Senin, 05 Agustus 2019

Menua (cerpen)

Tantangan dari mbak @riana
Tema : perpisahan

Menua ???


Di musim panas yang sering bikin meriang, apalagi sering kali  butiran-butiran bening yang  selalu datang keroyokan itu tak pernah memberi kabar.  Taman kota yang beberapa bulan lalu masih menjadi tempat favorit untuk saling meluapkan bualan, atau mengumbar segala cerita dari para Lambe turah yang memang datang dari pengangguran. Para warior, warga senior atau orang tua yang merasa hidup lebih lama, yang tak mendapat uang pensiunan hanya bantuan pemerintah untuk meringankan beban. Kini hanya terisi sekelompok tunawisma yang memilih rebahan di sana, sedang para orang tua berserta penjaganya itu  tengah asyik bercemkraman di pusat belanjaan, Ngadem. Tak jarang pula kini obralan lebih menarik dari sekumpulan Semanggi berdaun empat yang mulai bermekaran.

“ Apaan sih bikin status aneh begitu “ Tulisnya di inbox beberapa detik kemudian setelah ku buat status  facebook
“ Kan sedang ngetren “ Balasku kemudian
“ Bukan berarti kita juga ikut-ikutan kan “ Tulisnya lagi
“ Tapi apa salah nya berharap seperti itu, menua bersama seseorang yang kita cintai apa itu salah “ Balasku mulai kesal

Iya sih, dia memang bukan tipe orang yang suka ikut-ikutan sesuatu yang sedang rame kala ini. Namun bukan berarti dia ketinggalan jaman ataupun gagap teknologi, hanya saja dia memang tidak menyukai sesuatu yang menurutnya aneh dan tak bermanfaat itu. Seperti kala ini, jangankan orang-orang biasa seperti kita, bahkan kalangan artis juga sudah banyak yang memakai aplikasi itu. Bukankah hidup sudah cukup susah, kenapa harus lurus-lurus saja sekali-kali bertingkah gila atau norak itu hal biasa bukan. Apalagi di sela-sela rutinitas yang melelahkan ini, jauh dari keluarga pula. Tapi ya sudahlah, sebagai seorang penulis yang memilih untuk mengasingkan diri, gadis manis yang ku kenal sejak di sini itu tetap keuh-keuh.

“ Tapi aku sudah lelah “ Jawabnya kemudian
“ Itu bukan alasan masuk akal” balasku cepat
“ Aku tak ingin sampai seperti itu, terlihat lemah dan peot “ Tulisnya “ Cukuplah melihat anak-anakku menemukan belahan jiwanya, berkeluarga dan hidup bahagia, tanpa ada aku yang mungkin akan merepotkannya “ Lanjutnya “ Bukankah mereka sudah sibuk dengan tanggung jawab yang besar pula, haruskah kita ikut mengusik dan merepotkannya juga, tak mungkin dalam keadaan serenta itu kita dapat melakukan apapun sendiri tanpa mengusik anak-anak kita, tak mungkin bila kita dapat hidup hingga setua itu tak ada keluhan penyakit “ Aku tertekun, meresapi kalimat demi kalimat yang di tulis sahabatku itu.

Ku lirik wanita-wanita senior yang kini sedang bercemkraman, membahas banyak hal yang tak pernah ku pedulikan. Sesekali terdengar tawa dari candaan yang mereka lontarkan, sebelum beberapa mulai mengeluhkan penyakit-penyakit yang datang serta biaya yang tak sedikit terpaksa di keluarkan.

Salah seorang dari mereka adalah wanita lansia yang masih terlihat paling sehat di antara yang lain, ia dapat berjalan sendiri sekalipun lambat-lambat, memasak, bahkan menaiki tangga yang cukup tinggi itu sendiri. Namun tak jarang pula ia mengeluh dengan beberapa penyakit yang mulai datang juga beberapa kesulitannya untuk melihat lebih jelas.

Beberapa dari mereka bahkan banyak yang harus sering bolak-balik rumah sakit untuk kontrol, cek ini dan itu serta melukakan beberapa terapi yang entah kapan akan berakhir. Meminum obat yang tak sedikit jumlahnya, bahkan sering kali harus menahan makan makanan yang mereka inginkan.


Lalu, mungkinkah mereka dapat melakukan itu sendiri tanpa bantuan orang lain, tidak. Sekalipun mereka telah memiliki seorang penjaga, bukankah mereka menggunakan uang anak-anaknya. Sekalipun mereka memiliki uang simpanan, mereka tak akan mampu mengolahnya sendiri bukan, di situlah kadang mereka merasa wajar bila anak-anak mereka yang harus memeras otak untuk kebutuhannya.

“ Aku sudah susah payah membesarkannya hingga SE sukses itu, wajar kan kalau kini aku meminta hal yang sama “ Lontar seorang nenek
“ Bukannkah mereka sudah cukup berat dengan keluarga mereka “ Tanyaku lagi
“ Ya itulah hidup “ Jawabnya singkat tanpa peduli tanda tanya yang masih mengambang di kepala ini

Ya mungkin banyak dari para orang tua berpikir seperti itu, bahkan tak jarang mereka juga mulai ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Sehingga banyak terjadi pertempuran barang rumahan yang telah berubah fungsinya, hingga berakhir kata pisah yang memutus langsung hubungan keduanya.

“ Anakku yang bungsu minggu depan menikah say, lusa aku akan pulang ke Indo “ Tulisanya membuyarkan lamunanku
“ Oh Iya ce, salam buat keluarag ya “ Balasku ikut senang, mengingat ia begitu gigih berjuang selama ini
“ Iya say, kamu jaga diri baik-baik ya “ Tulisnya lagi “ Jangan ngeluh terus “ Lanjutnya yang ku balas dengan stiker saja, sebab saat itu aku memang cukup sibuk menjaga nenek yang entah mengapa hari ini begitu rewel.


Hingga beberapa jam kemudian tak juga ku temukan inbox darinya, bahkan keesokan hari dimana hari kepulangannya tak juga ku dapat salam perpisahan darinya.
“ Mungkin kah dia marah “ Pikiran itu terus berkumul di kepalaku, selain merasa bersalah aku memang tipe orang yang gampang rasa sehingga sering merasa tak enak sendiri.
Status di Fb sudah ku hapus, walau masih tersimpan di memori hp sehingga tak mungkin ia mengetahuinya bukan.

Fikiran tak enak itu makin menjadi, kala ku sambangi beranda Fb nya yang sepertinya tak tersentuh beberapa hari ini. Inbox yang ku kirimnya tak di gubrisnya juga pesan via WhatsApp yang hingga kini masih centang satu.
“ Say aku pamit ya, maaf bila ada salah kamu jaga diri baik-baik ya say dan jangan boros “ Sebuah Sms via wa darinya masuk beberapa menit setelah ku merasa putus asa
“ Iya ce, hati-hati kalau sudah sampai jangan lupa kasih kabar ya “ Kirimku cepat seiring berita live yang di siarkan di TV

Aku tercekat, segera saja ku pandangi sebuah foto tiket yang beberapa saat lalu masih sempat di kirimnya. Kalimat demi kalimat yang keluar dari pembawa acara TV itu membius ku, seolah tak percaya segera ku ganti Channel untuk kepastian berita mendadak itu.

Aku terkulai lemas, lutut ku terasa mati rasa begitupun tubuhku bergetar hebat seiring deraian air mata yang meluap tanpa mampu ku bendung. Aku tak percaya, dan tak akan pernah percaya, burung besi yang membawa sahabatku itu pergi untuk selama-lamanya . Aku sesenggukan gelak tawa serta senyum tengahnya masih terbayang di pelupuk mata. Ini tak adil, mengapa ia harus bengi begitu cepat setelah ia harus begitu lelah menanggung beban. Dan kini akhir dari perjalanan panjangnya, ia harus berakhir tanpa mampu menikmati hasil jerih payahnya.

Tiba-tiba rasa benci menyeruak bebas, pada ketiga adiknya, pada suaminya, juga pada anak-anaknya yang terus merengek-rengek atas hasil kerja kerasnya selama ini. Merekalah yang tega terus menerus memeras keringatnya, memeras seluruh tenaga dan pikirannya. Merekalah yang tak pernah mau tahu perjuangan beratnya selama di rantau an, dan karena mereka pulalah kini sahabat terbaik ku pergi untuk selama-lamanya.



Jum’at, 26 Juli 2019                             12:07
Datong, taipe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar