Selasa, 07 Mei 2019

Ramadhan Syahdu


Beraneka rasa Ramadhan di rantauan

Bismillah..

Tacia hao, awal puasa tahun ini cukup menyenangkan bukan, seharusnya tidak juga sih, mengingat Ramadhan datang di akhir musim semi dan awal musim panas. Saat bunga-bunga sakura mulai mengering hingga daun-daunnya mulai menutupi tiap inci batang, juga menjadi tahun membludaknya para turis-turis berdarmawisata. Namun kita patut bersyukur, mengingat beberapa hari terakhir ini cuaca di beberapa titik kota taiwan sedang di landa hujan. Yang otomatis, udara cukup dingin setiap harinya dan hal itulah keuntungan bagi para pekerja migran seperti saya, ya walau dampaknya harus merasakan kebosanan karena di rumah saja. Padahal tahun-tahun lalu selalu bertepatan di musim panas, yang membuat hari terasa lebih panjang dari biasanya.



Tapi, bila di pikir ulang, saya rasa keadaan saat ini cukup menguntungkan, terutama bagi saya. Yang mengharuskan tiga kali sehari bolak-balik pergi ke rumah makan, walau banyak yang mendapat kebebasan untuk memasak di rumah majikan. Sepertinya itu tidak berlaku buat saya, yang sejak awal kedatangan di negeti formosa ini sudah di wanti-wanti untuk tidak memasak di rumah, alias beli. Walhasil, setiap hari harus keliling mencari makan yang tepat dan halal, emm,,, untuk yang satu ini saya mengaku deh sangat sulit. Secara, di negara non muslim ini sangat sulit mencari makanan yang berlabel halal, ya sekalipun tidak langsung memakan daging babi itu sendiri. Namun banyak laupan-laupan yang mengaku masakan yang mereka jual paling tidak memakai kuah dari kaldu babi, minyak, bahkan bumbunya pun juga kebanyakan berasal dari hewan satu itu.
Beda negara tentu beda juga peraturannya, bila di indonesia tanda-tanda Ramadhan datang bakal di sambut meriah. Hal itu tentu tak berlaku bagi kita yang berada di perantauan yang notabenya penduduk non muslim ini, alhamdulillah banyak para majikan yang mulai mengetahui dan memahklumi agama islam dan membebaskan kita untuk melaksanakan ajaran agama. Tapi sekalipun sudah tahu, belum tentu juga mereka mengerti, bahkan ada beberapa majikan yang takut saat kita mengutarakan untuk berpuasa sebulan penuh. Lalu memakai hijab dan melakukah ibadah shalat, berbagai tanggapan negatif majikan sering terdengar dari beberapa teman saat kita bertemu. Tapi itu memang sudah menjadi resiko bekerja di negara non muslim, apalagi mereka memang sangat awam dengan agama islam.
Godaan juga datang dari para warior


 Ya, sebenarnya godaan paling berat itu tentu saja dari para Warior ( warga senior ) Ama atau Akong yang kita jaga. Tentunya, sebagai orang yang merasa hidup lebih lama, lebih pengalaman kelakuan mereka sering membuat darah tinggi. Belum lagi perintah-perintah aneh bin ajaib yang wajib di lakukan, cukup menguras tenaga dan pikiran. Tak heran bila sejak tiba di negara keturunan orang cina ini, saya jadi lebih pandai misuh atau menyebut nama para penghuni kebun binatang. Walau awalnya terasa berat, namun lama-kelamaan itu menjadi kebiasaan yang menakutkan, saat sadar mungkin sudah terlambat. Belum lagi bila mendadak mendapat kabar dari keluarga di rumah, serasa belum cukup umpatan-umpatan dan tangis yang tertahan. Bahkan terkadang belum cukup dengan kabar-kabar miring dari keluarga, terkadang permintaan mendadak dari mereka cukup membuat kita di sini kalang kabut, hingga terpaksa memelas berhutang. Padahal kebutuhan kita di sini sendiri belum banyak tercukupi, sekalipun gaji besar, biaya hidupnya pun seimbang. Masih saja di tuntut untuk tetap profesional dalam bekerja, saat sakit saja bila tak cukup parah harus sekuat tenaga di tahan. Untuk berkeluh kesah saja merasa tak pantas, hingga sering kali menangis sendiri tanpa di ketahui oleh majikan, kaluarga dan teman.



Bila di indonesia, siang hari banyak warung yang tutup, tentunya berbeda dengan negara ini. Jangan harap kita temukan rasa tenggang rasa seperti di negara tercinta, cukup majikan paham dan menerima keyakinan kita, itu sudah sangat luar biasa. Bahkan saat saya menulis ini, di siang yang berawan dengan sedikit rintik hujan, saya menemani nenek makan di salah satu warung makan. Tatapan heran serta beberapa cemoohan sudah mengebal di telinga, mereka mempermasalahkan hijab, shalat, juga puasa Ramadhan yang saya laksanakan. Bahkan entah sengaja atau tidak, beberapa pengunjung dengan sengaja menyantap makanannya cukup berisik. Belum lagi aroma yang sering kali menggelitik hidung selalu mampir tanpa permisi. Tapi ya sudahlah anggap saja kenikmatan yang tidak di sengaja, toh hanya kita dan tuhan saja yang tahu amal kita.


Nah dengan beberapa penggal kata yang saya tulis, saya berharap semoga bermanfaat dan tetap menjadikan kita lebih bersyukur dengan apa yang kita dapat. Tuhan lebih tahu kebutuhan kita daripada keinginan kita bukan, ambil sisi positif dari semua kejadian di sekitar. Setidaknya kita patut bersyukur dengan segala kenikmatan yang masih terus di berikan secara gratis pada kita. Tidak perlu membandingkan dan menginginkan kehidupan seseorang, karena belum tentu orang tersebut menikmati apa yang di inginkan orang lain.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar