Selasa, 26 Maret 2019

penghuni lain

Penghuni lain
#Obrolan_sore
#bheemi #pejuangdiperantauan #kerjahalal
Ini adalah kali kedua aku berada di jeruji besi tertinggi setelah penjara, sebenarnya aku tak pernah mengira akan masuk lagi ke tempat itu. Tempat yang selalu di hindari namun tetap banyak peminat, penampungan, atau BLK, balai latihan kerja bagi para calon tenaga kerja ke luar negri. Aku pernah mengalami ini sebelumnya, itulah mengapa aku selalu berfikir ulang untuk mengadu nasib ke negeri orang. Awalnya aku tak menyangka akan kembali masuk dalam bangunan besar itu, apalagi saat mendaftar, para staf tak melarangku menunggu di rumah. Tapi karena kesalahan yang mungkin di sengaja, aku terpaksa harus tinggal lagi di tempat itu.
Jangan pikir akan berbeda, sekalipun sudah menyandang status Exs, pernah bekerja di negara tujuan. Akan mendapat perlakuan yang berbeda, ya mungkin sedikit iya, bebas pegang hp, dan sering jadi sasaran para louse. Sekalipun sudah Exs, tapi itu tak menjamin bakal liahi di bahasa juga. Mengingat pada kenyataannya saat di negeri taiwan, yang masih dalam lingkup kawasan cina itu. Tak banyak kata yang mampu tersaring sempurna, bahkan banyak yang tidak mampu berbahasa sama sekali. Banyak penyebab tentunya, menjaga seorang nenek atau kakek yang lumpuh total, yang bahkan bicarapun tak mampu. Menjaga orang berkebutuhan khusus sampai tunawicara, lalu saat tak mampu mengartikan beberapa kalimat, di bully.
" Masa sudah Exs gak bisa " atau " masa yang Exs kalah sama yang non sih " dan bla bla bla lah. Entah apa maksud para lause itu selalu menyudutkan, mambuat perasaan malu, bahkan tekanan batin.
" Buat apa tegang, emang bertemu presiden, masa sama teman sendiri tegang "  Wih gampang banget ngomongnya, mungkin memang ada yang sok cuek dan tak banyak peduli, namun harusnya tau juga lah, kalau banyak yang cukup menciut nyali kala terus di bully. Ah sudahlah, itu sudah kodrat manusia setidaknya tak berguna bila terus dibahas.
Masih banyak ke unikan dalam bangunan yang di huni ratusan pejuang wanita tersebut, dari banyaknya barang yang hilang, sok paling pintar sampai yang tega membohongi teman, juga kesurupan massal. Nah yang satu ini cukup unik untuk di bahas, seperti kebanyak Pt lainnya selain PKL ke rumah staf-staf, juga ada piket harian. Karena pemilik Pt adalah seorang cina asli yang telah lama tinggal di indonesia, namun tak membuat lelaki itu cukup fasih berbahasa indonesia dengan baik dan benar. Tak heran, bila yang Exs sering mendapat piket untuk melayani kebutuhan pemilik Pt. Apalagi benar adanya, jangankan yang non yang Exs pun kadang masih bingung mengartikan maksud dari permintaan sang pemimpin itu. Tak juga aku, sejak datang aku memang sudah mendapat piket di bagian itu, walau awalnya sempat kelabakan kala ia minta kopi ku ambilkan korek api. Juga beberapa kejadian lucu saat salah menyebut nama, namun perlahan aku mulai membuat kesimpulan dan berusaha cepat memahaminya.
Tak seperti biasanya, entah mengapa hari ini lelaki yang ternyata senang bergurau itu kedatangan banyak tamu. Aku yang kebetulan mendapat piket, tentu saja kelabakan, sekalipun besok adalah tanggal merah karena bertepatan natal. Namun tak berpengaruh pada jadwal kegiatan rutin di pt, kesibukanku yang harus ceketan bolak-balik memenuhi kebetuhan para tamu. Membuatku sejak siang tak mampu memasukan sesuatu ke dalam perut, bahkan saat senja telah menghilang, aku masih berlarian mengambil beberapa barang yang di minta. Hingga saat pergantian piket, aku benar-benar kelelahan, saat itulah cacing dalam perutku berdemo lantang membuatku segera beranjak klayapan di dapur. Beberapa tempat yang ku duga sebagai tempat menyimpan makanan, ternyata hanya menyisahan ruang kosong.
" Makannya habis Nduk " Ucap seorang wanita  yang kebetulan lewat dan mendapatiku di sana
" Hahhhh " Aku yakin mataku membulat hendak keluar
" Sayurnya juga habis " Lanjutnya lagi dengan nada jengkel
" Kok bisa sih Mak " Tanyaku bingung, tumben, gak biasanya, memang sudah 2 x ini kehabisan nasi dan teman-temannya. Tapi masa bisa sampai terulang, bukankah beras masih dua karung, sayur mentah juga baru tiga hari yang lalu datang dan masih penuh.
" Tau tuh yang piket masaknya asal, masa iya yang makan belum ada setengah gedung udah habis saja, apa gak bisa ngira-ngira bukannya udah sering masak kok masih bisa kayak gini " Keluh wanita itu yang ternyata juga belum makan, bedanya ia sempat makan siang dan menjejali perutnya dengan mie instan yang ia beli dikantin.
" Ya udah deh mak, coba aku ke kantin, lapar banget, dari siang belum makan " Keluhku
" La kok bisa " Wanita itu terkejut
" Ah tamunya banyak Mak, jangankan makan, air yang ku bawa saja tak sempat tertelan " Ucapku sambil mengacungkan botol mineral yang masih utuh.
" Ya ampun ndok, dang cepetan kamu beli mie, rumayan buat nganjal perut " Perintah wanita itu yang ku iyakan sambil pergi menuju kantin depan
" Teh, aku mienya satu ya " Ucapku pada penjaga kantin yang juga ikut proses namun karena sudah exs jadi ia tidak perlu ikut belajar.
" Aduh gas habis, hari ini banyak yang beli mie nduk " Ucapnya membuatku terduduk lemas " La kamu kan tadi piket di tempatnya bos, kali aja ada yang sisa " Lanjutnya mengingatku yang bolak-balik ke kantin juga
" Ludes Teh, mungkin piring-piringnya juga di telen " Ucapku asal sambil meninggalkan kantin dengan jengkel, sial benar deh hari ini.
" Aduh aku lapar, adakah sesuatu yang bisa ku makan " Batinku mengimbangi cacing-cacing yang terus berdemo riang.
Akhirnya aku memilih diam sambil menunggu waktu tidur, setidaknya aku akan tidur nyenyak sekalipun kelaparan, berbanding terbalik saat perutku kekenyangan. Entah sudah berapa lama ku terlelap, kala ku dengar sebuah teriakan nyaring beriring tubuhku yang di tubruk, kala ku buka mata mendadak ada sesuatu yang melompat dari atas. Belum puas rasa terkejutku kembali terdengar suara gaduh berlarian satu arah, namun anehnya aku bertahan sambil terus memandang sosok di depanku yang beberapa menit lalu cukup menakutkan . Ternyata aku tak sendiri, beberapa temanku juga masih bertahan, sambil keheranan menatap beberapa  ranjang yang kosong. Perlahan mereka yang berlarian mulai berbalik, saling menanyakan apa yang terjadi. Mendengar itu aku hampir ngakak, mungkin insting mereka terlalu tajam, seperti seorang lause yang mendengar tertawa terbahak-bahak. Wanita itu terbangun karena terkejut mendengar keributan barusan, ia sempat merasa terjadi gempa. Apalagi ruangan itu ada di lantai dua, dengan ratusan penghuninya yang berhamburan satu arah.
" Ada apa ini " Tanyanya merasa terganggu, beberapa mulai kasak-kusuk, sedang wanita yang berada di depanku sedang di pijit seorang teman.
" Itu tadi mbaknya tiba-tiba teriak " Ucap teman yang menubrukku
" Emang kenapa teriak " Tanya staf lain, wanita yang di maksud terlihat kebingungan, bahkan ia tak menyangka menjadi penyebab kegaduhan itu sendiri. Selanjutnya kasak-kusuk tak banyak ku dengar karena tertutup detak jantungku yang terus berlomba.
" Ih beneran lo, mbak itu tadi nakutin banget " Ucap temanku bersumpah, ia semakin merapat ke arahku. 
" Lo aku tadi gimana turunnya " Gadis manis berkacamata itu bertanya, satu lagi penyebab jantungku hampir loncat.
" Kamu melompat dari situ tau " Ucapku jengkel sengaja ku tekan sambil menenangkan jantungku yang semakin tak kuruan, rasanya seperti mendadak di lamar orang yang jadi gebetan, atau apalah penafsirannya. 
Aku bukanlah orang penakut, apalagi rumahku di desa setiap hari keluar masuk melewati jalan terdekat bersebelahan dengan kuburan. Tak pernah pula aku pulang sebelum pukul sembilan, bahkan aku juga sering terbengong lama di depan makam. Jadi kali ini mungkin karena pengaruh lapar yang membuat seluruh bulu kudukku merinding, jantung tak henti berdetak juga entah rasa apa yang luar biasa. Reda sejenak, beberapa mulai mengambil wudhu dan shalat malam seperti yang di sarankah oleh Lause. Karena tragedi barusan, sudah di pastikan tak seorangpun berani turun ke lantai satu, di mana di sana berjejer rapi toilet yang biasa kami gunakan. Karena itu pulalah sekarang kami tau, di dekat kamar mandi paling pojok yang berdempetan dengan dua kuburan. Entah apa yang di pikirkan pemilik rumah dengan lebatnya pohon rambutan itu, membangun dua kuburan di depan rumah mereka.
" Mbak aku takut banget " Ucap seorang gadis putih yang ku yakini baru datang itu sambil mencengkrang temannya, kami sedang mengantri di kamar mandi atas.
" Kalian masuk bareng saja " Usulku yang di angguk i keduanya, sebenarnya aku sendiri tak karuan, namun aku terus berfikir positif. Setelah menuanikan hajat sekaligus berwudhu, ku lihat gadis tadi tidak jadi masuk dan justru kembali ke ranjangnya yang dekat jendela.
Setelah shalat sunah aku dan temanku berniat untuk tidur, apalagi staf yang tadi datang sudah kembali dan keadaan mulai tenang. Belum lama rasanya ku pejamkan mata ketika terdengar suara cekikikan tawa beriringan teriakkan ketakutan dari beberapa teman, walau tak seheboh yang tadi namun kali ini beberapa wanita itu mulai berteriak dan menangis. Juga gadis yang ku temui di depat toilet tadi ia tertawa serta menangis tertahan, beberapa teman yang berani segera mendekat dan mulai melakukan doa. Tiba-tiba teman di sebelahku menjerit, membuatku semakin merinding dan tak henti menyebut sang pemilik raga. Kejadian serupa mulai menjalar, semakin banyak yang melakukan hal yang tak wajar. Membuat kami yang tersadar tak henti berdoa dan membaca yasin berjamaah, air meneral di buka untuk di bacakan doa dan di minum bergiliran. Begitu seterusnya, malam yang mencengkam, seolah para penghuni lain itu ingin memberontak.
Aku ikut berkumpul membacakan doa pada seorang teman yang mengaku tak bisa bicara, mulutnya tersumbat, untuk mengeluarkan kata terasa berat. Juga sebaris dengan seorang wanita yang merasa di peluk ketika tidur, lalu banyak kasus lain yang mengaku di ganggu penghuni lain di tempat itu. Aku sendiri tak henti melafatkan surah Quran yang ku hafal, Tak ku biarkan pikiranku kosong dan tak akan pernah ku biarkan mahkluk lain itu menguasai tubuhku.
" Nduk ayo ikut " Dengan tanpa perasaan wanita yang pernah menjabat sebagai guru tk itu menarik tanganku
" Kemana mbak " Ucapku bingung
" Manggil lause di bawah "  Ucapnya sambil menuruni tangga, ku acungi jempol atas inisiatifnya, namun karena mengajakku ikut serta, rasa takjub itu melebur.
" Oh " Hanya itu yang terucap dari mulutku, sekalipun aku ketakutan setengah mati namun aku tak sampai hati membiarkannya pergi sendiri.
" Aku ikut " Ucap seorang teman yang kebetulan melihat kami menuruni tangga
Bertiga kami menyusuri lorong-lorong gelap itu, perasaan deg-degan ku yakini tak akan hilang dari dadaku. Toh nyatanya bukan karena takut ini yang menekannya, tapi rasa lapar yang tak tertahan. Aku mengekor saja, sambil berusaha mengalihkan perhatian cacing-cacing yang berdemo riang.
Perlahan ku ketuk pintu kamar lause, dan menceritakan banyak anak yang kesurupan sekarang. Lause hanya menyuruh kami untuk terus membaca yasin dan shalat sunnah, ia berjanji akan menyusul segera. Sekali lagi kami menyusuri lorong-lorong gelap itu dengan perasaan masing-masing, setibanya di atas tatapanku segera tetuju pada gadis berambut sebahu yang pernah bercerita memiliki pelindung. Segera ku dekati gadis itu, selain berharap aman, sore tadi ku sempat memergoki wanita di samping sang gadis memiliki sedikit simpanan makanan. Apalah daya, baru kali ini aku benar-benar kelaparan.
" Lagi apa " Tanyanyaku pada gadis itu
" Gak papa kak, sini kak " Gadis itu memberi ruang kosong di sampingnya untuk ku duduki
" Ah kebetulan " Batinku sebisa mungkin menyembunyikan rasa girang , tempat yang di tunjuk memang sangat dekat dengan yang ku tuju. Aku celingukan mencari sang pemilik yang ternyata tak cukup jauh, setelah berbisik padanya dan dia mengangguk membuatku nyengir lebar di antara bunyi perut yang cukup menyebalkan. Sambil duduk di samping sang gadis aku mencoba mencari secara sembunyi-sembunyi, mengingat ada larangan membawa makanan ke kamar membuatku harus hati-hati agar tidak ketahuan.
" Huuhuhuhu..." Tiba-tiba gadis di sebelahku menangis, membuat tanganku berhenti seketika.
Secara spontan tatapanku pun mengikuti ke mana netranya yang bening memandang, aku tercekat jantung yang masih saja berdetak sekali lagi terpompa cepat. Seiring bulu kuduk yang berdiri seolah hendak menyembul dari kain yang menutupi. Aku merasakan netraku yang semakin membulat, anehnya aku tak mampu mengalihkan pandanganku dari sesosok bocah di ranjang teratas. Bocah lelaki yang ku taksir berusia anak smp itu menyerigai dingin, seperti angin yang menampar kulitku. Aku ingin berteriak, atau setidaknya mengalihkan pandanganku pada bocah yang tak lucu itu. Namun seolah terkunci, bahkan tubuhku tak mampu ku gerakan sehingga dengan terpaksa harus ku lihat pemandangan yang menjijikan itu. Bocah berbaju merah itu berambut acak-acakan, merangkak perlahan dari ranjang tingkat dua menuju arahku. Wajahnya yang berlumuran darah, dengan beberapa bagian lain telah hancur. Mendadak aku mual, darah itu muncrat di seluruh tubuhnya semakin banyak. Kepalaku berat, aku ingat kata-kata lause yang menyuruh untuk tak mengosongkan pikiran. Tapi aku tak mampu memikirkan apapun, kepalaku serasa kosong tanpa mampu mengingat banyak hal. Semakin lama tubuhku menggigil hebat, ada sesuatu yang mencoba masuk dari ubun-ubun kepalaku. Sepertinya ia terus berusaha menguasai tubuhku yang semakin sulit ku kendalikan, mulutku tersumbat. Rangkaian Dzikir yang ku ingat tak mampu ku ucapkan, sedang bocah itu semakin mendekat, dengan peragainya yang semakin menakutkan.
Bocah itu merangkak tanpa mengalihkan tatapannya padaku, ia perlahan menuruni ranjang itu seperti ular yang terus merayap. Aku ingin menangis, mejerit atau apapun yang mampu melepaskanku dari keadaan semacam ini. Jarak wajahku dengan wajahnya semakin dekat, hanya beberapa centi saja sebelum ia benar-benar memakanku dengan mulutnya yang perlahan sobek dan melebar.
Tiba-tiba aku teringat hutang sepuluh juta di bank, sekalipun bukan aku pelakunya. Namun itu menjadi tanggung jawabku untuk melunasinya.
" Nduk " Sebuah tangan tiba-tiba memukul bahuku membuat tubuhku yang telah tertelan sebagian, mendadak terbebas dari rahang yang beberapa saat lalu hendak melumatku.
Aku ngos-ngossan, ku rasakan bahuku di urut perlahan, aku masih belum tersadar hingga sebuah teriakan mengalihkan perhatianku. Ternyata kejadian telah menguras tenagaku, walau demikian aku akan terus memikirkan sesuatu agar tak lagi ada mahkluk yang mendekatiku.
" Pergi ke temanmu Ndok, ia tidak bisa merasukimu tapi yang kamu lihat tadi masuk ke tubuhnya "  Wanita yang mengaku mempuanyai kemampuan seprinatural mendorongku pergi, wanita seusia ibuku itu segera menuju salah seorang teman yang berteriak tadi.
Tubuhku terasa berat, sekalipun langkah tlah ku lajukan, namun tubuhku mengeras serasa terlapis besi. Keberuntungan masih berpihak padaku, sebuah tangan menarikku untuk duduk di sampingnya. Seiring bayangan wanita berambut panjang yang melintas di depanku hendak menoleh, dan menghilang saat aku berhasil terduduk lesu.
Adzan subuh berkumandang, saat itulah hal-hal ganjil yang masih bertahan mendadak lenyap. Membuat keadaan kembali normal, beberapa teman saling berpelukan, hingga hari benar-benar terang, perlahan kami mulai berani keluar dan mulai melakukan piket lagi.
Hingga beberapa hari kami masih terbelenggu dalam ketakutan, tidak ada lagi yang berani naik ke lantai 3 tempat jemuran. Aktifitas yang biasanya masih bertahan hingga jam sembilan malam, kini sudah senyap kala azdan isya selelai berkumandang. Tak satupun yanng beradi sendiri, bahkan saat mandi beberapa masih memilih berbarengan. Entah sampai kapan kabut hitam yang menyelimuti pagar besi itu akan menghilang, walau sudah berminggu-minggu namun nyali masih menciut untuk kembali seperti dulu. Setidaknya itu juga memberi peringatan pada kita, bahwa ada bangsa lain yang selalu hidup berdampingan dengan kita. Di manapun tempatnya, akankah lebih baik bila mengikuti aturan yang di terapkan. Toh kita hanya menumpang, cari aman sajalah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar