Minggu, 25 Agustus 2019

Sehari di Taipei

Libur seharian di taipe?

Asalamualaikum 

          Mungkinkah, libur sehari saja di Taipei sudah dapat berkunjung ke banyak tempat, seperti sebuah istilah umum “Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui”. Kenapa tidak, sekalipun bila di bandingkan dengan negara tercinta, biaya yang harus di keluarkan di negara keturunan orang Cina ini lebih besar. Namun gak menutup kemungkinan untuk kita yang lagi kere, atau berbiaya minim tidak dapat menikmati keindahan Taipei lo. Sebagai ibu kota negeri Formosa, Taiwan, cukup banyak daerah wisata yang cukup menarik dan tentunya murah bagi para pelancong maupun PMI.  Terutama bagi teman-teman yang sudah berada di Taiwan dan bingung ketika ingin liburan, dan bagi yang masih di Indonesia ya perlu lebih banyak pengeluaran tentunya. Terlebih, bekerja di Taiwan memang tak sebebas di banyak negara lain, terutama dalam meminta libur atau cuti.
           Seperti minggu kemarin, tepatnya di tanggal 18 Agustus sehari setelah hari kemerdekaan Indonesia. Bertepatan pula dengan sembahyang bulan hantu, entahlah apa maksudnya itu, tapi mereka memiliki kepercayaan yang cukup banyak tak ku ketahui. Juga keadaan yang tidak memiliki banyak alat pembayaran, yah biasa telat atau mungkin di sengaja. Namun janji yang sudah tersusun beberapa bulan lalu harus tetap terlaksana sekalipun hujan berkunjung. Untungnya tempat yang ku huni dekat dengan MRT, sehingga memudahkan ku untuk menjelajahi beberapa tempat wisata di Formosa ini. 


          Tempat pertama yang menjadi tujuanku saat itu adalah Tsamsui, terletak paling pojok di jalur merah MRT. Menariknya, di tempat ini selain di suguhi pemandangan yang cukup menarik, ada tempat lain yang menjadi daya tarik tersendiri. Ialah Bali, iya Bali tempat itu juga bernama Bali mirip pulau dewata kebanggaan Indonesia. Sama-sama harus menyeberang untuk kesana, juga sama-sama memiliki pantai yang indah. Namun keindahannya aku tak dapat menjelaskan, ya memang aku tak pernah berkunjung ke pulau pemilik tari pendet itu.




          Untuk menyeberang ke Bali, di anjurkan untuk menggunakan kapal yang sudah di sediakan di sana. Hanya dengan membayar 65 Nt, atau setara dengan Rp. 29.000 kita dapat pelayanan untuk pulang pergi dari Tsamsui ke Bali. Sama seperti pantai atau tempat wisata lainnya, selain di suguhkan pemandangan yang indah, banyak penjual makanan maupun suvenir di sana.
       Setelah merasa cukup, segera ku putuskan menuju tempat lain yang masih berada di jalur merah. Chiang Kai Shek Memory Hall atau sering di sebut CKS, yang terdiri dari beberapa bangunan bersejarah di masanya. Jarak antara bangunan satu ke yang lain juga tidak cukup jauh, sehingga pengujung dapat leluasa mengambil gambar di sana. Setelah puas mengelilingi museum itu kami memutuskan untuk ke stasiun Taipei, menurutku di sinilah tempat paling menarik. 


       Selain menjadi pusat stasiun di Taipei, juga menjadi tempat wisata yang banyak di minati oleh pengunjung, termasuk para imigran yang menetap di sana maupun sementara. Mengapa demikian, tentu saja selain tempatnya yang terjangkau oleh banyak kendaraan, terutama bis yang juga menjadi terminal bis dari luar maupun dalam kota. Tempat itu juga cukup luas, tak heran bila sering kali di adakan kegiatan di sana. Terutama dari para PMI itu sendiri, contohnya di minggu kemarin bertepatan kemerdekaan Indonesia . Organisasi Islam di Taiwan mengundang Gus Miftah untuk mengisi pengajian di sana. Selain itu juga banyak di adakan lomba Agustusan dari berbagai komunitas resmi Indonesia di Taiwan. Juga ada pertunjukan reog Ponorogo yang berasal dari wilayah penulis di Indonesia. Terasa di negara sendiri, di kelilingi banyak teman dengan berbagai bahasa, budaya juga wilayah tentunya. Ada rasa bangga ketika tak hanya warga negara Indonesia saja yang menjadi penonton dari serangkaian perataan tersebut. 




       Aku bahkan bertemu dengan beberapa warga Jepang, Korea juga warga taiwan itu sendiri. Namun hal yang lebih penting adalah rasa rindu yang terobati setelah cukup lama berada di tengah-tengah warga asing, dengan bahasa asing pula. Jadi tak heran, bila banyak air mata yang tertumpah saat bertemu kawan-kawan di sana. Sehari mendengar sekeliling dengan bahasa yang sama, itu sungguh luar biasa bagi kami. Setidaknya mampu sedikit menjadi obat rindu pada kampung halaman yang terpaksa di tinggalkan. 
      Mungkin bagi sebagian orang terlihat cukup lebay atau terlalu berlebihan, namun bagi mereka yang merasakan merantau. Jauh dari keluarga, sodara, bahkan dengan bahasa yang berbeda itu akan menjadi pemahaman lain. Setidaknya banyak hal yang dapat kita ambil hikmahnya dari merantau, terutama di saat hari-hari besar nasional yang hanya mampu kita dengar dari telepon maupun berita saja. Namun itulah risiko yang harus di tanggung para rantau an, yang bahkan ketika sakit pun kita tetap di tuntut untuk profesional. Pokoknya ngalahin artis yang lagi akting baik-baik saja sampai bahan tangis gitu, yang jelas sakitnya itu beneran. 
      Oya di stasiun Taipei ini jangan di bayangin bakal nemuin pemandangan layaknya stasiun lain ya, tentunya berbeda dong. Apalagi menjadi tempat favorit PMI nongkrong di sana, dan kalau rindu makanan Indonesia tercinta. Di sekitar sana ada kok penjual atau warung-warung yang nyediain makanan kas Indo banget. Lalu ada satu kereta mati yang dapat di pakai untuk Selfie, atau beberapa patung dan baygroun di sana juga bagus. 
       Lalu selanjutnya mari kita berselancar ke bawah tanah, yang sangat panjang dan berliku-liku layaknya sarang semut. Kalau di sini penulis paling gak bisa kalau gak beli, pasti sekalipun cuma baju murahan, jam atau aksesorisnya lainnya yang bikin ngiler banget bagi yang doyan belanja. Ada dua arah yang wajib di jelajahi arah memanjang yang menuju pintu keluar dari Y1-sampai Y21 apa lebih ya, soalnya aku pribadi gak pernah sampai ke sana. Paling juga Cuma ke Y13 yang menjadi jalan keluar terdekat menuju rumah si bos. Namun jangan sala, keluar dari bawah tanah kita masih akan di suguhi pemandangan yang menggoyang lidah. Apalagi kalo bukan pasar malam Ning Xia, jajanan khas Taiwan di suguhkan dengan menarik di sana. Selesai dari pasar malam kita menuju Carefour, yang terletak di samping kantor polisi.
      Sampai di sini saja ya ulasan ku tentang beberapa tempat menarik di Taiwan, masih banyak sih namun aku sendiri belum cukup puas menikmati wisata di sini. Jadi bagi yang ingin liburan ke Taiwan, terutama yang dari Indonesia. Jangan lupa untuk cari info dulu ya, biar tidak kesasar maupun salah ambil tempat yang seharusnya di kunjungi di sini. Semoga tulisan yang acak-acak kan ini cukup berguna bagi semua, terutama bagi penulis sendiri. Wassalamualaikum wr. Wb.

Senin, 05 Agustus 2019

Menua (cerpen)

Tantangan dari mbak @riana
Tema : perpisahan

Menua ???


Di musim panas yang sering bikin meriang, apalagi sering kali  butiran-butiran bening yang  selalu datang keroyokan itu tak pernah memberi kabar.  Taman kota yang beberapa bulan lalu masih menjadi tempat favorit untuk saling meluapkan bualan, atau mengumbar segala cerita dari para Lambe turah yang memang datang dari pengangguran. Para warior, warga senior atau orang tua yang merasa hidup lebih lama, yang tak mendapat uang pensiunan hanya bantuan pemerintah untuk meringankan beban. Kini hanya terisi sekelompok tunawisma yang memilih rebahan di sana, sedang para orang tua berserta penjaganya itu  tengah asyik bercemkraman di pusat belanjaan, Ngadem. Tak jarang pula kini obralan lebih menarik dari sekumpulan Semanggi berdaun empat yang mulai bermekaran.

