipun besok adalah tanggal merah karena bertepatan natal. Namun tak berpengaruh pada jadwal kegiatan rutin di pt, kesibukanku yang harus ceketan bolak-balik memenuhi kebetuhan para tamu. Membuatku sejak siang tak mampu memasukan sesuatu ke dalam perut, bahkan saat senja telah menghilang, aku masih berlarian mengambil beberapa barang yang di minta. Hingga saat pergantian piket, aku benar-benar kelelahan, saat itulah cacing dalam perutku berdemo lantang membuatku segera beranjak klayapan di dapur. Beberapa tempat yang ku duga sebagai tempat menyimpan makanan, ternyata hanya menyisahan ruang kosong.
" Makannya habis Nduk " Ucap seorang wanita  yang kebetulan lewat dan mendapatiku di sana
" Hahhhh " Aku yakin mataku membulat hendak keluar
" Sayurnya juga habis " Lanjutnya lagi dengan nada jengkel
" Kok bisa sih Mak " Tanyaku bingung, tumben, gak biasanya, memang sudah 2 x ini kehabisan nasi dan teman-temannya. Tapi masa bisa sampai terulang, bukankah beras masih dua karung, sayur mentah juga baru tiga hari yang lalu datang dan masih penuh.
" Tau tuh yang piket masaknya asal, masa iya yang makan belum ada setengah gedung udah habis saja, apa gak bisa ngira-ngira bukannya udah sering masak kok masih bisa kayak gini " Keluh wanita itu yang ternyata juga belum makan, bedanya ia sempat makan siang dan menjejali perutnya dengan mie instan yang ia beli dikantin.
" Ya udah deh mak, coba aku ke kantin, lapar banget, dari siang belum makan " Keluhku
" La kok bisa " Wanita itu terkejut
" Ah tamunya banyak Mak, jangankan makan, air yang ku bawa saja tak sempat tertelan " Ucapku sambil mengacungkan botol mineral yang masih utuh.
" Ya ampun ndok, dang cepetan kamu beli mie, rumayan buat nganjal perut " Perintah wanita itu yang ku iyakan sambil pergi menuju kantin depan
" Teh, aku mienya satu ya " Ucapku pada penjaga kantin yang juga ikut proses namun karena sudah exs jadi ia tidak perlu ikut belajar.
" Aduh gas habis, hari ini banyak yang beli mie nduk " Ucapnya membuatku terduduk lemas " La kamu kan tadi piket di tempatnya bos, kali aja ada yang sisa " Lanjutnya mengingatku yang bolak-balik ke kantin juga
" Ludes Teh, mungkin piring-piringnya juga di telen " Ucapku asal sambil meninggalkan kantin dengan jengkel, sial benar deh hari ini.
" Aduh aku lapar, adakah sesuatu yang bisa ku makan " Batinku mengimbangi cacing-cacing yang terus berdemo riang.
Akhirnya aku memilih diam sambil menunggu waktu tidur, setidaknya aku akan tidur nyenyak sekalipun kelaparan, berbanding terbalik saat perutku kekenyangan. Entah sudah berapa lama ku terlelap, kala ku dengar sebuah teriakan nyaring beriring tubuhku yang di tubruk, kala ku buka mata mendadak ada sesuatu yang melompat dari atas. Belum puas rasa terkejutku kembali terdengar suara gaduh berlarian satu arah, namun anehnya aku bertahan sambil terus memandang sosok di depanku yang beberapa menit lalu cukup menakutkan . Ternyata aku tak sendiri, beberapa temanku juga masih bertahan, sambil keheranan menatap beberapa  ranjang yang kosong. Perlahan mereka yang berlarian mulai berbalik, saling menanyakan apa yang terjadi. Mendengar itu aku hampir ngakak, mungkin insting mereka terlalu tajam, seperti seorang lause yang mendengar tertawa terbahak-bahak. Wanita itu terbangun karena terkejut mendengar keributan barusan, ia sempat merasa terjadi gempa. Apalagi ruangan itu ada di lantai dua, dengan ratusan penghuninya yang berhamburan satu arah.
" Ada apa ini " Tanyanya merasa terganggu, beberapa mulai kasak-kusuk, sedang wanita yang berada di depanku sedang di pijit seorang teman.
" Itu tadi mbaknya tiba-tiba teriak " Ucap teman yang menubrukku
" Emang kenapa teriak " Tanya staf lain, wanita yang di maksud terlihat kebingungan, bahkan ia tak menyangka menjadi penyebab kegaduhan itu sendiri. Selanjutnya kasak-kusuk tak banyak ku dengar karena tertutup detak jantungku yang terus berlomba.
" Ih beneran lo, mbak itu tadi nakutin banget " Ucap temanku bersumpah, ia semakin merapat ke arahku. 
" Lo aku tadi gimana turunnya " Gadis manis berkacamata itu bertanya, satu lagi penyebab jantungku hampir loncat.
