LUKA
Maharani, nama yang cantik bukan yang memiliki arti seorang pemimpin wanita. Mungkin nama itu cukup berat bagiku, seorang gadis desa sebagaimana mestinya lugu, kumal, bodoh serta miskin. Gelar-gelar yang tak akan pernah hilang dari rangkaian namaku, atau memang pantas ku sandang, mengingat akulah sulung dari sembilan bersaudara. Pemimpin dari saudara-saudaraku, mungkin itu yang di harapkan ayah dulu, apalagi ia menyerah dalam hidup saat aku memasuki bangku SMA, otomatisb beban itu lebih terasa berat. Namun aku bersyukur, setidaknya aku mampu lulus hingga SMA, sekalipun itu tak lepas dari kerja kerasku. Sejak SD aku sudah menjadi penghuni panti asuhan, di sela waktu sekolah aku mengambil kerja paruh waktu di pabrik. Setidaknya itu mampu menopang kebutuhanku, buku-buku serta beberapa iuran liar yang di minta sekolah. Pihak panti hanya mampu membayar biaya wajib saja, sejak kepergian ayahku, aku harus lebih pintar lagi membagi hasil jerih payahku.
Siang itu aku menangis pilu, pengabdianku di panti setelah lulus SMA telah usai, hingga aku memilih pulang ke rumah ibu. Namun miris, bukan senyum bahagia yang ku dapatkan, justru pemandangan yang mengiris ulu hati terpampang pahit. Wanita itu sungguh terlihat teramat kurus, mengangkat berbagai beban dari truk ke emperan toko, berulang-ulang. Belum cukup sampai di situ, rumah yang dulu terlihat kokoh, kini tampak bagai hutan belantara. Bagaimana tidak, setiap sisi rumah paling megah di masanya itu kini tumbuh berbagai jenis pohon menjulang tinggi, pagar-pagar melingkar juga jembatan sebagai penghubung jalan keluar hancur, menyisakan serpihan-serpihan seperti hatiku.
" Mereka menutup jalannya Duk " Ucap Ibu melihatku termenung " Sini, ada jalan lain kok " Lanjutnya sambil menyeret tanganku melewati jalan setapak yang dulu takut ku lalui. Mengingat itu jalan yang cukup kecil dan sepi, belum lagi binatan-binatan liar sering terlihat di sana, terutama ular.
Berhari-hari aku meratapi semua ini, ku pikir fitnah itu telah usai, padahal pembuat perkara serta korban telah lama pergi. Ya, ayahku adalah korban fitnah warga desa, atau mungkin karena orang yang mereka dukung kalah, sehingga mereka mencari kambing hitam untuk pelampiasan. Hingga kini para penduduk desa masih memasang bendera perang pada keluargaku. Jadi ketika dengan manisnya rayuan-rayuan Pak Marjan tentang mudahnya menjadi TKW, dengan segera ku iyakan. Pesangon tiga juta amblas untuk menutup hutang, dan di penampungan adalah neraka berpagar besi kedua setelah penjara. Setelah melalui sekelumit peraturan tak masuk akal, akhirnya di bulan ke sembilan aku tiba di negeri formosa. Negeri keturunan orang cina yang banyak di idamkan wanita-wanita miskin sepertiku, beruntung aku mendapat majikan yang baik. Bahkan mereka menyayangiku sebagai keluarga mereka sendiri, tak pernah membedakanku. Aku menjaga seorang kakek yang lumpuh, ia memilki empat anak dan tinggal dengan anak pertamanya yang juga memiliki empat anak. Tak jauh dari rumahnya, anak perempuan terakhir kakek tinggal hanya berjarak beberapa meter.
" Rani, tolong antar kue ini ke tempat Nyonya Young " Pinta Khukhu padaku, anak terakhir Kekek itu memang sangat baik
" Baik Khukhu " Ucapku patuh sambil berjalan menuju rumah sederhana itu
Aku menyukai Nyonya Young yang sangat baik, wanita itu sering memberiku beraneka barang yang sudah tak terpakai. Juga anak perempuannya yang cantik, aku sudah sangat dekat dengan Xiejie kami cepat berteman sejak kedatanganku di sini. Sekalipun terlihat jelas perbedaan kami, namun tak menghalangi persahabatan di antara kami. Aku mengetuk pelan sambil memanggil Nyonya Young, beberapa saat kemudian wanita itu keluar sambil tersenyum.
" Ini Nyonya Young dari Khukhu " Ucapku sambil menyerahkan padanya bungkusan yang ku bawa
" Terimakasih " Mata wanita itu berbinar, ia berbicara keras agar terdengar oleh Khukhu yang duduk di teras depan, mereka terlibat obrolan cukup lama " Xie jie masih belum pulang " Ucap Nyonya Young di sela-sela obrolannya saat melihatku mencari-cari sosok Xie jie, aku tersenyum malu namun masih memperhatikan ruangan utama yang terlihat jelas itu.
Jantungku mendadak berdetak lebih cepat, memciptakan rasa cemas saat tanpa sengaja ku lihat seorang lelaki berusia 30 tahunan memandang tajam dan menjijikan ke arahku. Aku segera pamit dan bergegas kembali menemui Khukhu, Nyonya Young tersenyum tanpa tau apa yang terjadi padaku. Sejak saat itu aku mulai merasa ada yang memperhatikanku, terkadang aku takut duduk berlama-lama di ruang depan. Apalagi bila hari menjelang malam, perasan itu semakin membuat tubuhku merinding hingga aku selalu terburu-buru pergi dari sana.
Malam ini rintik hujan masih enggan pergi, entah sudah berapa lama aku terlelap kala sebuah ketukan membangunkanku. Aku mempertajam pendengaran, hening, beberapa menit kemudian ketukan itu kembali terdengar. Aku segera mengangkat tubuhku, perlahan ku langkahkan kaki agar tak membangungkan kakek yang tidur pulas. Ku buka perlahan pintu yang terbuat dari kayu , tatapanku terpaku pada bayangan hitam di rumah Nyonya Young yang gelap. Aku bergidik, kala kilat menyinari wajah pemilik bayangan, A Hong , ayah tiri Xie jie. Lelaki itu nampak sedang mencari sesuatu, terdengar umpatan dari mulutnya setiap kali ia gagal menemuka apa yang di cari. Tatapanku segera beralih tak kala ku dengar nafas memburu di depanku, Xie jie, gadis itu meringkuk di bawah kursi goyang kakek yang sengaja di taruh di depan. Aku mematung, saat ku rasakan tatapan lelaki yang baru beberapa bulan menikah dengan Nyonya Young melekat tajam ke arahku. Aku berusaha menahan gejolak hebat di dada, berharap lelaki itu tak melihatku, mungkin benar, atau dia hanya berpura-pura. Namun aku bernafas lega saat lelaki itu beranjak pergi menyusuri malam gelap yang membuat sosoknya menghilang cepat.
" Keluarlah, dia sudah pergi " Ucapku yakin ada sesuatu yang terjadi, gadis itu terdiam hingga aku mendekat ke arahnya ia terlihat sesegukan.
" Rani " Tangisnya seketika memelukku, dengan segera ku tarik gadis itu masuk dalam ruangan, aku takut bila lelaki itu tiba-tiba kembali.
Xiejie tetap membisu, walau lelaki paruh baya majikanku, yang memaksaku memanggilnya Shushu juga berada di sana. Shushu sedang bergadang dan segera turun ketika mendengar tangisan Xijie, lelaki itu hanya menasehati seperlunya sebelum memutuskan kembali ke kamar. Xiejie merasa besyukur saat Shushu membolehkan gadis itu menginap, ia memilih tetap di sampingku sekalipun Shushu menawarkan kamar kosong untuknya. Sunyi, Shushu telah beberapa menit yang lalu pergi, Xiejie masih terdiam walau kini tangisnya telah reda. Hujan di luar masih terdengar, membuat sang bayu berbisik dingin menyentuh kulitku. Aku merapat pada Xiejie, gadis itu bergeser memberiku sedikit ruang, tiba-tiba dia berbalik dan memelukku. Dalam remang malam, butiran bening itu kembali mengalir lebih deras beriring suaranya yang bergetar menusuk relung batin.
" Lelaki laknat " Desisku tak mampu menahan gejolak di dada, butiran bening itu kini juga ikut membasahi pipiku, kami berpelukan dalam isak tangis sepanjang sisa malam.
Entah mengapa, malam ini terasa sangat panjang, sekalipun telah ku pejamkan mata, namun ragaku masih terjaga. Pagi pertama Xiejie memutuskan segera pulang, ia bertekad segera pergi jauh dari rumah itu. Ku dengar mereka memiliki saudara di desa, mungkin itu akan lebih baik baginya untuk mrenenangkan diri. Setelah kejadian itu rumah Nyonya Young terasa sepi, aku tak lagi melihat Xiejie. Namun tatapan yang seolah-olah menelanjangiku itu masih ku rasakan, sesekali aku sempat melihat bayangan berdiri di balik kaca hitam rumah Nyonya Young. Entah siapa dan apa yang di lakukan oleh bayangan itu, apalagi kini aku harus sering ke rumah sakit karena kakek mendadak harus menginap. Membuat perhatianku tak lagi peduli dengan rumah bercat biru muda itu.
Selang beberapa hari setelah ke pulangan kakek, kami di kejutkan oleh mobil ambulan yang datang dan berhenti di depan rumah Nyonya Young. Tanpa menunggu perintah, aku segera berlari melewati warga yang mulai berkumpul. Ku lihat Nyonya Young menyibak kain putih itu hingga menampilkan wajah ayu nan putih pucat. Aku tersentak, Nyonya Young meraung, tanpa mampu ku tahan butiran bening itu berlomba mengalir deras dikedua pipiku. Seseorang merengkuh bahuku sambil menarikku, perlahan menjauh dari kerumunan warga yang saling bertanya tanpa jawaban.
Segera memori malam kelabu itu berputar cepat di otakku, terutama luka tertahan Xiejie, saat menceritakan bagaimana teganya lelaki yang menjadi ayah tirinya itu merenggut kehormatannya. Kala itu aku hanya mampu menahan gejolak yang menekan di dada, namun tak ku sangka akan se jauh ini. Beberapa berita mengabarkan bahwa Xiejie bunuh diri, namun aku tau pasti, gadis itu tak mungkin melakukan hal itu. Bahkan saat kami beberapa kali bertemu mata gadis itu berbinar menceritakan cita-citanya, juga niat melupakan masa yang kelam dalam hidupnya.
Malam itu adalah malam ke tiga setelah kematian Xiejie, telah kesekian kalinya aku terbangun karena kakek memanggil. Kali ini lelaki yang hampir seabad itu ingin buang air kecil, setelah usai, segera ku bawa pispotnya ke luar untuk di buang ke got depan sekaligus di cuci. Sejenak aku menikmati cahaya bulan, semilir angin dingin berhembus halus menyapa. Mendadak ku rasakan cemkraman kuat di pundakku, belum sempat aku berteriak mulutku telah di bungkam kuat oleh tangan kasar, kedua tanganku terkunci di belakang. Tergenggam kuat oleh salah satu tangan kasar itu, aku menendang-nendang berusaha memberontak. Namun tenagaku tak cukup kuat untuk terlepas dari dekapannya, aku semakin bergidik kala tau siapa pelaku dari semua ini.
" Jangan macam-macam kalau kamu ingin selamat " Hembusan nafas hangat yang berbisik di telingaku semakin membuatku ketakutan.