“ Apaan sih bikin status aneh begitu “ Tulisnya di inbox beberapa detik kemudian setelah ku buat status  facebook
“ Kan sedang ngetren “ Balasku kemudian
“ Bukan berarti kita juga ikut-ikutan kan “ Tulisnya lagi
“ Tapi apa salah nya berharap seperti itu, menua bersama seseorang yang kita cintai apa itu salah “ Balasku mulai kesal

Iya sih, dia memang bukan tipe orang yang suka ikut-ikutan sesuatu yang sedang rame kala ini. Namun bukan berarti dia ketinggalan jaman ataupun gagap teknologi, hanya saja dia memang tidak menyukai sesuatu yang menurutnya aneh dan tak bermanfaat itu. Seperti kala ini, jangankan orang-orang biasa seperti kita, bahkan kalangan artis juga sudah banyak yang memakai aplikasi itu. Bukankah hidup sudah cukup susah, kenapa harus lurus-lurus saja sekali-kali bertingkah gila atau norak itu hal biasa bukan. Apalagi di sela-sela rutinitas yang melelahkan ini, jauh dari keluarga pula. Tapi ya sudahlah, sebagai seorang penulis yang memilih untuk mengasingkan diri, gadis manis yang ku kenal sejak di sini itu tetap keuh-keuh.

“ Tapi aku sudah lelah “ Jawabnya kemudian
“ Itu bukan alasan masuk akal” balasku cepat
“ Aku tak ingin sampai seperti itu, terlihat lemah dan peot “ Tulisnya “ Cukuplah melihat anak-anakku menemukan belahan jiwanya, berkeluarga dan hidup bahagia, tanpa ada aku yang mungkin akan merepotkannya “ Lanjutnya “ Bukankah mereka sudah sibuk dengan tanggung jawab yang besar pula, haruskah kita ikut mengusik dan merepotkannya juga, tak mungkin dalam keadaan serenta itu kita dapat melakukan apapun sendiri tanpa mengusik anak-anak kita, tak mungkin bila kita dapat hidup hingga setua itu tak ada keluhan penyakit “ Aku tertekun, meresapi kalimat demi kalimat yang di tulis sahabatku itu.

Ku lirik wanita-wanita senior yang kini sedang bercemkraman, membahas banyak hal yang tak pernah ku pedulikan. Sesekali terdengar tawa dari candaan yang mereka lontarkan, sebelum beberapa mulai mengeluhkan penyakit-penyakit yang datang serta biaya yang tak sedikit terpaksa di keluarkan.

Salah seorang dari mereka adalah wanita lansia yang masih terlihat paling sehat di antara yang lain, ia dapat berjalan sendiri sekalipun lambat-lambat, memasak, bahkan menaiki tangga yang cukup tinggi itu sendiri. Namun tak jarang pula ia mengeluh dengan beberapa penyakit yang mulai datang juga beberapa kesulitannya untuk melihat lebih jelas.

Beberapa dari mereka bahkan banyak yang harus sering bolak-balik rumah sakit untuk kontrol, cek ini dan itu serta melukakan beberapa terapi yang entah kapan akan berakhir. Meminum obat yang tak sedikit jumlahnya, bahkan sering kali harus menahan makan makanan yang mereka inginkan.


Lalu, mungkinkah mereka dapat melakukan itu sendiri tanpa bantuan orang lain, tidak. Sekalipun mereka telah memiliki seorang penjaga, bukankah mereka menggunakan uang anak-anaknya. Sekalipun mereka memiliki uang simpanan, mereka tak akan mampu mengolahnya sendiri bukan, di situlah kadang mereka merasa wajar bila anak-anak mereka yang harus memeras otak untuk kebutuhannya.

“ Aku sudah susah payah membesarkannya hingga SE sukses itu, wajar kan kalau kini aku meminta hal yang sama “ Lontar seorang nenek
“ Bukannkah mereka sudah cukup berat dengan keluarga mereka “ Tanyaku lagi
“ Ya itulah hidup “ Jawabnya singkat tanpa peduli tanda tanya yang masih mengambang di kepala ini

Ya mungkin banyak dari para orang tua berpikir seperti itu, bahkan tak jarang mereka juga mulai ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Sehingga banyak terjadi pertempuran barang rumahan yang telah berubah fungsinya, hingga berakhir kata pisah yang memutus langsung hubungan keduanya.

“ Anakku yang bungsu minggu depan menikah say, lusa aku akan pulang ke Indo “ Tulisanya membuyarkan lamunanku
“ Oh Iya ce, salam buat keluarag ya “ Balasku ikut senang, mengingat ia begitu gigih berjuang selama ini
“ Iya say, kamu jaga diri baik-baik ya “ Tulisnya lagi “ Jangan ngeluh terus “ Lanjutnya yang ku balas dengan stiker saja, sebab saat itu aku memang cukup sibuk menjaga nenek yang entah mengapa hari ini begitu rewel.