" Kamu melompat dari situ tau " Ucapku jengkel sengaja ku tekan sambil menenangkan jantungku yang semakin tak kuruan, rasanya seperti mendadak di lamar orang yang jadi gebetan, atau apalah penafsirannya. 
Aku bukanlah orang penakut, apalagi rumahku di desa setiap hari keluar masuk melewati jalan terdekat bersebelahan dengan kuburan. Tak pernah pula aku pulang sebelum pukul sembilan, bahkan aku juga sering terbengong lama di depan makam. Jadi kali ini mungkin karena pengaruh lapar yang membuat seluruh bulu kudukku merinding, jantung tak henti berdetak juga entah rasa apa yang luar biasa. Reda sejenak, beberapa mulai mengambil wudhu dan shalat malam seperti yang di sarankah oleh Lause. Karena tragedi barusan, sudah di pastikan tak seorangpun berani turun ke lantai satu, di mana di sana berjejer rapi toilet yang biasa kami gunakan. Karena itu pulalah sekarang kami tau, di dekat kamar mandi paling pojok yang berdempetan dengan dua kuburan. Entah apa yang di pikirkan pemilik rumah dengan lebatnya pohon rambutan itu, membangun dua kuburan di depan rumah mereka.
" Mbak aku takut banget " Ucap seorang gadis putih yang ku yakini baru datang itu sambil mencengkrang temannya, kami sedang mengantri di kamar mandi atas.
" Kalian masuk bareng saja " Usulku yang di angguk i keduanya, sebenarnya aku sendiri tak karuan, namun aku terus berfikir positif. Setelah menuanikan hajat sekaligus berwudhu, ku lihat gadis tadi tidak jadi masuk dan justru kembali ke ranjangnya yang dekat jendela.
Setelah shalat sunah aku dan temanku berniat untuk tidur, apalagi staf yang tadi datang sudah kembali dan keadaan mulai tenang. Belum lama rasanya ku pejamkan mata ketika terdengar suara cekikikan tawa beriringan teriakkan ketakutan dari beberapa teman, walau tak seheboh yang tadi namun kali ini beberapa wanita itu mulai berteriak dan menangis. Juga gadis yang ku temui di depat toilet tadi ia tertawa serta menangis tertahan, beberapa teman yang berani segera mendekat dan mulai melakukan doa. Tiba-tiba teman di sebelahku menjerit, membuatku semakin merinding dan tak henti menyebut sang pemilik raga. Kejadian serupa mulai menjalar, semakin banyak yang melakukan hal yang tak wajar. Membuat kami yang tersadar tak henti berdoa dan membaca yasin berjamaah, air meneral di buka untuk di bacakan doa dan di minum bergiliran. Begitu seterusnya, malam yang mencengkam, seolah para penghuni lain itu ingin memberontak.
Aku ikut berkumpul membacakan doa pada seorang teman yang mengaku tak bisa bicara, mulutnya tersumbat, untuk mengeluarkan kata terasa berat. Juga sebaris dengan seorang wanita yang merasa di peluk ketika tidur, lalu banyak kasus lain yang mengaku di ganggu penghuni lain di tempat itu. Aku sendiri tak henti melafatkan surah Quran yang ku hafal, Tak ku biarkan pikiranku kosong dan tak akan pernah ku biarkan mahkluk lain itu menguasai tubuhku.
" Nduk ayo ikut " Dengan tanpa perasaan wanita yang pernah menjabat sebagai guru tk itu menarik tanganku
" Kemana mbak " Ucapku bingung
" Manggil lause di bawah "  Ucapnya sambil menuruni tangga, ku acungi jempol atas inisiatifnya, namun karena mengajakku ikut serta, rasa takjub itu melebur.
" Oh " Hanya itu yang terucap dari mulutku, sekalipun aku ketakutan setengah mati namun aku tak sampai hati membiarkannya pergi sendiri.
" Aku ikut " Ucap seorang teman yang kebetulan melihat kami menuruni tangga
Bertiga kami menyusuri lorong-lorong gelap itu, perasaan deg-degan ku yakini tak akan hilang dari dadaku. Toh nyatanya bukan karena takut ini yang menekannya, tapi rasa lapar yang tak tertahan. Aku mengekor saja, sambil berusaha mengalihkan perhatian cacing-cacing yang berdemo riang.
Perlahan ku ketuk pintu kamar lause, dan menceritakan banyak anak yang kesurupan sekarang. Lause hanya menyuruh kami untuk terus membaca yasin dan shalat sunnah, ia berjanji akan menyusul segera. Sekali lagi kami menyusuri lorong-lorong gelap itu dengan perasaan masing-masing, setibanya di atas tatapanku segera tetuju pada gadis berambut sebahu yang pernah bercerita memiliki pelindung. Segera ku dekati gadis itu, selain berharap aman, sore tadi ku sempat memergoki wanita di samping sang gadis memiliki sedikit simpanan makanan. Apalah daya, baru kali ini aku benar-benar kelaparan.
" Lagi apa " Tanyanyaku pada gadis itu
" Gak papa kak, sini kak " Gadis itu memberi ruang kosong di sampingnya untuk ku duduki
" Ah kebetulan " Batinku sebisa mungkin menyembunyikan rasa girang , tempat yang di tunjuk memang sangat dekat dengan yang ku tuju. Aku celingukan mencari sang pemilik yang ternyata tak cukup jauh, setelah berbisik padanya dan dia mengangguk membuatku nyengir lebar di antara bunyi perut yang cukup menyebalkan. Sambil duduk di samping sang gadis aku mencoba mencari secara sembunyi-sembunyi, mengingat ada larangan membawa makanan ke kamar membuatku harus hati-hati agar tidak ketahuan.
" Huuhuhuhu..." Tiba-tiba gadis di sebelahku menangis, membuat tanganku berhenti seketika.
Secara spontan tatapanku pun mengikuti ke mana netranya yang bening memandang, aku tercekat jantung yang masih saja berdetak sekali lagi terpompa cepat. Seiring bulu kuduk yang berdiri seolah hendak menyembul dari kain yang menutupi. Aku merasakan netraku yang semakin membulat, anehnya aku tak mampu mengalihkan pandanganku dari sesosok bocah di ranjang teratas. Bocah lelaki yang ku taksir berusia anak smp itu menyerigai dingin, seperti angin yang menampar kulitku. Aku ingin berteriak, atau setidaknya mengalihkan pandanganku pada bocah yang tak lucu itu. Namun seolah terkunci, bahkan tubuhku tak mampu ku gerakan sehingga dengan terpaksa harus ku lihat pemandangan yang menjijikan itu. Bocah berbaju merah itu berambut acak-acakan, merangkak perlahan dari ranjang tingkat dua menuju arahku. Wajahnya yang berlumuran darah, dengan beberapa bagian lain telah hancur. Mendadak aku mual, darah itu muncrat di seluruh tubuhnya semakin banyak. Kepalaku berat, aku ingat kata-kata lause yang menyuruh untuk tak mengosongkan pikiran. Tapi aku tak mampu memikirkan apapun, kepalaku serasa kosong tanpa mampu mengingat banyak hal. Semakin lama tubuhku menggigil hebat, ada sesuatu yang mencoba masuk dari ubun-ubun kepalaku. Sepertinya ia terus berusaha menguasai tubuhku yang semakin sulit ku kendalikan, mulutku tersumbat. Rangkaian Dzikir yang ku ingat tak mampu ku ucapkan, sedang bocah itu semakin mendekat, dengan peragainya yang semakin menakutkan.
Bocah itu merangkak tanpa mengalihkan tatapannya padaku, ia perlahan menuruni ranjang itu seperti ular yang terus merayap. Aku ingin menangis, mejerit atau apapun yang mampu melepaskanku dari keadaan semacam ini. Jarak wajahku dengan wajahnya semakin dekat, hanya beberapa centi saja sebelum ia benar-benar memakanku dengan mulutnya yang perlahan sobek dan melebar.
Tiba-tiba aku teringat hutang sepuluh juta di bank, sekalipun bukan aku pelakunya. Namun itu menjadi tanggung jawabku untuk melunasinya.
" Nduk " Sebuah tangan tiba-tiba memukul bahuku membuat tubuhku yang telah tertelan sebagian, mendadak terbebas dari rahang yang beberapa saat lalu hendak melumatku.
Aku ngos-ngossan, ku rasakan bahuku di urut perlahan, aku masih belum tersadar hingga sebuah teriakan mengalihkan perhatianku. Ternyata kejadian telah menguras tenagaku, walau demikian aku akan terus memikirkan sesuatu agar tak lagi ada mahkluk yang mendekatiku.
" Pergi ke temanmu Ndok, ia tidak bisa merasukimu tapi yang kamu lihat tadi masuk ke tubuhnya "  Wanita yang mengaku mempuanyai kemampuan seprinatural mendorongku pergi, wanita seusia ibuku itu segera menuju salah seorang teman yang berteriak tadi.
Tubuhku terasa berat, sekalipun langkah tlah ku lajukan, namun tubuhku mengeras serasa terlapis besi. Keberuntungan masih berpihak padaku, sebuah tangan menarikku untuk duduk di sampingnya. Seiring bayangan wanita berambut panjang yang melintas di depanku hendak menoleh, dan menghilang saat aku berhasil terduduk lesu.
Adzan subuh berkumandang, saat itulah hal-hal ganjil yang masih bertahan mendadak lenyap. Membuat keadaan kembali normal, beberapa teman saling berpelukan, hingga hari benar-benar terang, perlahan kami mulai berani keluar dan mulai melakukan piket lagi.
Hingga beberapa hari kami masih terbelenggu dalam ketakutan, tidak ada lagi yang berani naik ke lantai 3 tempat jemuran. Aktifitas yang biasanya masih bertahan hingga jam sembilan malam, kini sudah senyap kala azdan isya selelai berkumandang. Tak satupun yanng beradi sendiri, bahkan saat mandi beberapa masih memilih berbarengan. Entah sampai kapan kabut hitam yang menyelimuti pagar besi itu akan menghilang, walau sudah berminggu-minggu namun nyali masih menciut untuk kembali seperti dulu. Setidaknya itu juga memberi peringatan pada kita, bahwa ada bangsa lain yang selalu hidup berdampingan dengan kita. Di manapun tempatnya, akankah lebih baik bila mengikuti aturan yang di terapkan. Toh kita hanya menumpang, cari aman sajalah

Sabtu, 23 Maret 2019

cerpen



LUKA
Maharani, nama yang cantik bukan yang memiliki arti seorang pemimpin wanita. Mungkin nama itu cukup berat bagiku, seorang gadis desa sebagaimana mestinya lugu, kumal, bodoh serta miskin. Gelar-gelar yang tak akan pernah hilang dari rangkaian namaku, atau memang pantas ku sandang, mengingat akulah sulung dari sembilan bersaudara. Pemimpin dari saudara-saudaraku, mungkin itu yang di harapkan ayah dulu, apalagi ia menyerah dalam hidup saat aku memasuki bangku SMA, otomatisb beban itu lebih terasa berat. Namun aku bersyukur, setidaknya aku mampu lulus hingga SMA, sekalipun itu tak lepas dari kerja kerasku. Sejak SD aku sudah menjadi penghuni panti asuhan, di sela waktu sekolah aku mengambil kerja paruh waktu di pabrik. Setidaknya itu mampu menopang kebutuhanku, buku-buku serta beberapa iuran liar yang di minta sekolah. Pihak panti hanya mampu membayar biaya wajib saja, sejak kepergian ayahku, aku harus lebih pintar lagi membagi hasil jerih payahku.
Siang itu aku menangis pilu, pengabdianku di panti setelah lulus SMA telah usai, hingga aku memilih pulang ke rumah ibu. Namun miris, bukan senyum bahagia yang ku dapatkan, justru pemandangan yang mengiris ulu hati terpampang pahit. Wanita itu sungguh terlihat teramat kurus, mengangkat berbagai beban dari truk ke emperan toko, berulang-ulang. Belum cukup sampai di situ, rumah yang dulu terlihat kokoh, kini tampak bagai hutan belantara. Bagaimana tidak, setiap sisi rumah paling megah di masanya itu kini tumbuh berbagai jenis pohon menjulang tinggi,  pagar-pagar melingkar juga jembatan sebagai penghubung jalan keluar hancur, menyisakan serpihan-serpihan seperti hatiku.
" Mereka menutup jalannya Duk " Ucap Ibu melihatku termenung " Sini, ada jalan lain kok " Lanjutnya sambil menyeret tanganku melewati jalan setapak yang dulu takut ku lalui. Mengingat itu jalan yang cukup kecil dan sepi, belum lagi binatan-binatan liar sering terlihat di sana, terutama ular.
Berhari-hari aku meratapi semua ini, ku pikir fitnah itu telah usai, padahal pembuat perkara serta korban telah lama pergi. Ya, ayahku adalah korban fitnah warga desa, atau mungkin karena orang yang mereka dukung kalah, sehingga mereka mencari kambing hitam untuk pelampiasan. Hingga kini para penduduk desa masih memasang bendera perang pada keluargaku. Jadi ketika dengan manisnya rayuan-rayuan Pak Marjan tentang mudahnya menjadi TKW, dengan segera ku iyakan. Pesangon tiga juta amblas untuk menutup hutang, dan di penampungan adalah neraka berpagar besi kedua setelah penjara. Setelah melalui sekelumit peraturan tak masuk akal, akhirnya di bulan ke sembilan aku tiba di negeri formosa. Negeri keturunan orang cina yang banyak di idamkan wanita-wanita miskin sepertiku, beruntung aku mendapat majikan yang baik. Bahkan mereka menyayangiku sebagai keluarga mereka sendiri, tak pernah membedakanku. Aku menjaga seorang kakek yang lumpuh, ia memilki empat anak dan tinggal dengan anak pertamanya yang juga memiliki empat anak. Tak jauh dari rumahnya, anak perempuan terakhir kakek tinggal hanya berjarak beberapa meter.
" Rani, tolong antar kue ini ke tempat Nyonya Young " Pinta Khukhu padaku, anak terakhir Kekek itu memang sangat baik
" Baik Khukhu " Ucapku patuh sambil berjalan menuju rumah sederhana itu
Aku menyukai Nyonya Young yang sangat baik, wanita itu sering memberiku beraneka barang yang sudah tak terpakai. Juga anak perempuannya yang cantik, aku sudah sangat dekat dengan Xiejie kami cepat berteman sejak kedatanganku di sini. Sekalipun terlihat jelas perbedaan kami, namun tak menghalangi persahabatan di antara kami. Aku mengetuk pelan sambil memanggil Nyonya Young, beberapa saat kemudian wanita itu keluar sambil tersenyum.
" Ini Nyonya Young dari Khukhu " Ucapku sambil menyerahkan padanya bungkusan yang ku bawa
" Terimakasih " Mata wanita itu berbinar, ia berbicara keras agar terdengar oleh Khukhu yang duduk di teras depan, mereka terlibat obrolan cukup lama " Xie jie masih belum pulang " Ucap Nyonya Young di sela-sela obrolannya saat melihatku mencari-cari sosok Xie jie, aku tersenyum malu namun masih memperhatikan ruangan utama yang terlihat jelas itu.
Jantungku mendadak berdetak lebih cepat, memciptakan rasa cemas saat tanpa sengaja ku lihat seorang lelaki berusia 30 tahunan memandang tajam dan menjijikan ke arahku. Aku segera pamit dan bergegas kembali menemui Khukhu, Nyonya Young tersenyum tanpa tau apa yang terjadi padaku. Sejak saat itu aku mulai merasa ada yang memperhatikanku, terkadang aku takut duduk berlama-lama di ruang depan. Apalagi bila hari menjelang malam, perasan itu semakin membuat tubuhku merinding hingga aku selalu terburu-buru pergi dari sana.
Malam ini rintik hujan masih enggan pergi, entah sudah berapa lama aku terlelap kala sebuah ketukan membangunkanku. Aku mempertajam pendengaran, hening, beberapa menit kemudian ketukan itu kembali terdengar. Aku segera mengangkat tubuhku, perlahan ku langkahkan kaki agar tak membangungkan kakek yang tidur pulas. Ku buka perlahan pintu yang terbuat dari kayu , tatapanku terpaku pada bayangan hitam di rumah Nyonya Young yang gelap. Aku bergidik, kala kilat menyinari wajah pemilik bayangan, A Hong , ayah tiri Xie jie. Lelaki itu nampak sedang mencari sesuatu, terdengar umpatan dari mulutnya setiap kali ia gagal menemuka apa yang di cari. Tatapanku segera beralih tak kala ku dengar nafas memburu di depanku, Xie jie, gadis itu meringkuk di bawah kursi goyang kakek yang sengaja di taruh di depan. Aku mematung, saat ku rasakan tatapan lelaki yang baru beberapa bulan menikah dengan Nyonya Young melekat tajam ke arahku. Aku berusaha menahan gejolak hebat di dada, berharap lelaki itu tak melihatku, mungkin benar, atau dia hanya berpura-pura. Namun aku bernafas lega saat lelaki itu beranjak pergi menyusuri malam gelap yang membuat sosoknya menghilang cepat.
" Keluarlah, dia sudah pergi " Ucapku yakin ada sesuatu yang terjadi, gadis itu terdiam hingga aku mendekat ke arahnya ia terlihat sesegukan.
" Rani " Tangisnya seketika memelukku, dengan segera ku tarik gadis itu masuk dalam ruangan, aku takut bila lelaki itu tiba-tiba kembali.
Xiejie tetap membisu, walau lelaki paruh baya majikanku, yang memaksaku memanggilnya Shushu juga berada di sana. Shushu sedang bergadang dan segera turun ketika mendengar tangisan Xijie, lelaki itu hanya menasehati seperlunya sebelum memutuskan kembali ke kamar. Xiejie merasa besyukur saat Shushu membolehkan gadis itu menginap, ia memilih tetap di sampingku sekalipun Shushu menawarkan kamar kosong untuknya. Sunyi, Shushu telah beberapa menit yang lalu pergi, Xiejie masih terdiam walau kini tangisnya telah reda. Hujan di luar masih terdengar, membuat sang bayu berbisik dingin menyentuh kulitku. Aku merapat pada Xiejie, gadis itu bergeser memberiku sedikit ruang, tiba-tiba dia berbalik dan memelukku. Dalam remang malam, butiran bening itu kembali mengalir lebih deras beriring suaranya yang bergetar menusuk relung batin.
" Lelaki laknat " Desisku tak mampu menahan gejolak di dada, butiran bening itu kini juga ikut membasahi pipiku, kami berpelukan dalam isak tangis sepanjang sisa malam.
Entah mengapa, malam ini terasa sangat panjang, sekalipun telah ku pejamkan mata, namun ragaku masih terjaga. Pagi pertama Xiejie memutuskan segera pulang, ia bertekad segera pergi jauh dari rumah itu. Ku dengar mereka memiliki saudara di desa, mungkin itu akan lebih baik baginya untuk mrenenangkan diri. Setelah kejadian itu rumah Nyonya Young terasa sepi, aku tak lagi melihat Xiejie. Namun tatapan yang seolah-olah menelanjangiku itu masih ku rasakan, sesekali aku sempat melihat bayangan berdiri di balik kaca hitam rumah Nyonya Young. Entah siapa dan apa yang di lakukan oleh bayangan itu, apalagi kini aku harus sering ke rumah sakit karena kakek mendadak harus menginap. Membuat perhatianku tak lagi peduli dengan rumah bercat biru muda itu.
 Selang beberapa hari setelah ke pulangan kakek, kami di kejutkan oleh mobil ambulan yang datang dan berhenti di depan rumah Nyonya Young. Tanpa menunggu perintah, aku segera berlari melewati warga yang mulai berkumpul. Ku lihat Nyonya Young menyibak kain putih itu hingga menampilkan wajah ayu nan putih pucat. Aku tersentak, Nyonya Young meraung, tanpa mampu ku tahan butiran bening itu berlomba mengalir deras dikedua pipiku. Seseorang merengkuh bahuku sambil menarikku, perlahan menjauh dari kerumunan warga yang saling bertanya tanpa jawaban.
Segera memori malam kelabu itu berputar cepat di otakku, terutama luka tertahan Xiejie, saat menceritakan bagaimana teganya lelaki yang menjadi ayah tirinya itu merenggut kehormatannya. Kala itu aku hanya mampu menahan gejolak yang menekan di dada, namun tak ku sangka akan se jauh ini. Beberapa berita mengabarkan bahwa Xiejie bunuh diri, namun aku tau pasti, gadis itu tak mungkin melakukan hal itu. Bahkan saat kami beberapa kali bertemu mata gadis itu berbinar menceritakan cita-citanya, juga niat melupakan masa yang kelam dalam hidupnya.
Malam itu adalah malam ke tiga setelah kematian Xiejie, telah kesekian kalinya aku terbangun karena kakek memanggil. Kali ini lelaki yang hampir seabad itu ingin buang air kecil, setelah usai, segera ku bawa pispotnya ke luar untuk di buang ke got depan sekaligus di cuci. Sejenak aku menikmati cahaya bulan, semilir angin dingin berhembus halus menyapa. Mendadak ku rasakan cemkraman kuat di pundakku, belum sempat aku berteriak mulutku telah di bungkam kuat oleh tangan kasar, kedua tanganku terkunci di belakang. Tergenggam kuat oleh salah satu tangan kasar itu, aku menendang-nendang berusaha memberontak. Namun tenagaku tak cukup kuat untuk terlepas dari dekapannya, aku semakin bergidik kala tau siapa pelaku dari semua ini.
" Jangan macam-macam kalau kamu ingin selamat " Hembusan nafas hangat yang berbisik di telingaku semakin membuatku ketakutan.
A Hong, aku sangat yakin dengan pemilik suara itu. Aku terus mencari celah untuk melepaskan diri kala lelaki itu mulai menggiringku menjauh. Detak jantungku semakin tidak beraturan, ketika ku mulai tau kemana tujuan lelaki itu. Aku mulai putus asa, sekuat apapun aku meronta, lelaki itu semakin mempererat cengkramannya. Sekalipun mustahil, dalam ke putusasaan aku berharap ada seseorang yang lewat di sana. Namun, hingga tempat yang ku yakini pendukung perbuatann bejat A Hong semakin dekat, dan tak seorangpun yang terlihat. Benar saja, lelaki itu mendorongku di semak-semak yang memang jarang di jangkau orang, mengingat tempat itu hanyalah hamparan tanah kosong dengan rumput liar yang tumbuh menjulang tinggi. Aku berusaha menghindar dengan terus merangkak, seperti telah menduga saat kakiku di cemkram kuat, dengan segera ia berusaha menindihku. Aku terus meronta, melempar apapun yang mampu ku jangkau.
" Hentikan, apa yang kau lakukan " Bergetar suara ku paksa, lelaki itu menyerigai, namun ia tak berhenti sambil terus menggerayaiku yang panik.
Tiba-tiba aku teringat kebiasaan Take, anak pertama dari Shushu itu biasa mengendarai sepedahnya melewati jalan setapak di ujung. Entah untuk apa, namun aku sering memergoki lelaki pendiam itu keluar menyusuri malam. Semangatku kembali membara, aku tak mau menyerah pada lelaki penuh nafsu ini. Aku hanya perlu terus menggerakkan tanganku ke belakang dengan sedikit dorongan dari kakiku, karena saat itu aku dalam posisi terlentang. Perlahan ku angkat tubuh sehingga mempermudah tanganku untuk bergerak mundur. Sambil terus melempar apapun yang di janggkau oleh tanganku. Tubuhku terasa perih, apalagi tak hanya ranting dan batu yang menusuk tubuhku, namun beberapa becahan beling ikut menggores kulitku menembus baju yang ku pakai.
Aku memekik tertahan, saat lelaki itu dengan mudahnya berhasil menyobek bajuku. Rasa malu dan jijik mendera dasyat di ulu hati, aku meronta-ronta berusaha mengelak dari tangannya yang kasar. Di antara ketakutan luar biasa ku terus coba  mencari benda yang ada di dekatku, tiba-tiba tanganku merasakan sesuatu keras dan cukup berat. Tanpa pikir panjang, dengan sisa kekuatan ku ayunkan benda itu ke arah A Hong, walau tak meninggalkan luka berarti, setidaknya cukup membuat lelaki itu memberiku sedikit ruang. Tanpa pikir panjang ku paksakan tubuhku bergerak dan memacu langkahku walau harus merangkak. Benar dugaanku, mungkin nasib baik memang masih mendukung, dari arah yang tidak jauh nampak sebuah bayangan semakin mendekat, juga setitik cahaya yang ku yakini dari sepeda Ta ke. Aku berteriak dan sengaja menimbulkan suara juga ku goyangkan rumput-rumput liar, hanya itu kesempatanku. Apalagi pada detik berikutnya, lelaki itu telah berhasil mencengkramku dan memukulku hingga aku sempoyong terkulai lemas.
" Kau pikir ada yang mendengar " dalam temaram cahaya bulan, ku dapat melihat tawa sinis serta tatapannya menusuk tajam.
Aku berhasil menendang kakinya dan membuatnya mengerang, namun itu tidak lama. Karena aku mendapatkan perlakuan lebih buruk dari sebelumnya, berkali-kali lelaki itu menampar wajahku. Memukul, bahkan menekan kedua kakiku dengan tubuhnya yang berat, bayangan Xiejie tiba-tiba terlintas di benakku. Seperti inikah yang di rasakan Xiejie, bahkan aku tak berkedip saat benda hitam di tangannya itu siap meremukan kepalaku.
" Bruakk " Suara gaduh dan erangan kesakitan terdengar jelas, aku tau, bahkan saat sepeda kesangan lelaki berparas tampan itu melayang menghantang A Hong, lelaki itu terpental jauh.
Aku menjadi saksinya, sekalipun ku tak mampu lagi mengerakkan tubuhku, namun aku bisa merasakan amarah Ta Ke. Beberapa menit kemudian terdengar beberapa suara memanggil namaku, Ta ke yang telah usai dengan A Hong memapahku , menyeberangi semak-semak yang terasa sakit kala menyentuh kulitku. Khukhu segera memelukku dan memakaikan jaketnya pada tubuhku, beberapa warga segera menyeret A Hong. Aku tak peduli lagi apa yang terjadi pada lelaki itu, bahkan saat genangan di pelupuk mata tua Nyonya Young tak mampu di tahan. Juga jeritnya pilu saat Khukhu bercerita tentang perlakuan lelaki itu pada Xejie, ya aku menceritakan semua pada Khukhu. Di keadaan ini tentulah Nyonya Young yang paling terluka,  dalam sekejap ia harus kehilangan anaknya, juga kenyataan yang tidak pernah ia harapkan.
✳✳✳
Akhir musim gugur di penghujung senja, perlahan bintang-bintang kota mulai di nyalakan. Seiring malam berselimut gelap datang perlahan, para pedagang yang telah sibuk sejak mentari tergelincir ke peraduan. Terlihat bersemangat menjajakan dagangannya, barisan jajanan khas pasar malam memanjang di sepanjang jalan. Malam ini bulan purnama, namun benda langit itu belum tampak di langit yang menghitam. Dan ini adalah malam terakhir ku di sini, beberapa hari yang lalu kakek menghembuskan nafas terakhir dengan tenang. Besok aku sudah harus beranjak dari rumah Shushu ke majikan baruku, sehingga Khukhu mengajakku berbelanja di pasar malam untuk kenang-kenangan.
" Rani, berikan ini padanya " Ucap Khukhu sambil memberiku sebuah bungkusan, aku berjalan perlahan mendekat pada sosok wanita yang mencuri perhatianku sejak tadi.
" Nyonya Young, ini untuk anda " Ucapanku sepertinya mengagetkan wanita itu, terlihat dari reaksinya yang sedikit terlonjak.
Nyonya Young menatapku sejenak, ia tersenyum namun juga terisak menerima bungkusan itu. Penampilan wanita itu sangat berbanding terbalik dari beberapa waktu lalu, baju indah yang selalu di pakainya kini berganti dengan baju kumal dan bau. Bahkan wajahnya yang dulu sangat ia jaga, kini terlihat menghitam karena debu dan kotoran.
" Terimakasih " Ucapnya tulus " Dan maaf " Lanjutnya lagi sambil pergi meninggalkanku
Beberapa bulan setelah kejadian itu, ku dengar Nyonya Young menjual rumahnya untuk membayar hutang. Sedang Xiero, anak laki-lakinya sudah tidak perduli lagi dengannya, dan terus menyalahkannya atas kematian Xieji. Nyonya Young sendiri sekarang hidupnya terlunta-lunta, mengemis belas kasihan bahkan mengais sampah untuk makan.
✳✳✳
Siang ini cukup menggemparkan, ada kabar bahwa A Hong berhasil keluar dari penjara . Entah bagaimana caranya, tetapi itu membuatku tak tenang. Walau akhirnya aku meninggalkan tempat itu, tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan mencariku. Cukup lama aku terbelenggu dalam ketakutan, namun aku harus terus maju, tanggung jawab pada keluargaku lah yang terus memaksaku.
Hingga suatu malam, aku tak menyangka akan bertemu dengan lelaki itu sekali lagi. Aku takut, namun aku tak akan kalah dan sialnya lagi-lagi gelap mendukung. Aku terus berlari berusaha menghindari lelaki itu, sekuat mungkin aku harus sampai di keramaian. Setidaknya ia tak akan berani melukaiku, tetapi aku salah. Tempat itu justru memudahkannya untuk menangkap dan menyeretku sekali lagi, aku memberontak sambil terus mengharap pertolongan.
" Dasar anak kurang ajar, mau kabur kemana lagi kamu hah " Ucap lelaki itu sambil terus mencengkramku, aku mengiba memohon pertolongan pada beberapa orang yang lewat.
" Tuan jangan kasar seperti itu " Seorang ibu-ibu bersimpaati
" Maaf nyonya, anak ini memang nakal, dia suka kabur dari rumah, padahal aku dan istriku sudah memberi apa yang dia mau " Bahh, dia berbicara seolah-olah aku anaknya, kalau ada yang percaya ku yakin orang itu telah buta
" Istriku orang indonesia, jadi dia lebih mirip ibunya " Lanjutnya menjawab ke heranan beberapa orang yang melihat
Sial, apa yang harus aku lalukan sekarang, sambil berbisik ia terus menekanku untuk diam. Beberapa warga yang menonton mulai meninggalkan kami, aku semakin ketakutan, sekelebat bayangan ibu, juga rumah kumuhku terlintas. Air mataku tak mampu ku bendung lagi, bagaimana nasib mereka bila aku harus berakhir di sini. Aku terus bergelut dengan batin, aku tak boleh menyerah, tanggung jawabku masih belum usai, bayangan-bayangan mata penuh harap itu terus memaksaku bangkit. Ketika ku rasakan kelonggaran dalam cengkramannya, tanpa membuang waktu segera ku injakkan kakiku sekuat mungkin di kakinya. Aku juga menggigit jarinya yang mencengkram lenganku, aku terus berlari tanpa peduli lagi dengannya yang mengumpat. Setelah merasa cukup jauh dan yakin lelaki itu tak berhasil menangkapku, secepat mungkin aku segera pulang ke rumah majikan, yang keheranan melihatku acak-acakan sepulang liburan. Aku meminta ijin untuk istirahat, untung mereka segera mengiyakan tanpa bertanya lebih banyak.
Sejak hari itu aku selalu berhati-hati, menghindari pulang malam, juga berjalan sendirian sekalipun di keramaian. Aku terus memaksa temanku untuk mengantarku pulang, tak akan pergi bila temanku tidak menjemputku. Setidaknya aku sudah merasa aman, hingga berita yang di muat di koran. Aku tak tau, harus senang atau sedih melihat berita-berita yang di muat hampir seluruh media.
" Seorang buronan di temukan mati di pinggir pantai " Kurang lebih seperti itu lah berita yang di muat, tapi setidaknya aku lega walau miris juga mengetahui bagaimana lelaki itu pergi.
Beberapa hari kemudian kabar yang lebih mengejutkan beredar, adalah sosok Nyonya Young yang di temukan bunuh diri di sungai curam dekat rumahnya dulu. Mengingat itu aku bergidik, membayangkan bagaimana batu-batu runcing juga duri-duri yang menjalar di pinggiran sungai, mengangkap tubuhnya yang tak gempal lagi. Dengan itu terungkap alasan lain Nyonya Young menjual  rumahnya, wanita itu ternyata menyimpan dendam pada suaminya. Ia juga yang membebaskan sekaligus membunuh A Hong dengan bantuan preman yang di bayarnya.
Aku bergidik, mengingat rangkaian peristiwa selama berada di negeri formosa ini. Tidak ada yang tau masa yang akan datang, namun kita berhak memilih jalan hidup untuk terus melangkah, bahkan mengakhirinya dengan cepat.