Kategori : review film
Oleh. : Ifa Cahyani (aiay)
Adalah sebuah film tentang festival kebudayaan Taiwan, yang mana dalam film ini Alien Huang(黃鴻升) salah satu artis Taiwan kegemaran penulis beradu akting dengan Alan Ko (柯有倫, AKA Allen Ko), yang menjadi pemeran utama dalam film ini. Ya walau si tampan 黃鴻升 menjadi pemeran kedua, namun penampilan lelaki kelahiran 28 November 1983 itu tetap saja memukau.
Di sini 黃鴻升sebagai Ah Xian Putra Wu Zheng, kepala resimen Zhentian, yang menjadi rival pemeran utama. Ah Xian mahir dalam semua bidang Din Tao, tetapi selalu egois, dan suka menantang dirinya sendiri untuk membuktikan dirinyalah yang paling hebat. .
Setelah dewasa ia kembali lagi ke Taichung, ya walau awalnya Ah Tai tidak berkeinginan untuk terjun langsung dalam dunia Din Tao, ia ingin mencari uang dan melanjutkan studinya ke Amerika. Namun karena suatu hal yang tak dapat ia Ingkari, ia harus berusaha keras mengembangkan pertunjukan Din Tao itu.

Berawal dari saat ayahnya menghampiri seorang yang menitipkan anaknya , dia juga mengeluh sudah banyak sekolah yang tidak sanggup menjaga Lízi. Apalagi Lizi memang menyandang kebutuhan khusus atau tidak normal, namun justru Lizi lah yang nanti menjadi penyemangat para anggota lain.
Secara kebetulan mereka bertemu dengan Ah Tai yang sedang ikut sebuah seni musik 西索米 (Xī suǒ mǐ). Ayah Ah Tai marah dengan apa yang di lakukan Ah Tai, sepanjang perjalanan pulang mereka terlihat saling beradu mulut. Bahkan saat mereka terpaksa mendorong kendaraannya yang mogok, mereka masih tampak saling menyalahkan. Hingga mereka bertemu dengan kelompok Ah Xian yang kemudian saling mengejek hingga terjadi perkelahian, perkelahian itu berakhir dengan Ah Tai yang berjanji memenangkan kontes Din Tao enam bulan ke depan. Mendengar janji Ah Tai tentu saja membuat kelompoknya kesal, apalagi mereka tahu siapa kelompok Ah Xian yang terkenal akan atraksinya. Dan terlebih bila mereka kalah, mereka harus meninggalkan Taichung
Ah Tai tidak menyerah, ia terus memberi semangat teman-temannya untuk tetap semangat. Walau berkali-kali mereka hampir menyerah dan terus mengeluh, apalagi Ah Xian sering kali mengejek latihan mereka. Namun Ah Tai terus berusaha mencari agar semangat teman-temanya kembali bangkit.
Di sinilah peran Lizi sangat keren menurutku, karena lelaki itu terus saja membuat semangat yang lain memabara, bahkan saat Ah Tai tidak ada, mereka melakukan pertunjukan yang cukup memukau.
Semangat mereka kembali bangkit, bahkan mereka melakukan latihan lebih extra, berjalan kaki sambil membawa alat tabuh. Di sela-sela latihan mereka juga ada pertunjukan Ah Xian yang cukup memukau.
Ah Tai dan teman-temanya semakin semangat berlatih, bahkan di sela-sela latihan mereka sempat bertemu seorang wartawan TV yang akhirnya terus meliput kegiatan mereka.
Melihat kelompok Ah Tai yang masuk TV tentu saja membuat Ah Xian kebakaran jenggot. Akhirnya mereka membuat tantangan lain, yaitu siapa yang dapat sampai lebih dulu di atas gunung adalah pemenangnya.
Karena sudah berlatih keras dan sering kali berjalan jauh, tentu saja kelompok Ah Tai terlihat lebih fit di banding kelompok Ah Xian yang sudah terlihat kelelahan. Bahkan saat naik gunung salah satu anggota Ah Xian sempat terjatuh, namun karena ambisinya untuk menang, membuat Ah Xian tidak perduku dan terus saja menaiki gunung. Kelompok Ah Tai yang melihat segera menolongnya, mereka tampak saling menolong ketika sampai di atas gunung, Ah Xian yang kegirangan karena berhasil sampai di atas terlebih dulu mulai sadar.
Dari situlah Ah Xian mengerti arti sebuah kebersamaan adalah untuk saling membantu, sehingga ia memutuskan untuk mulai berkolaborasi dengan kelompok Ah Tai. Mereka berdua terlihat kompak saling mengajari hal yang tidak mereka ketahui.
Di saat keduanya kompak untuk pertunjukan Din Tao, di sisi lain kedua orang tua mereka yang bermusuhan kini mulai bersatu menentang apa yang di lakukan keduanya. Mereka menganggap apa yang anak-anak mereka lakukan bukanlah Din Tao, mereka terlihat sangat kecewa dengan berbagai perubahan yang di lakukan keduanya.
Bahkan saat Ah Tai dan Ah Xian meminta restu sambil memberi tiket, kedua orang tua itu menolaknya dengan kasar. Bahkan di hari pertunjukan, kedua orang tua yang merasa kecewa itu lebih memilih diam di rumah daripada menonton pertunjukan anak-anaknya, hingga seorang guru sepuh mereka datang dan mulai menyadarkan keduanya.
Finally, mereka benar-benar menunjukkan pertunjukan keren yang telah di aransemen dari perpaduan tradisional dan moderen. Di akhir acara, atas inisiatif pembawa acaranya sehingga di layar di perlihatkan keluarga masing-masing dati para pemain. Rasa haru sekaligus bangga nampak jelas di setiap mata mereka, setidaknya mereka telah berhasil membuat pertunjukan yang memukau tanpa menghilangkan kesenian tradisional itu sendiri.
Itulah review film yang telah saya jabarkan, semoga bermanfaat
Minggu 4 Agustus 2019 12:12
Guisui, Taipe





tampaknya seru ya mba...sekarang sih 2nd role pasti ga sepenuhnya jahat yaa...
BalasHapusika - mamabaper.blogspot.com
Iya mbak, udah beda jaman .... makasih udah mampir ya... maaf masih acak”an nulisnya...
HapusIzin koreksi sedikit ya, Kak.
BalasHapusModern √
Tampak √
Btw, aku salfok sama ondel-ondel versi mereka yang mirip sama orang banget :)
Iya mbak makasih banget aku seneng kalau ada yang krisan gitu... iya...itu juga bisa di bilang wujud dewa mereka juga sih... makanya mau main itu juga gak sembarangan ... makasih sekali lagi udah mampir
Hapus