Hingga beberapa jam kemudian tak juga ku temukan inbox darinya, bahkan keesokan hari dimana hari kepulangannya tak juga ku dapat salam perpisahan darinya.
“ Mungkin kah dia marah “ Pikiran itu terus berkumul di kepalaku, selain merasa bersalah aku memang tipe orang yang gampang rasa sehingga sering merasa tak enak sendiri.
Status di Fb sudah ku hapus, walau masih tersimpan di memori hp sehingga tak mungkin ia mengetahuinya bukan.

Fikiran tak enak itu makin menjadi, kala ku sambangi beranda Fb nya yang sepertinya tak tersentuh beberapa hari ini. Inbox yang ku kirimnya tak di gubrisnya juga pesan via WhatsApp yang hingga kini masih centang satu.
“ Say aku pamit ya, maaf bila ada salah kamu jaga diri baik-baik ya say dan jangan boros “ Sebuah Sms via wa darinya masuk beberapa menit setelah ku merasa putus asa
“ Iya ce, hati-hati kalau sudah sampai jangan lupa kasih kabar ya “ Kirimku cepat seiring berita live yang di siarkan di TV

Aku tercekat, segera saja ku pandangi sebuah foto tiket yang beberapa saat lalu masih sempat di kirimnya. Kalimat demi kalimat yang keluar dari pembawa acara TV itu membius ku, seolah tak percaya segera ku ganti Channel untuk kepastian berita mendadak itu.

Aku terkulai lemas, lutut ku terasa mati rasa begitupun tubuhku bergetar hebat seiring deraian air mata yang meluap tanpa mampu ku bendung. Aku tak percaya, dan tak akan pernah percaya, burung besi yang membawa sahabatku itu pergi untuk selama-lamanya . Aku sesenggukan gelak tawa serta senyum tengahnya masih terbayang di pelupuk mata. Ini tak adil, mengapa ia harus bengi begitu cepat setelah ia harus begitu lelah menanggung beban. Dan kini akhir dari perjalanan panjangnya, ia harus berakhir tanpa mampu menikmati hasil jerih payahnya.

Tiba-tiba rasa benci menyeruak bebas, pada ketiga adiknya, pada suaminya, juga pada anak-anaknya yang terus merengek-rengek atas hasil kerja kerasnya selama ini. Merekalah yang tega terus menerus memeras keringatnya, memeras seluruh tenaga dan pikirannya. Merekalah yang tak pernah mau tahu perjuangan beratnya selama di rantau an, dan karena mereka pulalah kini sahabat terbaik ku pergi untuk selama-lamanya.



Jum’at, 26 Juli 2019                             12:07
Datong, taipe

Sabtu, 03 Agustus 2019

陣頭 (Din Tao: Leader of the Parade)

 陣頭 (Din Tao: Leader of the Parade)

Kategori : review film
Oleh.  : Ifa Cahyani (aiay)





Adalah sebuah film tentang festival kebudayaan Taiwan, yang mana dalam film ini Alien Huang(黃鴻升)  salah satu artis Taiwan kegemaran penulis beradu akting dengan Alan Ko (柯有倫, AKA Allen Ko), yang menjadi pemeran utama dalam film ini. Ya walau si tampan 黃鴻升 menjadi pemeran kedua, namun penampilan lelaki kelahiran 28 November 1983 itu tetap saja memukau.
Di sini 黃鴻升sebagai Ah Xian  Putra Wu Zheng, kepala resimen Zhentian, yang menjadi rival pemeran utama. Ah Xian mahir dalam semua bidang Din Tao, tetapi selalu egois, dan suka menantang dirinya sendiri untuk membuktikan dirinyalah yang paling hebat. .

Awalnya Ah Tai terpaksa sekolah musik di Taipe, keluar dari tanah kelahirannya Taichung setelah ketahuan oleh ayahnya sendiri yang seorang fanatik Din Tao, sedang mencoret-coret 太子 (Taizi ) semacam ondel-ondel Taiwan yang biasanya juga di beri nama lain di samping Taizi yang berarti juga pangeran. Ayahnya murka, tentu saja selain berbentuk boneka seukuran manusia, Taizi termasuk  yang harus di hormati seperti para dewa mereka.
Setelah dewasa ia kembali lagi ke Taichung, ya walau awalnya Ah Tai tidak berkeinginan untuk terjun langsung dalam dunia Din Tao, ia ingin mencari uang dan melanjutkan studinya ke Amerika. Namun karena suatu hal yang tak dapat ia Ingkari, ia harus berusaha keras mengembangkan pertunjukan Din Tao itu.





Berawal dari saat ayahnya menghampiri seorang yang menitipkan anaknya , dia juga mengeluh sudah banyak sekolah yang tidak sanggup menjaga Lízi. Apalagi Lizi memang menyandang kebutuhan khusus atau tidak normal, namun justru Lizi lah yang nanti menjadi penyemangat para anggota lain.
Secara kebetulan mereka bertemu dengan Ah Tai yang sedang ikut sebuah seni musik 西索米 (Xī suǒ mǐ). Ayah Ah Tai marah dengan apa yang di lakukan Ah Tai, sepanjang perjalanan pulang mereka terlihat saling beradu mulut. Bahkan saat mereka terpaksa mendorong kendaraannya yang mogok, mereka masih tampak saling menyalahkan. Hingga mereka bertemu dengan kelompok Ah Xian yang kemudian saling mengejek hingga terjadi perkelahian,  perkelahian itu berakhir dengan Ah Tai yang berjanji memenangkan kontes Din Tao enam bulan ke depan. Mendengar janji Ah Tai tentu saja membuat kelompoknya kesal, apalagi mereka tahu siapa kelompok Ah Xian yang terkenal akan atraksinya. Dan terlebih bila mereka kalah, mereka harus meninggalkan Taichung
Ah Tai tidak menyerah, ia terus memberi semangat teman-temannya untuk tetap semangat. Walau berkali-kali mereka hampir menyerah dan terus mengeluh, apalagi Ah Xian sering kali mengejek latihan mereka. Namun Ah Tai terus berusaha mencari agar semangat teman-temanya kembali bangkit.
Di sinilah peran Lizi sangat keren menurutku, karena lelaki itu terus saja membuat semangat yang lain memabara, bahkan saat Ah Tai tidak ada, mereka melakukan pertunjukan yang cukup memukau.
Semangat mereka kembali bangkit, bahkan mereka melakukan latihan lebih extra, berjalan kaki sambil membawa alat tabuh. Di sela-sela latihan mereka juga ada pertunjukan Ah Xian yang cukup memukau.


Ah Tai dan teman-temanya semakin semangat berlatih, bahkan di sela-sela latihan mereka sempat bertemu seorang wartawan TV yang akhirnya terus meliput kegiatan mereka.
Melihat kelompok Ah Tai yang masuk TV tentu saja membuat Ah Xian kebakaran jenggot. Akhirnya mereka membuat tantangan lain, yaitu siapa yang dapat sampai lebih dulu di atas gunung adalah pemenangnya.
Karena sudah berlatih keras dan sering kali berjalan jauh, tentu saja kelompok Ah Tai terlihat lebih fit di banding kelompok Ah Xian yang sudah terlihat kelelahan. Bahkan saat naik gunung salah satu anggota Ah Xian sempat terjatuh, namun karena ambisinya untuk menang, membuat Ah Xian tidak perduku dan terus saja menaiki gunung. Kelompok Ah Tai yang melihat segera menolongnya, mereka tampak saling menolong ketika sampai di atas gunung, Ah Xian yang kegirangan karena berhasil sampai di atas terlebih dulu mulai sadar.



Dari situlah Ah Xian mengerti arti sebuah kebersamaan adalah untuk saling membantu, sehingga ia memutuskan untuk mulai berkolaborasi dengan kelompok Ah Tai. Mereka berdua terlihat kompak saling mengajari hal yang tidak mereka ketahui.
Di saat keduanya kompak untuk pertunjukan Din Tao, di sisi lain kedua orang tua mereka yang bermusuhan kini mulai bersatu menentang apa yang di lakukan keduanya. Mereka menganggap apa yang anak-anak mereka lakukan bukanlah Din Tao, mereka terlihat sangat kecewa dengan berbagai perubahan yang di lakukan keduanya.
Bahkan saat Ah Tai dan Ah Xian  meminta restu sambil memberi tiket, kedua orang tua itu menolaknya dengan kasar. Bahkan di hari pertunjukan, kedua orang tua yang merasa kecewa itu lebih memilih diam di rumah daripada menonton pertunjukan anak-anaknya, hingga seorang guru sepuh mereka datang dan mulai menyadarkan keduanya.



Finally, mereka benar-benar menunjukkan pertunjukan keren yang telah di aransemen dari perpaduan tradisional dan moderen. Di akhir acara, atas inisiatif pembawa acaranya sehingga di layar di perlihatkan keluarga masing-masing dati para pemain. Rasa haru sekaligus bangga nampak jelas di setiap mata mereka, setidaknya mereka telah berhasil membuat pertunjukan yang memukau tanpa menghilangkan kesenian tradisional itu sendiri.
Itulah review film yang telah saya jabarkan, semoga bermanfaat

Minggu 4 Agustus 2019      12:12
Guisui, Taipe