A Hong, aku sangat yakin dengan pemilik suara itu. Aku terus mencari celah untuk melepaskan diri kala lelaki itu mulai menggiringku menjauh. Detak jantungku semakin tidak beraturan, ketika ku mulai tau kemana tujuan lelaki itu. Aku mulai putus asa, sekuat apapun aku meronta, lelaki itu semakin mempererat cengkramannya. Sekalipun mustahil, dalam ke putusasaan aku berharap ada seseorang yang lewat di sana. Namun, hingga tempat yang ku yakini pendukung perbuatann bejat A Hong semakin dekat, dan tak seorangpun yang terlihat. Benar saja, lelaki itu mendorongku di semak-semak yang memang jarang di jangkau orang, mengingat tempat itu hanyalah hamparan tanah kosong dengan rumput liar yang tumbuh menjulang tinggi. Aku berusaha menghindar dengan terus merangkak, seperti telah menduga saat kakiku di cemkram kuat, dengan segera ia berusaha menindihku. Aku terus meronta, melempar apapun yang mampu ku jangkau.
" Hentikan, apa yang kau lakukan " Bergetar suara ku paksa, lelaki itu menyerigai, namun ia tak berhenti sambil terus menggerayaiku yang panik.
Tiba-tiba aku teringat kebiasaan Take, anak pertama dari Shushu itu biasa mengendarai sepedahnya melewati jalan setapak di ujung. Entah untuk apa, namun aku sering memergoki lelaki pendiam itu keluar menyusuri malam. Semangatku kembali membara, aku tak mau menyerah pada lelaki penuh nafsu ini. Aku hanya perlu terus menggerakkan tanganku ke belakang dengan sedikit dorongan dari kakiku, karena saat itu aku dalam posisi terlentang. Perlahan ku angkat tubuh sehingga mempermudah tanganku untuk bergerak mundur. Sambil terus melempar apapun yang di janggkau oleh tanganku. Tubuhku terasa perih, apalagi tak hanya ranting dan batu yang menusuk tubuhku, namun beberapa becahan beling ikut menggores kulitku menembus baju yang ku pakai.
Aku memekik tertahan, saat lelaki itu dengan mudahnya berhasil menyobek bajuku. Rasa malu dan jijik mendera dasyat di ulu hati, aku meronta-ronta berusaha mengelak dari tangannya yang kasar. Di antara ketakutan luar biasa ku terus coba mencari benda yang ada di dekatku, tiba-tiba tanganku merasakan sesuatu keras dan cukup berat. Tanpa pikir panjang, dengan sisa kekuatan ku ayunkan benda itu ke arah A Hong, walau tak meninggalkan luka berarti, setidaknya cukup membuat lelaki itu memberiku sedikit ruang. Tanpa pikir panjang ku paksakan tubuhku bergerak dan memacu langkahku walau harus merangkak. Benar dugaanku, mungkin nasib baik memang masih mendukung, dari arah yang tidak jauh nampak sebuah bayangan semakin mendekat, juga setitik cahaya yang ku yakini dari sepeda Ta ke. Aku berteriak dan sengaja menimbulkan suara juga ku goyangkan rumput-rumput liar, hanya itu kesempatanku. Apalagi pada detik berikutnya, lelaki itu telah berhasil mencengkramku dan memukulku hingga aku sempoyong terkulai lemas.
" Kau pikir ada yang mendengar " dalam temaram cahaya bulan, ku dapat melihat tawa sinis serta tatapannya menusuk tajam.
Aku berhasil menendang kakinya dan membuatnya mengerang, namun itu tidak lama. Karena aku mendapatkan perlakuan lebih buruk dari sebelumnya, berkali-kali lelaki itu menampar wajahku. Memukul, bahkan menekan kedua kakiku dengan tubuhnya yang berat, bayangan Xiejie tiba-tiba terlintas di benakku. Seperti inikah yang di rasakan Xiejie, bahkan aku tak berkedip saat benda hitam di tangannya itu siap meremukan kepalaku.
" Bruakk " Suara gaduh dan erangan kesakitan terdengar jelas, aku tau, bahkan saat sepeda kesangan lelaki berparas tampan itu melayang menghantang A Hong, lelaki itu terpental jauh.
Aku menjadi saksinya, sekalipun ku tak mampu lagi mengerakkan tubuhku, namun aku bisa merasakan amarah Ta Ke. Beberapa menit kemudian terdengar beberapa suara memanggil namaku, Ta ke yang telah usai dengan A Hong memapahku , menyeberangi semak-semak yang terasa sakit kala menyentuh kulitku. Khukhu segera memelukku dan memakaikan jaketnya pada tubuhku, beberapa warga segera menyeret A Hong. Aku tak peduli lagi apa yang terjadi pada lelaki itu, bahkan saat genangan di pelupuk mata tua Nyonya Young tak mampu di tahan. Juga jeritnya pilu saat Khukhu bercerita tentang perlakuan lelaki itu pada Xejie, ya aku menceritakan semua pada Khukhu. Di keadaan ini tentulah Nyonya Young yang paling terluka, dalam sekejap ia harus kehilangan anaknya, juga kenyataan yang tidak pernah ia harapkan.
✳✳✳
Akhir musim gugur di penghujung senja, perlahan bintang-bintang kota mulai di nyalakan. Seiring malam berselimut gelap datang perlahan, para pedagang yang telah sibuk sejak mentari tergelincir ke peraduan. Terlihat bersemangat menjajakan dagangannya, barisan jajanan khas pasar malam memanjang di sepanjang jalan. Malam ini bulan purnama, namun benda langit itu belum tampak di langit yang menghitam. Dan ini adalah malam terakhir ku di sini, beberapa hari yang lalu kakek menghembuskan nafas terakhir dengan tenang. Besok aku sudah harus beranjak dari rumah Shushu ke majikan baruku, sehingga Khukhu mengajakku berbelanja di pasar malam untuk kenang-kenangan.
" Rani, berikan ini padanya " Ucap Khukhu sambil memberiku sebuah bungkusan, aku berjalan perlahan mendekat pada sosok wanita yang mencuri perhatianku sejak tadi.
" Nyonya Young, ini untuk anda " Ucapanku sepertinya mengagetkan wanita itu, terlihat dari reaksinya yang sedikit terlonjak.
Nyonya Young menatapku sejenak, ia tersenyum namun juga terisak menerima bungkusan itu. Penampilan wanita itu sangat berbanding terbalik dari beberapa waktu lalu, baju indah yang selalu di pakainya kini berganti dengan baju kumal dan bau. Bahkan wajahnya yang dulu sangat ia jaga, kini terlihat menghitam karena debu dan kotoran.
" Terimakasih " Ucapnya tulus " Dan maaf " Lanjutnya lagi sambil pergi meninggalkanku
Beberapa bulan setelah kejadian itu, ku dengar Nyonya Young menjual rumahnya untuk membayar hutang. Sedang Xiero, anak laki-lakinya sudah tidak perduli lagi dengannya, dan terus menyalahkannya atas kematian Xieji. Nyonya Young sendiri sekarang hidupnya terlunta-lunta, mengemis belas kasihan bahkan mengais sampah untuk makan.
✳✳✳
Siang ini cukup menggemparkan, ada kabar bahwa A Hong berhasil keluar dari penjara . Entah bagaimana caranya, tetapi itu membuatku tak tenang. Walau akhirnya aku meninggalkan tempat itu, tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan mencariku. Cukup lama aku terbelenggu dalam ketakutan, namun aku harus terus maju, tanggung jawab pada keluargaku lah yang terus memaksaku.
Hingga suatu malam, aku tak menyangka akan bertemu dengan lelaki itu sekali lagi. Aku takut, namun aku tak akan kalah dan sialnya lagi-lagi gelap mendukung. Aku terus berlari berusaha menghindari lelaki itu, sekuat mungkin aku harus sampai di keramaian. Setidaknya ia tak akan berani melukaiku, tetapi aku salah. Tempat itu justru memudahkannya untuk menangkap dan menyeretku sekali lagi, aku memberontak sambil terus mengharap pertolongan.
" Dasar anak kurang ajar, mau kabur kemana lagi kamu hah " Ucap lelaki itu sambil terus mencengkramku, aku mengiba memohon pertolongan pada beberapa orang yang lewat.
" Tuan jangan kasar seperti itu " Seorang ibu-ibu bersimpaati
" Maaf nyonya, anak ini memang nakal, dia suka kabur dari rumah, padahal aku dan istriku sudah memberi apa yang dia mau " Bahh, dia berbicara seolah-olah aku anaknya, kalau ada yang percaya ku yakin orang itu telah buta
" Istriku orang indonesia, jadi dia lebih mirip ibunya " Lanjutnya menjawab ke heranan beberapa orang yang melihat
Sial, apa yang harus aku lalukan sekarang, sambil berbisik ia terus menekanku untuk diam. Beberapa warga yang menonton mulai meninggalkan kami, aku semakin ketakutan, sekelebat bayangan ibu, juga rumah kumuhku terlintas. Air mataku tak mampu ku bendung lagi, bagaimana nasib mereka bila aku harus berakhir di sini. Aku terus bergelut dengan batin, aku tak boleh menyerah, tanggung jawabku masih belum usai, bayangan-bayangan mata penuh harap itu terus memaksaku bangkit. Ketika ku rasakan kelonggaran dalam cengkramannya, tanpa membuang waktu segera ku injakkan kakiku sekuat mungkin di kakinya. Aku juga menggigit jarinya yang mencengkram lenganku, aku terus berlari tanpa peduli lagi dengannya yang mengumpat. Setelah merasa cukup jauh dan yakin lelaki itu tak berhasil menangkapku, secepat mungkin aku segera pulang ke rumah majikan, yang keheranan melihatku acak-acakan sepulang liburan. Aku meminta ijin untuk istirahat, untung mereka segera mengiyakan tanpa bertanya lebih banyak.
Sejak hari itu aku selalu berhati-hati, menghindari pulang malam, juga berjalan sendirian sekalipun di keramaian. Aku terus memaksa temanku untuk mengantarku pulang, tak akan pergi bila temanku tidak menjemputku. Setidaknya aku sudah merasa aman, hingga berita yang di muat di koran. Aku tak tau, harus senang atau sedih melihat berita-berita yang di muat hampir seluruh media.
" Seorang buronan di temukan mati di pinggir pantai " Kurang lebih seperti itu lah berita yang di muat, tapi setidaknya aku lega walau miris juga mengetahui bagaimana lelaki itu pergi.
Beberapa hari kemudian kabar yang lebih mengejutkan beredar, adalah sosok Nyonya Young yang di temukan bunuh diri di sungai curam dekat rumahnya dulu. Mengingat itu aku bergidik, membayangkan bagaimana batu-batu runcing juga duri-duri yang menjalar di pinggiran sungai, mengangkap tubuhnya yang tak gempal lagi. Dengan itu terungkap alasan lain Nyonya Young menjual rumahnya, wanita itu ternyata menyimpan dendam pada suaminya. Ia juga yang membebaskan sekaligus membunuh A Hong dengan bantuan preman yang di bayarnya.
Aku bergidik, mengingat rangkaian peristiwa selama berada di negeri formosa ini. Tidak ada yang tau masa yang akan datang, namun kita berhak memilih jalan hidup untuk terus melangkah, bahkan mengakhirinya dengan cepat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar