Sabtu, 30 Maret 2019

tanpa judul

Berdiri kokoh di tepian pantai
Tak terhitung sudah
Ribuan ombak telah menerjang
Kau tetap ponggah di sana
Seolah menantang bandang lebih besar
Walau puluhan camar mencibir
Menjadikanmu sesosok ketakutan
Hingga hadirmu tak di harapkan
Tetapi di balik itu
Kau adalah pemilik pelangi berjuta warna
Penghangat hati di dinginnya jejak hujan
Tak banyak yang memahami lukamu
Yang kau tutupi di balik sikap tegasmu
Kau berdiri angkuh
Tuk melawan ketidakberdayaanmu
Namun ketulusanmu
Pada yang kau beri kasih sayang
Dengan caramu tunjukan
Arti halangan di kerasnya kehidupan
Tetap bertahan di rantauan
Menggigihkan semangat
Tuk tetap berjuang menggapai impian
Duhai pelitaku
Lentera dalam ruang gelapku
Alasan tuk ku tetap gigih
Dalam kesendirian di keramaian malam
Terimakasih yang tak mampu ku ucap
Juga rasa rindu yang mungkin menyergapku kelak
Untukmu yang tak akan lenyap dari ingatan
Jasamu terkenang sepanjang waktu
Selamat jalan pahlawan tanpa tanda jasa
Semoga di sana
Kau juga menjadi lentera bagi mereka
Yang kau sayang

Kamis, 28 Maret 2019

puisi

Mungkin alam masih berduka
Sekalipun butiran hujan tak lagi datang
Namun mendung masih setia
Menghalang sang surya tuk menyapa
Jejak embun tak lagi menguap
Menggenang nyaman di dedaunan
Juga di janji semanggi
Yang tak jua berempat lengkap
Bukan karna penyuka merah jambu
Asalmu lah yang membuat menggebu
Sebait nama yang terukir itu
Ciptakan debaran laksana genderang perang
Bahkan
Kala senja tak lagi membawa jingga
Lenyap begitu saja dalam peraduan
Tertutup gelap yang merambat cepat
Enggan tinggalkan rona semu
Yang menghangat di kedua pipi
Dengan usapan jari tangan kasar
Dingin merajam menusuk tajam


Oleh: Ifa Cahyani ( aiay )
Pudar

Kata siapa aku diam saja
Setelah begitu saja terpaksa melupakannya
Terpaksa meninggalkan
Apa yang telah membuka jalanku lebar

Sulit
Desakan rasa kian menghimpit
Ciptakan sensasi sesak berkepanjangan
Sekalipun hari ini akan datang

Benar
Diam dan menjadi penonton aktif
Adalah keputusan terbaik
Karena ketika kau bersuara
Mungkin kan di depak paksa bukan

Ah sudahlah
Terlanjur terjadi
Tak pantas lagi di sesali
Kini aku hanyalah sampah
Dengan sayap-sayapku yang patah

Biarkan seperti ini
Hingga kelak ku mampu obati
Setiap goresan luka
Juga memudarnya canda tawa dengan mereka

Sangat sulit menyadari
Bukan lagi bagian dari terinti
Tak akan lagi kutemukan
Rangkaian kehangatan yang lebih indah dari ini

Selamat tinggal
Kebersamaan yang kini hanya mampu ku kenang
Kerinduan yang tak akan mungkin tertuang
Juga sedikit iri yang akan terus bersemi nantiKata siapa aku diam saja
Setelah begitu saja terpaksa melupakannya
Terpaksa meninggalkan
Apa yang telah membuka jalanku lebar


SANDIWARA
Oleh : Ifa Cahyani ( aiay )


Dulu kita pernah berdiri berdampingan
Berharap mampu tumbuh menjulang
Dan biarkan para pengembara berteduh tenang
Merajut mimpi berkepanjangan

Dengan seiring waktu dalam perjalanan
Tunas Kita tak lagi bersanding
Mengembara di penjuru dunia
Bukan hanya tuk melepas dahaga
Juga merajut asa dalam sempurna

Lalu Kala kU masih berkelana lara
Kau telah temukan dermaga
Mendaratkan keindahan angan
Merajut impian masa depan

Kau membual
Seolah kau tahu segala tentang sandingmu
Janji yang pernah terikat dulu
Kini menjadi ludah tak bermutu

Kau putar balikkan fakta
Seolah seonggok jiwa ini tak berharga
Tawamu membahana semakin angkuh
Dengan benihmu yang sempurna


Nakal

Sesuatu melesat cepat
Tak biarkan ku sejenak merambat
Meniti lelah yang kian penat
Dalam untaian malam pekat

Namun terkadang ku merasa rindu
Pada tatapannya yang menghujam kalbu
Serta cara mencuri pandang saat bertemu
Seolah tak cukup setiap waktu

Kekurangan yang nyata
Tertutup semua oleh sebuah rasa
Bahkan terkadang hilang akal
Hingga terlintas  nakal

MIMPI
Ku rasa
Tak perlu di umbar bahagiaku
Sedih juga kecewa
Percuma
Hanya akan jadi cemoohan saja

Biarlah terpendam
Dalam tumpukan ketidakpastian
Tertutup kabut hitam malam
Yang semakin gelap merajam

Hanya keyakinan
Akan indahnya esok hari
Juga rangkaian mimpi yang terngiang
Berputar dalam ikatan harapan

Begitu pula dengan apa yang di gunjingkan
Mereka hanya enggan
Mempertanyakan kebenaran
Hingga segala bualan
Yang pantas untuk di umbar



GENGSI


Bukan hanya sekedar permainan rupanya
Bukan pula sekedar mencoba
Sekarang telah dewasa
Tunas yang kau tancapkan telah menjulang
Menantang gagah angkasa

Lalu apa yang kau tunggu
Haruskah mengalah pada gengsi itu
Atau tetap biarkan segenggam darah mengeras batu
Hingga terlambat sudah memburu waktu

Ataukah kau masih menunggu
Menunggu ketidakpastian jemu
Hingga ia akan benar benar menghilang
Tak lagi tempati banyak ruang
Tak terjatuh dalam kelamnya jurang

Sudahlah
Aku menyerah
Tak akan mungkin mampu kU selami hatimu
Sedangkal jengkal apapun itu


JEJAK
 Hujan senja berjejak
Meninggalkan bau basah kerinduan
Akan rindangnya dedaunan
Yang mengintai rerimbunan belukar

Jalan setapak menggenang
Ciptakan langkah mendalam
Membekas ruas saling terhubung
Menuju gubug muara terdalam

Biarlah adanya
Tak perlu meratap harap pada yang menutup mata
Mengemis belas kasih
Pada hati yang telah buta arah

Perjuangan tak pernah usai
Sekalipun sang pemilik raga
Telah kembali ke tanah
Menyanding sang pemilik tanpa pelik

Membisu
Tanpa mampu menjawab fitnah berkepanjangan
Entah sampai kapan
Telah enggan berangan
Dengan mimpi yang kian menjauh
SAYATAN

Diamlah
Aku sangat berterima kasih dengan itu
Kau tak tau apapun tentangku
Hanya sebatas bayangan
Dan khayalan semu dari imajinasimu

Sudahlah
Tak perlu kau menggali luka
Juga menambah sayatan nyata
Di sini sudah perih
Walau tak akan pernah kau tau

Caci maki mu menjadi cambuk
Tanpa ada dendam menumpuk
Bualanmu hanya sejenis kicauan buruk
Dari ribuan Mahkluk kecil beratuk

KALBU

Yang tak pernah terlupakan
Terbayang terus sekalipun tak mampu di pandang
Tatapan sendu
Serta air mata yang berharga
Tertumpah ruah tanpa jemu
Bukan
Bukan karena sebongkah kesombongan
Hanya untaian kecil tanpa makna
Yang selalu melambung sempurna
Biarlah luka
Menjerat paksa
Menggores tiap inci sendi pori
Merajam makna ketidakperdayaan
Yang tak akan melebur begitu saja
Bahkan kala tangis tertahan
Hanya menjadi legenda
Ratapan nanar melegang
Melewati waktu yang menghapusnya
Tanpa paksaan





Selasa, 26 Maret 2019

penghuni lain

Penghuni lain
#Obrolan_sore
#bheemi #pejuangdiperantauan #kerjahalal
Ini adalah kali kedua aku berada di jeruji besi tertinggi setelah penjara, sebenarnya aku tak pernah mengira akan masuk lagi ke tempat itu. Tempat yang selalu di hindari namun tetap banyak peminat, penampungan, atau BLK, balai latihan kerja bagi para calon tenaga kerja ke luar negri. Aku pernah mengalami ini sebelumnya, itulah mengapa aku selalu berfikir ulang untuk mengadu nasib ke negeri orang. Awalnya aku tak menyangka akan kembali masuk dalam bangunan besar itu, apalagi saat mendaftar, para staf tak melarangku menunggu di rumah. Tapi karena kesalahan yang mungkin di sengaja, aku terpaksa harus tinggal lagi di tempat itu.
Jangan pikir akan berbeda, sekalipun sudah menyandang status Exs, pernah bekerja di negara tujuan. Akan mendapat perlakuan yang berbeda, ya mungkin sedikit iya, bebas pegang hp, dan sering jadi sasaran para louse. Sekalipun sudah Exs, tapi itu tak menjamin bakal liahi di bahasa juga. Mengingat pada kenyataannya saat di negeri taiwan, yang masih dalam lingkup kawasan cina itu. Tak banyak kata yang mampu tersaring sempurna, bahkan banyak yang tidak mampu berbahasa sama sekali. Banyak penyebab tentunya, menjaga seorang nenek atau kakek yang lumpuh total, yang bahkan bicarapun tak mampu. Menjaga orang berkebutuhan khusus sampai tunawicara, lalu saat tak mampu mengartikan beberapa kalimat, di bully.
" Masa sudah Exs gak bisa " atau " masa yang Exs kalah sama yang non sih " dan bla bla bla lah. Entah apa maksud para lause itu selalu menyudutkan, mambuat perasaan malu, bahkan tekanan batin.
" Buat apa tegang, emang bertemu presiden, masa sama teman sendiri tegang "  Wih gampang banget ngomongnya, mungkin memang ada yang sok cuek dan tak banyak peduli, namun harusnya tau juga lah, kalau banyak yang cukup menciut nyali kala terus di bully. Ah sudahlah, itu sudah kodrat manusia setidaknya tak berguna bila terus dibahas.
Masih banyak ke unikan dalam bangunan yang di huni ratusan pejuang wanita tersebut, dari banyaknya barang yang hilang, sok paling pintar sampai yang tega membohongi teman, juga kesurupan massal. Nah yang satu ini cukup unik untuk di bahas, seperti kebanyak Pt lainnya selain PKL ke rumah staf-staf, juga ada piket harian. Karena pemilik Pt adalah seorang cina asli yang telah lama tinggal di indonesia, namun tak membuat lelaki itu cukup fasih berbahasa indonesia dengan baik dan benar. Tak heran, bila yang Exs sering mendapat piket untuk melayani kebutuhan pemilik Pt. Apalagi benar adanya, jangankan yang non yang Exs pun kadang masih bingung mengartikan maksud dari permintaan sang pemimpin itu. Tak juga aku, sejak datang aku memang sudah mendapat piket di bagian itu, walau awalnya sempat kelabakan kala ia minta kopi ku ambilkan korek api. Juga beberapa kejadian lucu saat salah menyebut nama, namun perlahan aku mulai membuat kesimpulan dan berusaha cepat memahaminya.
Tak seperti biasanya, entah mengapa hari ini lelaki yang ternyata senang bergurau itu kedatangan banyak tamu. Aku yang kebetulan mendapat piket, tentu saja kelabakan, sekalipun besok adalah tanggal merah karena bertepatan natal. Namun tak berpengaruh pada jadwal kegiatan rutin di pt, kesibukanku yang harus ceketan bolak-balik memenuhi kebetuhan para tamu. Membuatku sejak siang tak mampu memasukan sesuatu ke dalam perut, bahkan saat senja telah menghilang, aku masih berlarian mengambil beberapa barang yang di minta. Hingga saat pergantian piket, aku benar-benar kelelahan, saat itulah cacing dalam perutku berdemo lantang membuatku segera beranjak klayapan di dapur. Beberapa tempat yang ku duga sebagai tempat menyimpan makanan, ternyata hanya menyisahan ruang kosong.
" Makannya habis Nduk " Ucap seorang wanita  yang kebetulan lewat dan mendapatiku di sana
" Hahhhh " Aku yakin mataku membulat hendak keluar
" Sayurnya juga habis " Lanjutnya lagi dengan nada jengkel
" Kok bisa sih Mak " Tanyaku bingung, tumben, gak biasanya, memang sudah 2 x ini kehabisan nasi dan teman-temannya. Tapi masa bisa sampai terulang, bukankah beras masih dua karung, sayur mentah juga baru tiga hari yang lalu datang dan masih penuh.
" Tau tuh yang piket masaknya asal, masa iya yang makan belum ada setengah gedung udah habis saja, apa gak bisa ngira-ngira bukannya udah sering masak kok masih bisa kayak gini " Keluh wanita itu yang ternyata juga belum makan, bedanya ia sempat makan siang dan menjejali perutnya dengan mie instan yang ia beli dikantin.
" Ya udah deh mak, coba aku ke kantin, lapar banget, dari siang belum makan " Keluhku
" La kok bisa " Wanita itu terkejut
" Ah tamunya banyak Mak, jangankan makan, air yang ku bawa saja tak sempat tertelan " Ucapku sambil mengacungkan botol mineral yang masih utuh.
" Ya ampun ndok, dang cepetan kamu beli mie, rumayan buat nganjal perut " Perintah wanita itu yang ku iyakan sambil pergi menuju kantin depan
" Teh, aku mienya satu ya " Ucapku pada penjaga kantin yang juga ikut proses namun karena sudah exs jadi ia tidak perlu ikut belajar.
" Aduh gas habis, hari ini banyak yang beli mie nduk " Ucapnya membuatku terduduk lemas " La kamu kan tadi piket di tempatnya bos, kali aja ada yang sisa " Lanjutnya mengingatku yang bolak-balik ke kantin juga
" Ludes Teh, mungkin piring-piringnya juga di telen " Ucapku asal sambil meninggalkan kantin dengan jengkel, sial benar deh hari ini.
" Aduh aku lapar, adakah sesuatu yang bisa ku makan " Batinku mengimbangi cacing-cacing yang terus berdemo riang.
Akhirnya aku memilih diam sambil menunggu waktu tidur, setidaknya aku akan tidur nyenyak sekalipun kelaparan, berbanding terbalik saat perutku kekenyangan. Entah sudah berapa lama ku terlelap, kala ku dengar sebuah teriakan nyaring beriring tubuhku yang di tubruk, kala ku buka mata mendadak ada sesuatu yang melompat dari atas. Belum puas rasa terkejutku kembali terdengar suara gaduh berlarian satu arah, namun anehnya aku bertahan sambil terus memandang sosok di depanku yang beberapa menit lalu cukup menakutkan . Ternyata aku tak sendiri, beberapa temanku juga masih bertahan, sambil keheranan menatap beberapa  ranjang yang kosong. Perlahan mereka yang berlarian mulai berbalik, saling menanyakan apa yang terjadi. Mendengar itu aku hampir ngakak, mungkin insting mereka terlalu tajam, seperti seorang lause yang mendengar tertawa terbahak-bahak. Wanita itu terbangun karena terkejut mendengar keributan barusan, ia sempat merasa terjadi gempa. Apalagi ruangan itu ada di lantai dua, dengan ratusan penghuninya yang berhamburan satu arah.
" Ada apa ini " Tanyanya merasa terganggu, beberapa mulai kasak-kusuk, sedang wanita yang berada di depanku sedang di pijit seorang teman.
" Itu tadi mbaknya tiba-tiba teriak " Ucap teman yang menubrukku
" Emang kenapa teriak " Tanya staf lain, wanita yang di maksud terlihat kebingungan, bahkan ia tak menyangka menjadi penyebab kegaduhan itu sendiri. Selanjutnya kasak-kusuk tak banyak ku dengar karena tertutup detak jantungku yang terus berlomba.
" Ih beneran lo, mbak itu tadi nakutin banget " Ucap temanku bersumpah, ia semakin merapat ke arahku. 
" Lo aku tadi gimana turunnya " Gadis manis berkacamata itu bertanya, satu lagi penyebab jantungku hampir loncat.
" Kamu melompat dari situ tau " Ucapku jengkel sengaja ku tekan sambil menenangkan jantungku yang semakin tak kuruan, rasanya seperti mendadak di lamar orang yang jadi gebetan, atau apalah penafsirannya. 
Aku bukanlah orang penakut, apalagi rumahku di desa setiap hari keluar masuk melewati jalan terdekat bersebelahan dengan kuburan. Tak pernah pula aku pulang sebelum pukul sembilan, bahkan aku juga sering terbengong lama di depan makam. Jadi kali ini mungkin karena pengaruh lapar yang membuat seluruh bulu kudukku merinding, jantung tak henti berdetak juga entah rasa apa yang luar biasa. Reda sejenak, beberapa mulai mengambil wudhu dan shalat malam seperti yang di sarankah oleh Lause. Karena tragedi barusan, sudah di pastikan tak seorangpun berani turun ke lantai satu, di mana di sana berjejer rapi toilet yang biasa kami gunakan. Karena itu pulalah sekarang kami tau, di dekat kamar mandi paling pojok yang berdempetan dengan dua kuburan. Entah apa yang di pikirkan pemilik rumah dengan lebatnya pohon rambutan itu, membangun dua kuburan di depan rumah mereka.
" Mbak aku takut banget " Ucap seorang gadis putih yang ku yakini baru datang itu sambil mencengkrang temannya, kami sedang mengantri di kamar mandi atas.
" Kalian masuk bareng saja " Usulku yang di angguk i keduanya, sebenarnya aku sendiri tak karuan, namun aku terus berfikir positif. Setelah menuanikan hajat sekaligus berwudhu, ku lihat gadis tadi tidak jadi masuk dan justru kembali ke ranjangnya yang dekat jendela.
Setelah shalat sunah aku dan temanku berniat untuk tidur, apalagi staf yang tadi datang sudah kembali dan keadaan mulai tenang. Belum lama rasanya ku pejamkan mata ketika terdengar suara cekikikan tawa beriringan teriakkan ketakutan dari beberapa teman, walau tak seheboh yang tadi namun kali ini beberapa wanita itu mulai berteriak dan menangis. Juga gadis yang ku temui di depat toilet tadi ia tertawa serta menangis tertahan, beberapa teman yang berani segera mendekat dan mulai melakukan doa. Tiba-tiba teman di sebelahku menjerit, membuatku semakin merinding dan tak henti menyebut sang pemilik raga. Kejadian serupa mulai menjalar, semakin banyak yang melakukan hal yang tak wajar. Membuat kami yang tersadar tak henti berdoa dan membaca yasin berjamaah, air meneral di buka untuk di bacakan doa dan di minum bergiliran. Begitu seterusnya, malam yang mencengkam, seolah para penghuni lain itu ingin memberontak.
Aku ikut berkumpul membacakan doa pada seorang teman yang mengaku tak bisa bicara, mulutnya tersumbat, untuk mengeluarkan kata terasa berat. Juga sebaris dengan seorang wanita yang merasa di peluk ketika tidur, lalu banyak kasus lain yang mengaku di ganggu penghuni lain di tempat itu. Aku sendiri tak henti melafatkan surah Quran yang ku hafal, Tak ku biarkan pikiranku kosong dan tak akan pernah ku biarkan mahkluk lain itu menguasai tubuhku.
" Nduk ayo ikut " Dengan tanpa perasaan wanita yang pernah menjabat sebagai guru tk itu menarik tanganku
" Kemana mbak " Ucapku bingung
" Manggil lause di bawah "  Ucapnya sambil menuruni tangga, ku acungi jempol atas inisiatifnya, namun karena mengajakku ikut serta, rasa takjub itu melebur.
" Oh " Hanya itu yang terucap dari mulutku, sekalipun aku ketakutan setengah mati namun aku tak sampai hati membiarkannya pergi sendiri.
" Aku ikut " Ucap seorang teman yang kebetulan melihat kami menuruni tangga
Bertiga kami menyusuri lorong-lorong gelap itu, perasaan deg-degan ku yakini tak akan hilang dari dadaku. Toh nyatanya bukan karena takut ini yang menekannya, tapi rasa lapar yang tak tertahan. Aku mengekor saja, sambil berusaha mengalihkan perhatian cacing-cacing yang berdemo riang.
Perlahan ku ketuk pintu kamar lause, dan menceritakan banyak anak yang kesurupan sekarang. Lause hanya menyuruh kami untuk terus membaca yasin dan shalat sunnah, ia berjanji akan menyusul segera. Sekali lagi kami menyusuri lorong-lorong gelap itu dengan perasaan masing-masing, setibanya di atas tatapanku segera tetuju pada gadis berambut sebahu yang pernah bercerita memiliki pelindung. Segera ku dekati gadis itu, selain berharap aman, sore tadi ku sempat memergoki wanita di samping sang gadis memiliki sedikit simpanan makanan. Apalah daya, baru kali ini aku benar-benar kelaparan.
" Lagi apa " Tanyanyaku pada gadis itu
" Gak papa kak, sini kak " Gadis itu memberi ruang kosong di sampingnya untuk ku duduki
" Ah kebetulan " Batinku sebisa mungkin menyembunyikan rasa girang , tempat yang di tunjuk memang sangat dekat dengan yang ku tuju. Aku celingukan mencari sang pemilik yang ternyata tak cukup jauh, setelah berbisik padanya dan dia mengangguk membuatku nyengir lebar di antara bunyi perut yang cukup menyebalkan. Sambil duduk di samping sang gadis aku mencoba mencari secara sembunyi-sembunyi, mengingat ada larangan membawa makanan ke kamar membuatku harus hati-hati agar tidak ketahuan.
" Huuhuhuhu..." Tiba-tiba gadis di sebelahku menangis, membuat tanganku berhenti seketika.
Secara spontan tatapanku pun mengikuti ke mana netranya yang bening memandang, aku tercekat jantung yang masih saja berdetak sekali lagi terpompa cepat. Seiring bulu kuduk yang berdiri seolah hendak menyembul dari kain yang menutupi. Aku merasakan netraku yang semakin membulat, anehnya aku tak mampu mengalihkan pandanganku dari sesosok bocah di ranjang teratas. Bocah lelaki yang ku taksir berusia anak smp itu menyerigai dingin, seperti angin yang menampar kulitku. Aku ingin berteriak, atau setidaknya mengalihkan pandanganku pada bocah yang tak lucu itu. Namun seolah terkunci, bahkan tubuhku tak mampu ku gerakan sehingga dengan terpaksa harus ku lihat pemandangan yang menjijikan itu. Bocah berbaju merah itu berambut acak-acakan, merangkak perlahan dari ranjang tingkat dua menuju arahku. Wajahnya yang berlumuran darah, dengan beberapa bagian lain telah hancur. Mendadak aku mual, darah itu muncrat di seluruh tubuhnya semakin banyak. Kepalaku berat, aku ingat kata-kata lause yang menyuruh untuk tak mengosongkan pikiran. Tapi aku tak mampu memikirkan apapun, kepalaku serasa kosong tanpa mampu mengingat banyak hal. Semakin lama tubuhku menggigil hebat, ada sesuatu yang mencoba masuk dari ubun-ubun kepalaku. Sepertinya ia terus berusaha menguasai tubuhku yang semakin sulit ku kendalikan, mulutku tersumbat. Rangkaian Dzikir yang ku ingat tak mampu ku ucapkan, sedang bocah itu semakin mendekat, dengan peragainya yang semakin menakutkan.
Bocah itu merangkak tanpa mengalihkan tatapannya padaku, ia perlahan menuruni ranjang itu seperti ular yang terus merayap. Aku ingin menangis, mejerit atau apapun yang mampu melepaskanku dari keadaan semacam ini. Jarak wajahku dengan wajahnya semakin dekat, hanya beberapa centi saja sebelum ia benar-benar memakanku dengan mulutnya yang perlahan sobek dan melebar.
Tiba-tiba aku teringat hutang sepuluh juta di bank, sekalipun bukan aku pelakunya. Namun itu menjadi tanggung jawabku untuk melunasinya.
" Nduk " Sebuah tangan tiba-tiba memukul bahuku membuat tubuhku yang telah tertelan sebagian, mendadak terbebas dari rahang yang beberapa saat lalu hendak melumatku.
Aku ngos-ngossan, ku rasakan bahuku di urut perlahan, aku masih belum tersadar hingga sebuah teriakan mengalihkan perhatianku. Ternyata kejadian telah menguras tenagaku, walau demikian aku akan terus memikirkan sesuatu agar tak lagi ada mahkluk yang mendekatiku.
" Pergi ke temanmu Ndok, ia tidak bisa merasukimu tapi yang kamu lihat tadi masuk ke tubuhnya "  Wanita yang mengaku mempuanyai kemampuan seprinatural mendorongku pergi, wanita seusia ibuku itu segera menuju salah seorang teman yang berteriak tadi.
Tubuhku terasa berat, sekalipun langkah tlah ku lajukan, namun tubuhku mengeras serasa terlapis besi. Keberuntungan masih berpihak padaku, sebuah tangan menarikku untuk duduk di sampingnya. Seiring bayangan wanita berambut panjang yang melintas di depanku hendak menoleh, dan menghilang saat aku berhasil terduduk lesu.
Adzan subuh berkumandang, saat itulah hal-hal ganjil yang masih bertahan mendadak lenyap. Membuat keadaan kembali normal, beberapa teman saling berpelukan, hingga hari benar-benar terang, perlahan kami mulai berani keluar dan mulai melakukan piket lagi.
Hingga beberapa hari kami masih terbelenggu dalam ketakutan, tidak ada lagi yang berani naik ke lantai 3 tempat jemuran. Aktifitas yang biasanya masih bertahan hingga jam sembilan malam, kini sudah senyap kala azdan isya selelai berkumandang. Tak satupun yanng beradi sendiri, bahkan saat mandi beberapa masih memilih berbarengan. Entah sampai kapan kabut hitam yang menyelimuti pagar besi itu akan menghilang, walau sudah berminggu-minggu namun nyali masih menciut untuk kembali seperti dulu. Setidaknya itu juga memberi peringatan pada kita, bahwa ada bangsa lain yang selalu hidup berdampingan dengan kita. Di manapun tempatnya, akankah lebih baik bila mengikuti aturan yang di terapkan. Toh kita hanya menumpang, cari aman sajalah

Sabtu, 23 Maret 2019

cerpen



LUKA
Maharani, nama yang cantik bukan yang memiliki arti seorang pemimpin wanita. Mungkin nama itu cukup berat bagiku, seorang gadis desa sebagaimana mestinya lugu, kumal, bodoh serta miskin. Gelar-gelar yang tak akan pernah hilang dari rangkaian namaku, atau memang pantas ku sandang, mengingat akulah sulung dari sembilan bersaudara. Pemimpin dari saudara-saudaraku, mungkin itu yang di harapkan ayah dulu, apalagi ia menyerah dalam hidup saat aku memasuki bangku SMA, otomatisb beban itu lebih terasa berat. Namun aku bersyukur, setidaknya aku mampu lulus hingga SMA, sekalipun itu tak lepas dari kerja kerasku. Sejak SD aku sudah menjadi penghuni panti asuhan, di sela waktu sekolah aku mengambil kerja paruh waktu di pabrik. Setidaknya itu mampu menopang kebutuhanku, buku-buku serta beberapa iuran liar yang di minta sekolah. Pihak panti hanya mampu membayar biaya wajib saja, sejak kepergian ayahku, aku harus lebih pintar lagi membagi hasil jerih payahku.
Siang itu aku menangis pilu, pengabdianku di panti setelah lulus SMA telah usai, hingga aku memilih pulang ke rumah ibu. Namun miris, bukan senyum bahagia yang ku dapatkan, justru pemandangan yang mengiris ulu hati terpampang pahit. Wanita itu sungguh terlihat teramat kurus, mengangkat berbagai beban dari truk ke emperan toko, berulang-ulang. Belum cukup sampai di situ, rumah yang dulu terlihat kokoh, kini tampak bagai hutan belantara. Bagaimana tidak, setiap sisi rumah paling megah di masanya itu kini tumbuh berbagai jenis pohon menjulang tinggi,  pagar-pagar melingkar juga jembatan sebagai penghubung jalan keluar hancur, menyisakan serpihan-serpihan seperti hatiku.
" Mereka menutup jalannya Duk " Ucap Ibu melihatku termenung " Sini, ada jalan lain kok " Lanjutnya sambil menyeret tanganku melewati jalan setapak yang dulu takut ku lalui. Mengingat itu jalan yang cukup kecil dan sepi, belum lagi binatan-binatan liar sering terlihat di sana, terutama ular.
Berhari-hari aku meratapi semua ini, ku pikir fitnah itu telah usai, padahal pembuat perkara serta korban telah lama pergi. Ya, ayahku adalah korban fitnah warga desa, atau mungkin karena orang yang mereka dukung kalah, sehingga mereka mencari kambing hitam untuk pelampiasan. Hingga kini para penduduk desa masih memasang bendera perang pada keluargaku. Jadi ketika dengan manisnya rayuan-rayuan Pak Marjan tentang mudahnya menjadi TKW, dengan segera ku iyakan. Pesangon tiga juta amblas untuk menutup hutang, dan di penampungan adalah neraka berpagar besi kedua setelah penjara. Setelah melalui sekelumit peraturan tak masuk akal, akhirnya di bulan ke sembilan aku tiba di negeri formosa. Negeri keturunan orang cina yang banyak di idamkan wanita-wanita miskin sepertiku, beruntung aku mendapat majikan yang baik. Bahkan mereka menyayangiku sebagai keluarga mereka sendiri, tak pernah membedakanku. Aku menjaga seorang kakek yang lumpuh, ia memilki empat anak dan tinggal dengan anak pertamanya yang juga memiliki empat anak. Tak jauh dari rumahnya, anak perempuan terakhir kakek tinggal hanya berjarak beberapa meter.
" Rani, tolong antar kue ini ke tempat Nyonya Young " Pinta Khukhu padaku, anak terakhir Kekek itu memang sangat baik
" Baik Khukhu " Ucapku patuh sambil berjalan menuju rumah sederhana itu
Aku menyukai Nyonya Young yang sangat baik, wanita itu sering memberiku beraneka barang yang sudah tak terpakai. Juga anak perempuannya yang cantik, aku sudah sangat dekat dengan Xiejie kami cepat berteman sejak kedatanganku di sini. Sekalipun terlihat jelas perbedaan kami, namun tak menghalangi persahabatan di antara kami. Aku mengetuk pelan sambil memanggil Nyonya Young, beberapa saat kemudian wanita itu keluar sambil tersenyum.
" Ini Nyonya Young dari Khukhu " Ucapku sambil menyerahkan padanya bungkusan yang ku bawa
" Terimakasih " Mata wanita itu berbinar, ia berbicara keras agar terdengar oleh Khukhu yang duduk di teras depan, mereka terlibat obrolan cukup lama " Xie jie masih belum pulang " Ucap Nyonya Young di sela-sela obrolannya saat melihatku mencari-cari sosok Xie jie, aku tersenyum malu namun masih memperhatikan ruangan utama yang terlihat jelas itu.
Jantungku mendadak berdetak lebih cepat, memciptakan rasa cemas saat tanpa sengaja ku lihat seorang lelaki berusia 30 tahunan memandang tajam dan menjijikan ke arahku. Aku segera pamit dan bergegas kembali menemui Khukhu, Nyonya Young tersenyum tanpa tau apa yang terjadi padaku. Sejak saat itu aku mulai merasa ada yang memperhatikanku, terkadang aku takut duduk berlama-lama di ruang depan. Apalagi bila hari menjelang malam, perasan itu semakin membuat tubuhku merinding hingga aku selalu terburu-buru pergi dari sana.
Malam ini rintik hujan masih enggan pergi, entah sudah berapa lama aku terlelap kala sebuah ketukan membangunkanku. Aku mempertajam pendengaran, hening, beberapa menit kemudian ketukan itu kembali terdengar. Aku segera mengangkat tubuhku, perlahan ku langkahkan kaki agar tak membangungkan kakek yang tidur pulas. Ku buka perlahan pintu yang terbuat dari kayu , tatapanku terpaku pada bayangan hitam di rumah Nyonya Young yang gelap. Aku bergidik, kala kilat menyinari wajah pemilik bayangan, A Hong , ayah tiri Xie jie. Lelaki itu nampak sedang mencari sesuatu, terdengar umpatan dari mulutnya setiap kali ia gagal menemuka apa yang di cari. Tatapanku segera beralih tak kala ku dengar nafas memburu di depanku, Xie jie, gadis itu meringkuk di bawah kursi goyang kakek yang sengaja di taruh di depan. Aku mematung, saat ku rasakan tatapan lelaki yang baru beberapa bulan menikah dengan Nyonya Young melekat tajam ke arahku. Aku berusaha menahan gejolak hebat di dada, berharap lelaki itu tak melihatku, mungkin benar, atau dia hanya berpura-pura. Namun aku bernafas lega saat lelaki itu beranjak pergi menyusuri malam gelap yang membuat sosoknya menghilang cepat.
" Keluarlah, dia sudah pergi " Ucapku yakin ada sesuatu yang terjadi, gadis itu terdiam hingga aku mendekat ke arahnya ia terlihat sesegukan.
" Rani " Tangisnya seketika memelukku, dengan segera ku tarik gadis itu masuk dalam ruangan, aku takut bila lelaki itu tiba-tiba kembali.
Xiejie tetap membisu, walau lelaki paruh baya majikanku, yang memaksaku memanggilnya Shushu juga berada di sana. Shushu sedang bergadang dan segera turun ketika mendengar tangisan Xijie, lelaki itu hanya menasehati seperlunya sebelum memutuskan kembali ke kamar. Xiejie merasa besyukur saat Shushu membolehkan gadis itu menginap, ia memilih tetap di sampingku sekalipun Shushu menawarkan kamar kosong untuknya. Sunyi, Shushu telah beberapa menit yang lalu pergi, Xiejie masih terdiam walau kini tangisnya telah reda. Hujan di luar masih terdengar, membuat sang bayu berbisik dingin menyentuh kulitku. Aku merapat pada Xiejie, gadis itu bergeser memberiku sedikit ruang, tiba-tiba dia berbalik dan memelukku. Dalam remang malam, butiran bening itu kembali mengalir lebih deras beriring suaranya yang bergetar menusuk relung batin.
" Lelaki laknat " Desisku tak mampu menahan gejolak di dada, butiran bening itu kini juga ikut membasahi pipiku, kami berpelukan dalam isak tangis sepanjang sisa malam.
Entah mengapa, malam ini terasa sangat panjang, sekalipun telah ku pejamkan mata, namun ragaku masih terjaga. Pagi pertama Xiejie memutuskan segera pulang, ia bertekad segera pergi jauh dari rumah itu. Ku dengar mereka memiliki saudara di desa, mungkin itu akan lebih baik baginya untuk mrenenangkan diri. Setelah kejadian itu rumah Nyonya Young terasa sepi, aku tak lagi melihat Xiejie. Namun tatapan yang seolah-olah menelanjangiku itu masih ku rasakan, sesekali aku sempat melihat bayangan berdiri di balik kaca hitam rumah Nyonya Young. Entah siapa dan apa yang di lakukan oleh bayangan itu, apalagi kini aku harus sering ke rumah sakit karena kakek mendadak harus menginap. Membuat perhatianku tak lagi peduli dengan rumah bercat biru muda itu.
 Selang beberapa hari setelah ke pulangan kakek, kami di kejutkan oleh mobil ambulan yang datang dan berhenti di depan rumah Nyonya Young. Tanpa menunggu perintah, aku segera berlari melewati warga yang mulai berkumpul. Ku lihat Nyonya Young menyibak kain putih itu hingga menampilkan wajah ayu nan putih pucat. Aku tersentak, Nyonya Young meraung, tanpa mampu ku tahan butiran bening itu berlomba mengalir deras dikedua pipiku. Seseorang merengkuh bahuku sambil menarikku, perlahan menjauh dari kerumunan warga yang saling bertanya tanpa jawaban.
Segera memori malam kelabu itu berputar cepat di otakku, terutama luka tertahan Xiejie, saat menceritakan bagaimana teganya lelaki yang menjadi ayah tirinya itu merenggut kehormatannya. Kala itu aku hanya mampu menahan gejolak yang menekan di dada, namun tak ku sangka akan se jauh ini. Beberapa berita mengabarkan bahwa Xiejie bunuh diri, namun aku tau pasti, gadis itu tak mungkin melakukan hal itu. Bahkan saat kami beberapa kali bertemu mata gadis itu berbinar menceritakan cita-citanya, juga niat melupakan masa yang kelam dalam hidupnya.
Malam itu adalah malam ke tiga setelah kematian Xiejie, telah kesekian kalinya aku terbangun karena kakek memanggil. Kali ini lelaki yang hampir seabad itu ingin buang air kecil, setelah usai, segera ku bawa pispotnya ke luar untuk di buang ke got depan sekaligus di cuci. Sejenak aku menikmati cahaya bulan, semilir angin dingin berhembus halus menyapa. Mendadak ku rasakan cemkraman kuat di pundakku, belum sempat aku berteriak mulutku telah di bungkam kuat oleh tangan kasar, kedua tanganku terkunci di belakang. Tergenggam kuat oleh salah satu tangan kasar itu, aku menendang-nendang berusaha memberontak. Namun tenagaku tak cukup kuat untuk terlepas dari dekapannya, aku semakin bergidik kala tau siapa pelaku dari semua ini.
" Jangan macam-macam kalau kamu ingin selamat " Hembusan nafas hangat yang berbisik di telingaku semakin membuatku ketakutan.
A Hong, aku sangat yakin dengan pemilik suara itu. Aku terus mencari celah untuk melepaskan diri kala lelaki itu mulai menggiringku menjauh. Detak jantungku semakin tidak beraturan, ketika ku mulai tau kemana tujuan lelaki itu. Aku mulai putus asa, sekuat apapun aku meronta, lelaki itu semakin mempererat cengkramannya. Sekalipun mustahil, dalam ke putusasaan aku berharap ada seseorang yang lewat di sana. Namun, hingga tempat yang ku yakini pendukung perbuatann bejat A Hong semakin dekat, dan tak seorangpun yang terlihat. Benar saja, lelaki itu mendorongku di semak-semak yang memang jarang di jangkau orang, mengingat tempat itu hanyalah hamparan tanah kosong dengan rumput liar yang tumbuh menjulang tinggi. Aku berusaha menghindar dengan terus merangkak, seperti telah menduga saat kakiku di cemkram kuat, dengan segera ia berusaha menindihku. Aku terus meronta, melempar apapun yang mampu ku jangkau.
" Hentikan, apa yang kau lakukan " Bergetar suara ku paksa, lelaki itu menyerigai, namun ia tak berhenti sambil terus menggerayaiku yang panik.
Tiba-tiba aku teringat kebiasaan Take, anak pertama dari Shushu itu biasa mengendarai sepedahnya melewati jalan setapak di ujung. Entah untuk apa, namun aku sering memergoki lelaki pendiam itu keluar menyusuri malam. Semangatku kembali membara, aku tak mau menyerah pada lelaki penuh nafsu ini. Aku hanya perlu terus menggerakkan tanganku ke belakang dengan sedikit dorongan dari kakiku, karena saat itu aku dalam posisi terlentang. Perlahan ku angkat tubuh sehingga mempermudah tanganku untuk bergerak mundur. Sambil terus melempar apapun yang di janggkau oleh tanganku. Tubuhku terasa perih, apalagi tak hanya ranting dan batu yang menusuk tubuhku, namun beberapa becahan beling ikut menggores kulitku menembus baju yang ku pakai.
Aku memekik tertahan, saat lelaki itu dengan mudahnya berhasil menyobek bajuku. Rasa malu dan jijik mendera dasyat di ulu hati, aku meronta-ronta berusaha mengelak dari tangannya yang kasar. Di antara ketakutan luar biasa ku terus coba  mencari benda yang ada di dekatku, tiba-tiba tanganku merasakan sesuatu keras dan cukup berat. Tanpa pikir panjang, dengan sisa kekuatan ku ayunkan benda itu ke arah A Hong, walau tak meninggalkan luka berarti, setidaknya cukup membuat lelaki itu memberiku sedikit ruang. Tanpa pikir panjang ku paksakan tubuhku bergerak dan memacu langkahku walau harus merangkak. Benar dugaanku, mungkin nasib baik memang masih mendukung, dari arah yang tidak jauh nampak sebuah bayangan semakin mendekat, juga setitik cahaya yang ku yakini dari sepeda Ta ke. Aku berteriak dan sengaja menimbulkan suara juga ku goyangkan rumput-rumput liar, hanya itu kesempatanku. Apalagi pada detik berikutnya, lelaki itu telah berhasil mencengkramku dan memukulku hingga aku sempoyong terkulai lemas.
" Kau pikir ada yang mendengar " dalam temaram cahaya bulan, ku dapat melihat tawa sinis serta tatapannya menusuk tajam.
Aku berhasil menendang kakinya dan membuatnya mengerang, namun itu tidak lama. Karena aku mendapatkan perlakuan lebih buruk dari sebelumnya, berkali-kali lelaki itu menampar wajahku. Memukul, bahkan menekan kedua kakiku dengan tubuhnya yang berat, bayangan Xiejie tiba-tiba terlintas di benakku. Seperti inikah yang di rasakan Xiejie, bahkan aku tak berkedip saat benda hitam di tangannya itu siap meremukan kepalaku.
" Bruakk " Suara gaduh dan erangan kesakitan terdengar jelas, aku tau, bahkan saat sepeda kesangan lelaki berparas tampan itu melayang menghantang A Hong, lelaki itu terpental jauh.
Aku menjadi saksinya, sekalipun ku tak mampu lagi mengerakkan tubuhku, namun aku bisa merasakan amarah Ta Ke. Beberapa menit kemudian terdengar beberapa suara memanggil namaku, Ta ke yang telah usai dengan A Hong memapahku , menyeberangi semak-semak yang terasa sakit kala menyentuh kulitku. Khukhu segera memelukku dan memakaikan jaketnya pada tubuhku, beberapa warga segera menyeret A Hong. Aku tak peduli lagi apa yang terjadi pada lelaki itu, bahkan saat genangan di pelupuk mata tua Nyonya Young tak mampu di tahan. Juga jeritnya pilu saat Khukhu bercerita tentang perlakuan lelaki itu pada Xejie, ya aku menceritakan semua pada Khukhu. Di keadaan ini tentulah Nyonya Young yang paling terluka,  dalam sekejap ia harus kehilangan anaknya, juga kenyataan yang tidak pernah ia harapkan.
✳✳✳
Akhir musim gugur di penghujung senja, perlahan bintang-bintang kota mulai di nyalakan. Seiring malam berselimut gelap datang perlahan, para pedagang yang telah sibuk sejak mentari tergelincir ke peraduan. Terlihat bersemangat menjajakan dagangannya, barisan jajanan khas pasar malam memanjang di sepanjang jalan. Malam ini bulan purnama, namun benda langit itu belum tampak di langit yang menghitam. Dan ini adalah malam terakhir ku di sini, beberapa hari yang lalu kakek menghembuskan nafas terakhir dengan tenang. Besok aku sudah harus beranjak dari rumah Shushu ke majikan baruku, sehingga Khukhu mengajakku berbelanja di pasar malam untuk kenang-kenangan.
" Rani, berikan ini padanya " Ucap Khukhu sambil memberiku sebuah bungkusan, aku berjalan perlahan mendekat pada sosok wanita yang mencuri perhatianku sejak tadi.
" Nyonya Young, ini untuk anda " Ucapanku sepertinya mengagetkan wanita itu, terlihat dari reaksinya yang sedikit terlonjak.
Nyonya Young menatapku sejenak, ia tersenyum namun juga terisak menerima bungkusan itu. Penampilan wanita itu sangat berbanding terbalik dari beberapa waktu lalu, baju indah yang selalu di pakainya kini berganti dengan baju kumal dan bau. Bahkan wajahnya yang dulu sangat ia jaga, kini terlihat menghitam karena debu dan kotoran.
" Terimakasih " Ucapnya tulus " Dan maaf " Lanjutnya lagi sambil pergi meninggalkanku
Beberapa bulan setelah kejadian itu, ku dengar Nyonya Young menjual rumahnya untuk membayar hutang. Sedang Xiero, anak laki-lakinya sudah tidak perduli lagi dengannya, dan terus menyalahkannya atas kematian Xieji. Nyonya Young sendiri sekarang hidupnya terlunta-lunta, mengemis belas kasihan bahkan mengais sampah untuk makan.
✳✳✳
Siang ini cukup menggemparkan, ada kabar bahwa A Hong berhasil keluar dari penjara . Entah bagaimana caranya, tetapi itu membuatku tak tenang. Walau akhirnya aku meninggalkan tempat itu, tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan mencariku. Cukup lama aku terbelenggu dalam ketakutan, namun aku harus terus maju, tanggung jawab pada keluargaku lah yang terus memaksaku.
Hingga suatu malam, aku tak menyangka akan bertemu dengan lelaki itu sekali lagi. Aku takut, namun aku tak akan kalah dan sialnya lagi-lagi gelap mendukung. Aku terus berlari berusaha menghindari lelaki itu, sekuat mungkin aku harus sampai di keramaian. Setidaknya ia tak akan berani melukaiku, tetapi aku salah. Tempat itu justru memudahkannya untuk menangkap dan menyeretku sekali lagi, aku memberontak sambil terus mengharap pertolongan.
" Dasar anak kurang ajar, mau kabur kemana lagi kamu hah " Ucap lelaki itu sambil terus mencengkramku, aku mengiba memohon pertolongan pada beberapa orang yang lewat.
" Tuan jangan kasar seperti itu " Seorang ibu-ibu bersimpaati
" Maaf nyonya, anak ini memang nakal, dia suka kabur dari rumah, padahal aku dan istriku sudah memberi apa yang dia mau " Bahh, dia berbicara seolah-olah aku anaknya, kalau ada yang percaya ku yakin orang itu telah buta
" Istriku orang indonesia, jadi dia lebih mirip ibunya " Lanjutnya menjawab ke heranan beberapa orang yang melihat
Sial, apa yang harus aku lalukan sekarang, sambil berbisik ia terus menekanku untuk diam. Beberapa warga yang menonton mulai meninggalkan kami, aku semakin ketakutan, sekelebat bayangan ibu, juga rumah kumuhku terlintas. Air mataku tak mampu ku bendung lagi, bagaimana nasib mereka bila aku harus berakhir di sini. Aku terus bergelut dengan batin, aku tak boleh menyerah, tanggung jawabku masih belum usai, bayangan-bayangan mata penuh harap itu terus memaksaku bangkit. Ketika ku rasakan kelonggaran dalam cengkramannya, tanpa membuang waktu segera ku injakkan kakiku sekuat mungkin di kakinya. Aku juga menggigit jarinya yang mencengkram lenganku, aku terus berlari tanpa peduli lagi dengannya yang mengumpat. Setelah merasa cukup jauh dan yakin lelaki itu tak berhasil menangkapku, secepat mungkin aku segera pulang ke rumah majikan, yang keheranan melihatku acak-acakan sepulang liburan. Aku meminta ijin untuk istirahat, untung mereka segera mengiyakan tanpa bertanya lebih banyak.
Sejak hari itu aku selalu berhati-hati, menghindari pulang malam, juga berjalan sendirian sekalipun di keramaian. Aku terus memaksa temanku untuk mengantarku pulang, tak akan pergi bila temanku tidak menjemputku. Setidaknya aku sudah merasa aman, hingga berita yang di muat di koran. Aku tak tau, harus senang atau sedih melihat berita-berita yang di muat hampir seluruh media.
" Seorang buronan di temukan mati di pinggir pantai " Kurang lebih seperti itu lah berita yang di muat, tapi setidaknya aku lega walau miris juga mengetahui bagaimana lelaki itu pergi.
Beberapa hari kemudian kabar yang lebih mengejutkan beredar, adalah sosok Nyonya Young yang di temukan bunuh diri di sungai curam dekat rumahnya dulu. Mengingat itu aku bergidik, membayangkan bagaimana batu-batu runcing juga duri-duri yang menjalar di pinggiran sungai, mengangkap tubuhnya yang tak gempal lagi. Dengan itu terungkap alasan lain Nyonya Young menjual  rumahnya, wanita itu ternyata menyimpan dendam pada suaminya. Ia juga yang membebaskan sekaligus membunuh A Hong dengan bantuan preman yang di bayarnya.
Aku bergidik, mengingat rangkaian peristiwa selama berada di negeri formosa ini. Tidak ada yang tau masa yang akan datang, namun kita berhak memilih jalan hidup untuk terus melangkah, bahkan mengakhirinya dengan cepat.