Kamis, 28 Maret 2019

puisi

Mungkin alam masih berduka
Sekalipun butiran hujan tak lagi datang
Namun mendung masih setia
Menghalang sang surya tuk menyapa
Jejak embun tak lagi menguap
Menggenang nyaman di dedaunan
Juga di janji semanggi
Yang tak jua berempat lengkap
Bukan karna penyuka merah jambu
Asalmu lah yang membuat menggebu
Sebait nama yang terukir itu
Ciptakan debaran laksana genderang perang
Bahkan
Kala senja tak lagi membawa jingga
Lenyap begitu saja dalam peraduan
Tertutup gelap yang merambat cepat
Enggan tinggalkan rona semu
Yang menghangat di kedua pipi
Dengan usapan jari tangan kasar
Dingin merajam menusuk tajam


Oleh: Ifa Cahyani ( aiay )
Pudar

Kata siapa aku diam saja
Setelah begitu saja terpaksa melupakannya
Terpaksa meninggalkan
Apa yang telah membuka jalanku lebar

Sulit
Desakan rasa kian menghimpit
Ciptakan sensasi sesak berkepanjangan
Sekalipun hari ini akan datang

Benar
Diam dan menjadi penonton aktif
Adalah keputusan terbaik
Karena ketika kau bersuara
Mungkin kan di depak paksa bukan

Ah sudahlah
Terlanjur terjadi
Tak pantas lagi di sesali
Kini aku hanyalah sampah
Dengan sayap-sayapku yang patah

Biarkan seperti ini
Hingga kelak ku mampu obati
Setiap goresan luka
Juga memudarnya canda tawa dengan mereka

Sangat sulit menyadari
Bukan lagi bagian dari terinti
Tak akan lagi kutemukan
Rangkaian kehangatan yang lebih indah dari ini

Selamat tinggal
Kebersamaan yang kini hanya mampu ku kenang
Kerinduan yang tak akan mungkin tertuang
Juga sedikit iri yang akan terus bersemi nantiKata siapa aku diam saja
Setelah begitu saja terpaksa melupakannya
Terpaksa meninggalkan
Apa yang telah membuka jalanku lebar


SANDIWARA
Oleh : Ifa Cahyani ( aiay )


Dulu kita pernah berdiri berdampingan
Berharap mampu tumbuh menjulang
Dan biarkan para pengembara berteduh tenang
Merajut mimpi berkepanjangan

Dengan seiring waktu dalam perjalanan
Tunas Kita tak lagi bersanding
Mengembara di penjuru dunia
Bukan hanya tuk melepas dahaga
Juga merajut asa dalam sempurna

Lalu Kala kU masih berkelana lara
Kau telah temukan dermaga
Mendaratkan keindahan angan
Merajut impian masa depan

Kau membual
Seolah kau tahu segala tentang sandingmu
Janji yang pernah terikat dulu
Kini menjadi ludah tak bermutu

Kau putar balikkan fakta
Seolah seonggok jiwa ini tak berharga
Tawamu membahana semakin angkuh
Dengan benihmu yang sempurna


Nakal

Sesuatu melesat cepat
Tak biarkan ku sejenak merambat
Meniti lelah yang kian penat
Dalam untaian malam pekat

Namun terkadang ku merasa rindu
Pada tatapannya yang menghujam kalbu
Serta cara mencuri pandang saat bertemu
Seolah tak cukup setiap waktu

Kekurangan yang nyata
Tertutup semua oleh sebuah rasa
Bahkan terkadang hilang akal
Hingga terlintas  nakal

MIMPI
Ku rasa
Tak perlu di umbar bahagiaku
Sedih juga kecewa
Percuma
Hanya akan jadi cemoohan saja

Biarlah terpendam
Dalam tumpukan ketidakpastian
Tertutup kabut hitam malam
Yang semakin gelap merajam

Hanya keyakinan
Akan indahnya esok hari
Juga rangkaian mimpi yang terngiang
Berputar dalam ikatan harapan

Begitu pula dengan apa yang di gunjingkan
Mereka hanya enggan
Mempertanyakan kebenaran
Hingga segala bualan
Yang pantas untuk di umbar



GENGSI


Bukan hanya sekedar permainan rupanya
Bukan pula sekedar mencoba
Sekarang telah dewasa
Tunas yang kau tancapkan telah menjulang
Menantang gagah angkasa

Lalu apa yang kau tunggu
Haruskah mengalah pada gengsi itu
Atau tetap biarkan segenggam darah mengeras batu
Hingga terlambat sudah memburu waktu

Ataukah kau masih menunggu
Menunggu ketidakpastian jemu
Hingga ia akan benar benar menghilang
Tak lagi tempati banyak ruang
Tak terjatuh dalam kelamnya jurang

Sudahlah
Aku menyerah
Tak akan mungkin mampu kU selami hatimu
Sedangkal jengkal apapun itu


JEJAK
 Hujan senja berjejak
Meninggalkan bau basah kerinduan
Akan rindangnya dedaunan
Yang mengintai rerimbunan belukar

Jalan setapak menggenang
Ciptakan langkah mendalam
Membekas ruas saling terhubung
Menuju gubug muara terdalam

Biarlah adanya
Tak perlu meratap harap pada yang menutup mata
Mengemis belas kasih
Pada hati yang telah buta arah

Perjuangan tak pernah usai
Sekalipun sang pemilik raga
Telah kembali ke tanah
Menyanding sang pemilik tanpa pelik

Membisu
Tanpa mampu menjawab fitnah berkepanjangan
Entah sampai kapan
Telah enggan berangan
Dengan mimpi yang kian menjauh
SAYATAN

Diamlah
Aku sangat berterima kasih dengan itu
Kau tak tau apapun tentangku
Hanya sebatas bayangan
Dan khayalan semu dari imajinasimu

Sudahlah
Tak perlu kau menggali luka
Juga menambah sayatan nyata
Di sini sudah perih
Walau tak akan pernah kau tau

Caci maki mu menjadi cambuk
Tanpa ada dendam menumpuk
Bualanmu hanya sejenis kicauan buruk
Dari ribuan Mahkluk kecil beratuk

KALBU

Yang tak pernah terlupakan
Terbayang terus sekalipun tak mampu di pandang
Tatapan sendu
Serta air mata yang berharga
Tertumpah ruah tanpa jemu
Bukan
Bukan karena sebongkah kesombongan
Hanya untaian kecil tanpa makna
Yang selalu melambung sempurna
Biarlah luka
Menjerat paksa
Menggores tiap inci sendi pori
Merajam makna ketidakperdayaan
Yang tak akan melebur begitu saja
Bahkan kala tangis tertahan
Hanya menjadi legenda
Ratapan nanar melegang
Melewati waktu yang menghapusnya
Tanpa paksaan





Tidak ada komentar:

Posting Komentar